Gubernur takut teror di Solo merembet Ke Jabar
Rabu, 05 September 2012 - 03:02 WIB
Gubernur takut teror di Solo merembet Ke Jabar
A
A
A
Sindonews.com - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan mengaku khawatir situasi memanas di Kota Solo, Jawa Tengah, merembet ke Jabar. Terlebih Jabar berbatasan dengan Jateng.
"Kemarin Solo ada penembakan terhada polisi, dua orang meninggal, maka rentetannya kita khawatir ada di Jabar. Maka kita harus buru-buru ada deteksi dini atau tindakan dini," kata Gubernur, usai rapat tertutup Komunitas Intelijen Daerah (Kominda) se-Jabar, di Bandung, Selasa (4/9/2012).
Menurutnya, untuk mencegah kemungkinan teror merembet ke Jabar, diperlukan dukungan intelijen, khususnya kominda yang perannya mendeteksi gerakan teror sejak dini. Dalam rapat Kominda yang dihadiri intelijen dari unsur TNI/Polri dari Kabupaten/Kota Jabar itu, terorisme menjadi salah satu pokok bahasan.
"Terorisme harus kita berantas, harus kita habisi sampai ke akarnya sedapat mungkin kita lakukan. Jadi perlu deteksi dini atau tindakan dini apabila ada gejala-gejala terorisme," paparnya.
Seperti diketahui, terjadi penembakan terhadap pos polisi di Solo, Jawa Tengah, Kamis 30 Agustus malam lalu. Salah seorang polisi yang kritis akibat serangan itu, yakni Bripka Dwi Data, meninggal. Esok malamnya, Jumat 31 Agustus, Densus 88 Antiteror terlibat baku tembak dengan terduga teroris di Jalan Veteran, Solo.
Dalam peristiwa ini, dua terduga teroris tewas, yakni Farhan dan Mukhlis. Namun Densus 88 harus kehilangan anggotanya, yakni Bripda Suherman.
Sementara di Jabar, Densus 88 menangkap terduga teroris pria berinisial MK (30). Dia ditangkap di Kompleks Cluster Pawenang, RT 03/05, Kelurahan Cisaranten Binaharapan, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, Kamis 30 Agustus. Polri menyebut MK sebagai anggota jaringan teroris Medan.
"Kemarin Solo ada penembakan terhada polisi, dua orang meninggal, maka rentetannya kita khawatir ada di Jabar. Maka kita harus buru-buru ada deteksi dini atau tindakan dini," kata Gubernur, usai rapat tertutup Komunitas Intelijen Daerah (Kominda) se-Jabar, di Bandung, Selasa (4/9/2012).
Menurutnya, untuk mencegah kemungkinan teror merembet ke Jabar, diperlukan dukungan intelijen, khususnya kominda yang perannya mendeteksi gerakan teror sejak dini. Dalam rapat Kominda yang dihadiri intelijen dari unsur TNI/Polri dari Kabupaten/Kota Jabar itu, terorisme menjadi salah satu pokok bahasan.
"Terorisme harus kita berantas, harus kita habisi sampai ke akarnya sedapat mungkin kita lakukan. Jadi perlu deteksi dini atau tindakan dini apabila ada gejala-gejala terorisme," paparnya.
Seperti diketahui, terjadi penembakan terhadap pos polisi di Solo, Jawa Tengah, Kamis 30 Agustus malam lalu. Salah seorang polisi yang kritis akibat serangan itu, yakni Bripka Dwi Data, meninggal. Esok malamnya, Jumat 31 Agustus, Densus 88 Antiteror terlibat baku tembak dengan terduga teroris di Jalan Veteran, Solo.
Dalam peristiwa ini, dua terduga teroris tewas, yakni Farhan dan Mukhlis. Namun Densus 88 harus kehilangan anggotanya, yakni Bripda Suherman.
Sementara di Jabar, Densus 88 menangkap terduga teroris pria berinisial MK (30). Dia ditangkap di Kompleks Cluster Pawenang, RT 03/05, Kelurahan Cisaranten Binaharapan, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, Kamis 30 Agustus. Polri menyebut MK sebagai anggota jaringan teroris Medan.
(san)