Pelajar itu dikenal penurut dan pintar
Kamis, 30 Agustus 2012 - 13:53 WIB
Pelajar itu dikenal penurut dan pintar
A
A
A
Sindonews.com - Jasuli (16), pelajar SMP 06 Klender yang tewas tertabrak kereta Commuter Line di sekitar Stasiun Buaran Jakarta Timur ketika terlibat tawuran, Rabu 29 Agustus 2012, dikenal sebagai pribadi penurut dan cukup pintar.
Hal tersebut terungkap dari pernyataan sejumlah teman dan keluarga yang mengenal dekat korban selama ini.
"Waktu SD, dia dikenal sebagai anak yang pintar dan rajin mengerjakan tugas. Malah sering dapat peringkat lima besar di sekolah. Tapi namanya cowok ya, kadang sih suka bandel juga, ikut berantem atau tawuran," ujar Bintang (16), teman korban sewaktu sama-sama bersekolah di SDN 05 Pondok Kopi, Kamis (30/8/2012).
Warga Jalan Rawa Jaya, RT 007/04 , Pondok Kelapa, Duren Sawit ini memang diketahui beberapa hari belakangan sering pulang telat ke rumah. Namun tidak ada kecurigaan apapun dari sikap anak bungsu dari enam bersaudara tersebut untuk ikut-ikutan perbuatan konyol tersebut.
"Tiga hari terakhir ini dia memang baru pulang setelah lewat Maghrib. Saya sudah minta dia untuk pulang lebih cepat hari ini, tapi ternyata, dia malah pergi meninggalkan kami untuk selamanya," ucapnya Siya (47), Ibu kandung korban.
Tidak ada firasat khusus yang dirasakan Siya sebelum kematian anak lelakinya tersebut. Namun menurut wanita paruh baya ini, beberapa hari sebelum kejadian, korban sempat memaksa minta dibelikan sabun mandi yang harganya cukup mahal kepada dirinya.
"Saya tanya memang kenapa dengan sabun mandi yang biasa? Kok minta sabun yang lain, dia hanya menjawab ingin mandi dengan tubuh yang lebih harum dan bersih," kenangnya.
Kini keluarga hanya bisa pasrah merelakan anak yatim yang telah ditinggal bapaknya sejak sepuluh tahun tersebut untuk pergi selama-lamanya.
"Saya tak menyangka dia harus meninggal dengan kondisi seperti ini. Memang dia itu agak nakal semenjak ayahnya wafat 2002 lalu. Semoga dia bisa pergi dengan tenang, dan segala amal ibadahnya diterima di sisi-Nya," ungkap Siya yang sehari-hari berdagang warung kelontong di depan rumahnya ini.
Hal tersebut terungkap dari pernyataan sejumlah teman dan keluarga yang mengenal dekat korban selama ini.
"Waktu SD, dia dikenal sebagai anak yang pintar dan rajin mengerjakan tugas. Malah sering dapat peringkat lima besar di sekolah. Tapi namanya cowok ya, kadang sih suka bandel juga, ikut berantem atau tawuran," ujar Bintang (16), teman korban sewaktu sama-sama bersekolah di SDN 05 Pondok Kopi, Kamis (30/8/2012).
Warga Jalan Rawa Jaya, RT 007/04 , Pondok Kelapa, Duren Sawit ini memang diketahui beberapa hari belakangan sering pulang telat ke rumah. Namun tidak ada kecurigaan apapun dari sikap anak bungsu dari enam bersaudara tersebut untuk ikut-ikutan perbuatan konyol tersebut.
"Tiga hari terakhir ini dia memang baru pulang setelah lewat Maghrib. Saya sudah minta dia untuk pulang lebih cepat hari ini, tapi ternyata, dia malah pergi meninggalkan kami untuk selamanya," ucapnya Siya (47), Ibu kandung korban.
Tidak ada firasat khusus yang dirasakan Siya sebelum kematian anak lelakinya tersebut. Namun menurut wanita paruh baya ini, beberapa hari sebelum kejadian, korban sempat memaksa minta dibelikan sabun mandi yang harganya cukup mahal kepada dirinya.
"Saya tanya memang kenapa dengan sabun mandi yang biasa? Kok minta sabun yang lain, dia hanya menjawab ingin mandi dengan tubuh yang lebih harum dan bersih," kenangnya.
Kini keluarga hanya bisa pasrah merelakan anak yatim yang telah ditinggal bapaknya sejak sepuluh tahun tersebut untuk pergi selama-lamanya.
"Saya tak menyangka dia harus meninggal dengan kondisi seperti ini. Memang dia itu agak nakal semenjak ayahnya wafat 2002 lalu. Semoga dia bisa pergi dengan tenang, dan segala amal ibadahnya diterima di sisi-Nya," ungkap Siya yang sehari-hari berdagang warung kelontong di depan rumahnya ini.
(hyk)