Dukung Foke, PKS curhat di Twitter
Kamis, 16 Agustus 2012 - 08:16 WIB
Dukung Foke, PKS curhat di Twitter
A
A
A
Sindonews.com - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah menentukan sikapnya untuk mendukung pasangan calon gubernur (cagub) DKI Jakarta kepada Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) pada putaran kedua, dibanding Joko Widodo (Jokowi)-Basuki T Purnama (Ahok). Pasalnya, PKS memiliki alasan yang kuat untuk mendukung pasangan incumbent itu.
PKS telah mempertimbangkan secara matang, baik menghitung kelebihan maupun kelemahan kedua pasangan cagub dan cawagub DKI Jakarta yang lolos di putaran kedua itu. Termasuk urusan soal kontrak komitmen dengan PKS. Menurut Humas PKS Mardani Ali Sera, Jokowi memang mempunyai kelebihan, secara personal Wali Kota Solo itu sangat mengagumkan.
Menurutnya, dalam bekerja faktor pribadi tidak dapat dijadikan pertimbangan satu-satunya, banyak hal yang harus jadi bahan pertimbangan sehingga partai berlambang bulan sabit dan padi itu ahirnya mendukung Foke-Nara
"Kami ingin ada kesepakatan bersama antara PKS dengan Cagub, itu yang sulit diwujudkan," tulis Mardani seperti dikutip dari twitter @PKSejahtera, Rabu (15/8/2012)
Sedangkan Foke, lanjut Mardani, menerima pola kerja sama yang diajukan PKS. "Foke mau komitmen dengan pola kebersamaan," terangnya.
Katanya, Foke mau datang silaturahmi bukan hanya sekali ke PKS. Pihaknya bersama Foke telah melakukan pembahasan poin-poin secara lebih mendalam.
"Foke dan PKS bahas butir-butir yang akan mengikat bersama, menjaga DKI menjadi kota yang maju, sejahtera, dan religius," tuturnya.
Sementara Jokowi, tutur dia, saat ditawarkan kerja sama oleh PKS, tidak memberikan jawaban yang pasti. Saat undangan pertemuan kedua pun, pihak Jokowi tidak hadir.
"Jawaban Jokowi standar, katanya pihak mereka diskusikan dulu, Seolah-olah PKS kalau mau dukung monggo, tidak juga tak apa-apa," ungkap Mardani.
Faktor krusial lain, katanya, soal komitmen kandidat untuk menunaikan amanah hingga masa akhir jabatan. Foke, sambung dia, tegas menyetujui hal ini.
Namun, kata Mardhani, ada pun kemungkinan lain mengapa PKS akhirnya tak alihkan dukungan pada pasangan Jokowi-Ahok.
"Kemungkinan itu adalah PDI Perjuangan dan Gerindra tidak mau berbagai Jokowi dengan PKS. Artinya, PDIP dan Gerindra benar-benar ingin mencapkan kuku kekuasaan di Jakarta hanya untuk berdua saja," pungkasnya.
Lewat JokoWi, lanjutnya, kedua partai oposisi ini benar-benar ingin menguasai dan mengendalikan Ibu Kota Jakarta, nir-stakeholders yang lain.
"Atas sikap PDI Perjuangan dan Gerindra mengurung Jokowi ini pun dikabarkan membuat Jokowi kesal. Menurut sebagian pihak, pilihan PKS pada Foke sejatinya justru membuat siapapun yang menang maka rakyat Jakarta yang diuntungkan," katanya.
Pertama, lanjutnya, kalau Jokowi menang, maka PKS akan berperan sebagai 'Watchdog' atau pengawas dari kinerja pemerintahan Jokowi.
"Diawasi PKS nanti Jokowi tidak bisa lagi hanya bermain citra, tapi harus membuktikan dengan menghadirkan perubahan nyata. Rakyat Jakarta diuntungkan. Kalau tidak, maka PKS siap menghadang baik di gedung parlemen atau di parlemen jalanan," imbuhnya.
Kedua, kata dia, kalau Foke yang akhirnya menang, maka posisi PKS jelas sebagai 'mitra kritis' dengan posisi tawar yang tinggi.
Lebih lanjut dia menuturkan, di periode pemerintahan kedua nantinya, Foke wajib bertaubat atas dosa-dosa pemerintahannya dengan perbaiki kinerja secara total.
"Foke sudah nyatakan kesediaanya dengan menandatangani 'kontrak program' yang disodorkan PKS. Bahkan ada klausul evaluasi berkala," katanya.
PKS telah mempertimbangkan secara matang, baik menghitung kelebihan maupun kelemahan kedua pasangan cagub dan cawagub DKI Jakarta yang lolos di putaran kedua itu. Termasuk urusan soal kontrak komitmen dengan PKS. Menurut Humas PKS Mardani Ali Sera, Jokowi memang mempunyai kelebihan, secara personal Wali Kota Solo itu sangat mengagumkan.
Menurutnya, dalam bekerja faktor pribadi tidak dapat dijadikan pertimbangan satu-satunya, banyak hal yang harus jadi bahan pertimbangan sehingga partai berlambang bulan sabit dan padi itu ahirnya mendukung Foke-Nara
"Kami ingin ada kesepakatan bersama antara PKS dengan Cagub, itu yang sulit diwujudkan," tulis Mardani seperti dikutip dari twitter @PKSejahtera, Rabu (15/8/2012)
Sedangkan Foke, lanjut Mardani, menerima pola kerja sama yang diajukan PKS. "Foke mau komitmen dengan pola kebersamaan," terangnya.
Katanya, Foke mau datang silaturahmi bukan hanya sekali ke PKS. Pihaknya bersama Foke telah melakukan pembahasan poin-poin secara lebih mendalam.
"Foke dan PKS bahas butir-butir yang akan mengikat bersama, menjaga DKI menjadi kota yang maju, sejahtera, dan religius," tuturnya.
Sementara Jokowi, tutur dia, saat ditawarkan kerja sama oleh PKS, tidak memberikan jawaban yang pasti. Saat undangan pertemuan kedua pun, pihak Jokowi tidak hadir.
"Jawaban Jokowi standar, katanya pihak mereka diskusikan dulu, Seolah-olah PKS kalau mau dukung monggo, tidak juga tak apa-apa," ungkap Mardani.
Faktor krusial lain, katanya, soal komitmen kandidat untuk menunaikan amanah hingga masa akhir jabatan. Foke, sambung dia, tegas menyetujui hal ini.
Namun, kata Mardhani, ada pun kemungkinan lain mengapa PKS akhirnya tak alihkan dukungan pada pasangan Jokowi-Ahok.
"Kemungkinan itu adalah PDI Perjuangan dan Gerindra tidak mau berbagai Jokowi dengan PKS. Artinya, PDIP dan Gerindra benar-benar ingin mencapkan kuku kekuasaan di Jakarta hanya untuk berdua saja," pungkasnya.
Lewat JokoWi, lanjutnya, kedua partai oposisi ini benar-benar ingin menguasai dan mengendalikan Ibu Kota Jakarta, nir-stakeholders yang lain.
"Atas sikap PDI Perjuangan dan Gerindra mengurung Jokowi ini pun dikabarkan membuat Jokowi kesal. Menurut sebagian pihak, pilihan PKS pada Foke sejatinya justru membuat siapapun yang menang maka rakyat Jakarta yang diuntungkan," katanya.
Pertama, lanjutnya, kalau Jokowi menang, maka PKS akan berperan sebagai 'Watchdog' atau pengawas dari kinerja pemerintahan Jokowi.
"Diawasi PKS nanti Jokowi tidak bisa lagi hanya bermain citra, tapi harus membuktikan dengan menghadirkan perubahan nyata. Rakyat Jakarta diuntungkan. Kalau tidak, maka PKS siap menghadang baik di gedung parlemen atau di parlemen jalanan," imbuhnya.
Kedua, kata dia, kalau Foke yang akhirnya menang, maka posisi PKS jelas sebagai 'mitra kritis' dengan posisi tawar yang tinggi.
Lebih lanjut dia menuturkan, di periode pemerintahan kedua nantinya, Foke wajib bertaubat atas dosa-dosa pemerintahannya dengan perbaiki kinerja secara total.
"Foke sudah nyatakan kesediaanya dengan menandatangani 'kontrak program' yang disodorkan PKS. Bahkan ada klausul evaluasi berkala," katanya.
(mhd)