THR tak adil, tenaga medis RSUD Ciamis mogok
Rabu, 15 Agustus 2012 - 20:44 WIB
THR tak adil, tenaga medis RSUD Ciamis mogok
A
A
A
Sindonews.com - Gara-gara pembagian intensif tidak adil, ratusan perawat dan tenaga medis di RSUD Ciamis melakukan mogok kerja. Akibatnya, pelayanan di RSUD Ciamis lumpuh total.
Ratusan tenaga medis itu menolak memberikan pelayanan di RSUD Ciamis sejak pukul 08.00 WIB. Mereka lebih memilih berkerumun di halaman Gedung RSUD Ciamis sambil menyampaikan tuntutan.
Koordinator lapangan (korlap) aksi mogok tenaga teknis RSUD Ciamis Deni Wahyudi menyebutkan, aksi yang dilakukan terpaksa dilakukan untuk menyelesaikan persoalan yang sudah akut di RSUD Ciamis.
Menurut Deni, sebaik apapun kinerja yang dilakukan tenaga teknis di RSUD Ciamis tidak pernah ada penghargaan yang setimpal.
“Selama ini, kami merasa antara hak dan kewajiban yang diperoleh tenaga teknis di RSUD Ciamis tidak pernah ada unsur keadilan,” tegas Deni, Rabu (15/8/2012).
Deni mencontohkan, misalnya dalam perolehan insentif yang diterima sekitar 600 lebih tenaga teknis tidak sebanding dengan insentif yang diterima jajaran managemen RSUD Ciamis.
“Para tenaga teknis yang berjumlah 600 lebih, yang terdiri dari 400 PNS dan 200 honorer hanya mendapat insentif atau tunjangan Rp200 ribu. Namun, untuk bagian manajemen, sebagai contoh Direktur RSUD Ciamis mencapai Rp70 juta atau Kabag Tata Usaha juga mencapai Rp70 juta,” tegas Deni.
Direktur RSUD Ciamis Widyaningsih Notomuliono menyesalkan, aksi mogok yang dilakukan tenaga teknis sampai menganggu pelayanan di RSUD Ciamis. “Sebaiknya setiap persoalan bisa diselesaikan terlebih dahulu degan cara dialog atau musyawarah,” kata Widyaningsih.
Dia berharap, para tenaga teknis bisa kembali bekerja sementara persoalan tersebut akan dibahas di tingkat manajemen untuk menjadi perhatian. Namun, upaya klarifikasi dan permintaan Direktur RSUD Ciamis malah mendapat sorakan dari ratusan tenaga teknis.
Massa menilai, upaya dialog yang dilakukan oleh tenaga teknis sudah hampir berlangusng tiga kali namun tidak ada respon baik dari manajemen.
Wakil Ketua DPR Ciamis Gandjar M Yusuf didampingi Ketua Komisi IV DPRD Ciamis mencoba menengahi kondisi tersebut. Gandjar menegaskan, apa yang dilakukan oleh perawat dan tenaga medis merupakan aksi yang wajar dari berbagai akumulasi kekecewaan.
“Namun, saya meminta aksi yang dilakukan tidak boleh sampai menganggu pelayanan RSUD Ciamis. Saya bukan melarang demo, tapi semua pihak harus berbicara dengan hati nurani,” tegas Gandjar.
Aksi mogok yang dilakukan perawat dan tenaga medis membuat pelayanan RSUD Ciamis mengalami lumpuh total. Akibatnya banyak pasien yang mengeluhkan aksi tersebut karena tidak terlayani.
Antrean pasien juga tampak di Ruang Pendaftaran Rawat Inap dan Rawat Jalan RSUD Ciamis.
Hendar (36), warga Cijeungjing Ciamis mengeluhkan, akibat aksi mogok dirinya harus menunggu berjam-jam untuk mendaftarkan saudaranya yang sakit. Menurut Hendar, biasanya saat hendak berobat ke RSUD Ciamis sekira pukul 08.00 WIB, loket pendaftaran sudah dibuka.
“Namun, sudah hampir dua jam saya menunggu loket pendaftaran tidak kunjung di buka. Terus terang saya juga ikut kesal,” kata Hendar.
Hendar berharap, persoalan internal bisa diselesaikan tanpa mengorbankan masyarakat. Menurut dia, kasihan banyak orang yang sakit dibanding saudara saya tapi tidak terlayani.
“Mereka merasa ditelantarkan. Kondisi ini juga harus menjadi perhatian bersama,” pungkas Hendar.
Ratusan tenaga medis itu menolak memberikan pelayanan di RSUD Ciamis sejak pukul 08.00 WIB. Mereka lebih memilih berkerumun di halaman Gedung RSUD Ciamis sambil menyampaikan tuntutan.
Koordinator lapangan (korlap) aksi mogok tenaga teknis RSUD Ciamis Deni Wahyudi menyebutkan, aksi yang dilakukan terpaksa dilakukan untuk menyelesaikan persoalan yang sudah akut di RSUD Ciamis.
Menurut Deni, sebaik apapun kinerja yang dilakukan tenaga teknis di RSUD Ciamis tidak pernah ada penghargaan yang setimpal.
“Selama ini, kami merasa antara hak dan kewajiban yang diperoleh tenaga teknis di RSUD Ciamis tidak pernah ada unsur keadilan,” tegas Deni, Rabu (15/8/2012).
Deni mencontohkan, misalnya dalam perolehan insentif yang diterima sekitar 600 lebih tenaga teknis tidak sebanding dengan insentif yang diterima jajaran managemen RSUD Ciamis.
“Para tenaga teknis yang berjumlah 600 lebih, yang terdiri dari 400 PNS dan 200 honorer hanya mendapat insentif atau tunjangan Rp200 ribu. Namun, untuk bagian manajemen, sebagai contoh Direktur RSUD Ciamis mencapai Rp70 juta atau Kabag Tata Usaha juga mencapai Rp70 juta,” tegas Deni.
Direktur RSUD Ciamis Widyaningsih Notomuliono menyesalkan, aksi mogok yang dilakukan tenaga teknis sampai menganggu pelayanan di RSUD Ciamis. “Sebaiknya setiap persoalan bisa diselesaikan terlebih dahulu degan cara dialog atau musyawarah,” kata Widyaningsih.
Dia berharap, para tenaga teknis bisa kembali bekerja sementara persoalan tersebut akan dibahas di tingkat manajemen untuk menjadi perhatian. Namun, upaya klarifikasi dan permintaan Direktur RSUD Ciamis malah mendapat sorakan dari ratusan tenaga teknis.
Massa menilai, upaya dialog yang dilakukan oleh tenaga teknis sudah hampir berlangusng tiga kali namun tidak ada respon baik dari manajemen.
Wakil Ketua DPR Ciamis Gandjar M Yusuf didampingi Ketua Komisi IV DPRD Ciamis mencoba menengahi kondisi tersebut. Gandjar menegaskan, apa yang dilakukan oleh perawat dan tenaga medis merupakan aksi yang wajar dari berbagai akumulasi kekecewaan.
“Namun, saya meminta aksi yang dilakukan tidak boleh sampai menganggu pelayanan RSUD Ciamis. Saya bukan melarang demo, tapi semua pihak harus berbicara dengan hati nurani,” tegas Gandjar.
Aksi mogok yang dilakukan perawat dan tenaga medis membuat pelayanan RSUD Ciamis mengalami lumpuh total. Akibatnya banyak pasien yang mengeluhkan aksi tersebut karena tidak terlayani.
Antrean pasien juga tampak di Ruang Pendaftaran Rawat Inap dan Rawat Jalan RSUD Ciamis.
Hendar (36), warga Cijeungjing Ciamis mengeluhkan, akibat aksi mogok dirinya harus menunggu berjam-jam untuk mendaftarkan saudaranya yang sakit. Menurut Hendar, biasanya saat hendak berobat ke RSUD Ciamis sekira pukul 08.00 WIB, loket pendaftaran sudah dibuka.
“Namun, sudah hampir dua jam saya menunggu loket pendaftaran tidak kunjung di buka. Terus terang saya juga ikut kesal,” kata Hendar.
Hendar berharap, persoalan internal bisa diselesaikan tanpa mengorbankan masyarakat. Menurut dia, kasihan banyak orang yang sakit dibanding saudara saya tapi tidak terlayani.
“Mereka merasa ditelantarkan. Kondisi ini juga harus menjadi perhatian bersama,” pungkas Hendar.
(ysw)