Isu SARA punya pengaruh di kalangan bawah
Sabtu, 11 Agustus 2012 - 19:56 WIB
Isu SARA punya pengaruh di kalangan bawah
A
A
A
Sindonews.com - Isu Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA) diyakini masih berpengaruh di lapisan masyarakat bawah. Walaupun, masyarakat menengah ke atas sudah tidak terpengaruh.
Ketua fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan Jakfar meyakini isu SARA tidak mempan bagi kalangan menengah ke atas, tapi untuk kalangan masyarakat tradisional isu SARA masih mempan untuk memprovokasi salah satu pasangan calon.
"Di level masyrakat tradisional pasti berpengaruh, mungkin bagi piggiran Jakarta, masyarakat tradisonal mungkin terprovokosi," kata Marwan saat diskusi di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (11/8/2012).
Bagi Rakyat Jakarta, lanjut Marwan, isu SARA sangat tidak mempan, pasalnya sudah mempunyai pilihan rasional. Rakyat ibu kota memilih pemimpin karena memakai pendekatan program kerja."pendekatannya bukan kualitatif tapi program," kata Marwan.
Bergulirnya isu SARA di pilkada DKI pada putaran kedua tidak akan mengungtungkan salah satu pasangan calon yakni pasangan Foke-Nara-Jokowi-Ahok.
"Duanya tidak diuntungkan, satunya seakan mendorong satunya lagi seakan merasa dikorbankan," pungkasnya.
Ketua fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan Jakfar meyakini isu SARA tidak mempan bagi kalangan menengah ke atas, tapi untuk kalangan masyarakat tradisional isu SARA masih mempan untuk memprovokasi salah satu pasangan calon.
"Di level masyrakat tradisional pasti berpengaruh, mungkin bagi piggiran Jakarta, masyarakat tradisonal mungkin terprovokosi," kata Marwan saat diskusi di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (11/8/2012).
Bagi Rakyat Jakarta, lanjut Marwan, isu SARA sangat tidak mempan, pasalnya sudah mempunyai pilihan rasional. Rakyat ibu kota memilih pemimpin karena memakai pendekatan program kerja."pendekatannya bukan kualitatif tapi program," kata Marwan.
Bergulirnya isu SARA di pilkada DKI pada putaran kedua tidak akan mengungtungkan salah satu pasangan calon yakni pasangan Foke-Nara-Jokowi-Ahok.
"Duanya tidak diuntungkan, satunya seakan mendorong satunya lagi seakan merasa dikorbankan," pungkasnya.
(azh)