Tekan golput, KPU dekati pemilih pemula

Jum'at, 10 Agustus 2012 - 08:42 WIB
Tekan golput, KPU dekati...
Tekan golput, KPU dekati pemilih pemula
A A A
Sindonews.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta terus melakukan upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat pada putaran kedua mendatang. Pemilih pemula menjadi sasaran agar bisa datang ke TPS.

Pada putaran pertama lalu, angka golput mencapai 36,3 persen dari 6.962.348 warga yang tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT). Anggota KPU DKI Jakarta Jamaludin F Hasyim mengatakan, salah satu cara untuk meningkatkan partisipasi pemilih di putaran kedua, yakni dengan mengajak para pemilih pemula untuk menggunakan hak suara pada hari pemilihan.

Untuk itulah, KPU sosialisasi ke sekolah dan kampus melalui program bertema back to school, dan back to campus. Melalui program ini, KPU memberikan penjelasan kepada siswa atau mahasiswa bahwa hak politik di pesta demokrasi ini sangat penting.

Bagi warga negara yang menggunakan hak politiknya, berarti mereka telah berpartisipasi membangun kemajuan demokrasi di negara. “Dengan satu pilihan, sangat memengaruhi nasib daerah atau bangsa di lima tahun mendatang,” kata Jamaluddin, di Jakarta, Kamis 9 Agustus 2012.

Adapun metode program sosialisasi ini, yakni pihak KPU mendatangi beberapa sekolah di wilayah DKI Jakarta untuk menyosialisasikan pilkada. Biasanya sekolah yang dikunjungi itu berada di daerah yang partisipasi pemilih rendah.

“Diharapkan daerah yang rendah partisipasinya dapat ditopang oleh pemilih pemula ini,” ujarnya.

Selain KPU, sosialisasi untuk merangkul pemilih pemula menggunakan hak suaranya dapat dilakukan oleh masyarakat, yakni lembaga pemantau, lembaga swadaya masyarakat (LSM), mahasiswa, dan pegiat pemilu. “Kalau pihak luar melakukan sosialisasi, KPU hanya sebagai pembicara. Itu kalau diundang. Kadang ada juga sosialisasi dilakukan oleh masyarakat dengan menghadirkan para cagub nya,” terangnya.

Pemilih pemula itu merupakan warga negara berusia 17 tahun saat hari pemilihan, atau baru pertama kali menggunakan hak pilihnya dalam pemilu atau telah menikah. Pemilih pemula terdiri atas pelajar, mahasiswa, dan pemuda. Khusus untuk putaran kedua, pemilih pemula yakni mereka yang berusia 17 tahun pada 11 Juli 2012.

Meski pemilihan di putaran kedua dilakukan pada 20 September 2012 mendatang, bukan berarti pemilih berusia minimal 17 tahun pada 20 September 2012 bisa memilih.

“Putaran dua ini merupakan lanjutan dari putaran pertama. Artinya orang yang memiliki hak memilih itu berusia minimal 17 tahun di 11 Juli 2012,” tandas mantan Ketua Panwaslu DKI Jakarta 2007 ini.

Ada beberapa syarat untuk terdaftar menjadi pemilih dalam pilkada, yakni berusia 17 tahun atau lebih atau sudah dan pernah kawin, tidak sedang terganggu jiwanya, terdaftar sebagai pemilih, bukan anggota TNI atau Polri, tidak sedang dicabut hak pilihnya, terdaftar dalam DPT untuk pilkada, dan berdomisili sekurang-kurangnya selama enam bulan di daerah tempat tinggalnya.

Dia berharap pemilih pemula ini menjadi pemilih cerdas. Pemilih ini menggunakan hak suaranya dengan cara rasional. Artinya tidak sembarangan menjatuhkan pilihan kepada salah satu calon gubernur. Pemilih ini harus mengetahui karakteristik dan rekam jejak si kandidat itu sendiri.

Ketua Panwaslu DKI Jakarta Ramdansyah menuturkan, pemilih pemula sangat penting untuk mengetahui kualitas pilkada. Biasanya pemilih ini lebih melihat rekam jejak dan karakteristik kandidat yang akan dipilihnya.

Sementara itu, Ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Wahyu Dinata menyatakan selama ini KPU DKI Jakarta sering melakukan sosialisasi kepada pemilih. Hanya untuk sosialisasi di pemilih pemula, KPU kerap mengemas kegiatannya cenderung formal, sehingga membuat para siswa dan mahasiswa, golongan pemilih pemula ini, tidak antusias dengan pilkada, bahkan untuk menghadiri sosialisasi saja juga enggan.

“Selama ini metode KPU mengundang calon pemilih,” ujarnya.

Wahyu Dinata mengungkapkan, KIPP selama ini juga ikut berpartisipasi melakukan sosialisasi kepada pemilih pemula untuk menggunakan hak suaranya pada hari pemilihan. Dia menyebutkan pola yang digunakan KIPP ketika sosialisasi menggunakan materi yang lebih sederhana dan ringan. Cara tersebut dianggap lebih mudah diterima oleh siswa sekolah atau mahasiswa.

Salah satu materi yang cukup membuat antusias pemilih pemula ini mau datang ke TPS, yakni menyodorkan kebutuhan dari pemilih pemula tersebut, seperti persoalan pendidikan. “Di sosialisasi itu, kita berdiskusi dengan pemilih ini seperti apa pendidikan yang diinginkan,” tandas Wahyu.
(lil)
Berita Terkait
Noer Fajrieansyah Didorong...
Noer Fajrieansyah Didorong Maju Pilgub DKI Jakarta 2024
Respons PAN soal Kaesang...
Respons PAN soal Kaesang Bakal Maju Pilgub DKI: Semua Punya Hak
Ditanya Mau Jadi Gubernur,...
Ditanya Mau Jadi Gubernur, Wagub Ariza: Kita Lagi Mikirin Omicron
Pemuda Pancasila Deklarasi...
Pemuda Pancasila Deklarasi Dukung Anies Baswedan di Pilgub Jakarta
Demokrat Pamer Jagoan...
Demokrat Pamer Jagoan Pilgub DKI, Golkar: Pilkadanya Tahun 2024, Masih Jauh
DPD Hanura Sodorkan...
DPD Hanura Sodorkan Nama Djafar Badjeber Cawagub Jakarta, Ketua DPW Perindo: Kita Sambut Baik
Berita Terkini
Kronologi JPO Tendean...
Kronologi JPO Tendean Ditabrak Truk Pengangkut Alat Berat hingga Nyaris Ambruk
25 menit yang lalu
JPO Tendean yang Ditabrak...
JPO Tendean yang Ditabrak Truk Belum Dievakuasi, Polisi Tunggu Pengerahan Alat Berat
1 jam yang lalu
Universitas Yarsi Dorong...
Universitas Yarsi Dorong Budidaya Perikanan melalui Inovasi POC di Desa Mandalamekar
1 jam yang lalu
Rumah di Koja Jakarta...
Rumah di Koja Jakarta Utara Kebakaran, Diawali Suara Ledakan
1 jam yang lalu
Truk Crane Tabrak JPO...
Truk Crane Tabrak JPO di Tendean, Lalu Lintas Menuju Blok M Macet Parah
2 jam yang lalu
Gunung Semeru Kembali...
Gunung Semeru Kembali Erupsi Pagi Ini, PVMBG: Waspadai Awan Panas dan Guguran Lava
3 jam yang lalu
Infografis
Tindak Asusila Hasyim...
Tindak Asusila Hasyim Asyari Berujung Pemecatan sebagai Ketua KPU
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved