Pelaku perampokan THR Rp2 M terus diburu
Kamis, 09 Agustus 2012 - 09:17 WIB
Pelaku perampokan THR Rp2 M terus diburu
A
A
A
Sindonews.com - Kasat Reskrim Polresta Palembang Kompol Djoko Julianto menuturkan, kasus pencurian menggunakan senjata api (senpi) yang menggasak uang Rp2,1 miliar milik PT Rasellindo Putra Prima (RPP) tergolong kriminal murni.
“Kami belum bisa menjawab apakah ada keterlibatan orang dalam atau motif baru dalam kasus pencurian ini. Kasusnya masih dalam penyelidikan dan belum menemukan keterangan jelas,” katanya saat ditemui SINDO di ruang kerjanya, Rabu 8 Agustus 2012.
Djoko mengatakan berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun polisi di tempat kejadian perkara (TKP), saksi sudah melihat kendaraan yang digunakan dua pelaku untuk kabur sebelum aksi perampokan terjadi.
Bermodal keterangan itu,penyidik menilai aksi perampokan tergolong kriminal murni. “Kita mendapatkan keterangan saksi di TKP, salah satu pelaku sebelumnya sudah berada di sana. Sebab, mereka melihat kendaraan yang sebelumnya sudah terparkir di TKP merupakan kendaraan salah satu pelaku. Walaupun masih dini untuk menebak, saya kira modusnya perampokan murni,” katanya.
Saat ini penyidik dari Polresta Palembang sudah memeriksa tujuh saksi, termasuk tukang ojek yang mengejar pelaku menggunakan motor pribadinya. “Pelaku masih samarsamar karena saksi hanya menjelaskan pelaku menggunakan motor bebek. Jenisnya mereka tidak jelas mengutarakan. Setelah kami tanya nomor pelat kendaraan, saksi juga tidak mengetahui,” ujar Djoko.
Ke depan masyarakat diimbau berhati-hati saat melakukan transaksi penarikan uang dalam jumlah besar dan sebaiknya meminta pengawalan polisi. “Apalagi mendekati Lebaran biasanya dijadikan momen oleh para penjahat untuk mencari korban,” pungkasnya.
Sementara itu, Pjs Kabid Humas Polda Sumsel AKBP R Djarod Padakova menyayangkan Kantor PT RPP tidak memiliki sistem closed circuit television( CCTV) sehingga membuat pelaku leluasa melakukan aksinya.
“Paling tidak satu atau dua harus ada CCTV, baik di ruangan dalam maupun di depan kantor. Apalagi, perputaran uang di kantor itu besar sehingga pemasangan CCTV jelas sangat membantu polisi jika terjadi peristiwa yang tak diinginkan seperti perampokan,” ujarnya.
Keberadaan CCTV, kata dia, membuat pelaku berpikir ulang melakukan aksinya secara terbuka di tempat umum karena terdapat kamera yang mengawasi. ”Paling tidak bisa mengetahui wajah para pelakunya kalau pelaku tidak memakai topeng atau helm. Lokasi pemasangan CCTV bisa dirahasiakan sehingga karyawan atau orang di luar kantor tidak tahu posisi CCTV dipasang,” katanya.
Mengenai perkembangan penyelidikan, kata dia, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel tetap membantu melakukan penangkapan.“Kita optimistis pelaku perampokan segera ditangkap sehingga kita semua dapat mengetahui motifnya,”pungkasnya.
Kriminolog Palembang, Syarifuddin Petanase SH MH, sepakat aksi perampokan bersenjata api (senpi) yang menggasak uang Rp2,1 miliar milik PT Rasellindo Putra Prima (RPP) murni tindakan kriminal. Aksi kejahatan tersebut sudah direncanakan karena pelaku mengetahui jadwal dan kedatangan uang setelah diambil dari bank.
“Saya yakin itu sudah direncanakan jauh-jauh hari. Pelaku pastinya sangat terlatih karena sudah mempelajari suasana di lokasi kejadian dan teknis eksekusi perampokan dirancang secara matang,” katanya.
Mengenai sering terjadinya aksi perampokan,hal itu akibat minimnya jasa pengamanan terlatih dan tidak menyertakan aparat kepolisian. “Yang sering terjadi sekarang, banyak pebisnis atau pengusaha tidak mengindahkan pentingnya aparat keamanan. Mereka sering melupakan tenaga keamanan saat mengambil uang hingga sampai tujuan,” katanya.
Padahal, menggunakan jasa polisi membuat keamanan lebih maksimal dan tidak harus menyewa dari Polresta karena sebagian bank sudah menyediakan jasa keamanan yang dapat membantu mengawal nasabah jika membawa uang dalam jumlah besar.
“Kalau jumlahnya lebih dari Rp2 miliar seperti itu sebaiknya menggunakan jasa pengawalan dari aparat kepolisian secara langsung,” paparnya.
Sementara itu, Psikolog Adi Suharyono, mengatakan, maraknya tindakan kriminal menjelang Lebaran secara umum dipicu rasa gerah untuk mendapatkan uang lebih.
“Ini mungkin efek dari kota besar dan kota metropolitan Palembang yang kian maju,” katanya.
“Kami belum bisa menjawab apakah ada keterlibatan orang dalam atau motif baru dalam kasus pencurian ini. Kasusnya masih dalam penyelidikan dan belum menemukan keterangan jelas,” katanya saat ditemui SINDO di ruang kerjanya, Rabu 8 Agustus 2012.
Djoko mengatakan berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun polisi di tempat kejadian perkara (TKP), saksi sudah melihat kendaraan yang digunakan dua pelaku untuk kabur sebelum aksi perampokan terjadi.
Bermodal keterangan itu,penyidik menilai aksi perampokan tergolong kriminal murni. “Kita mendapatkan keterangan saksi di TKP, salah satu pelaku sebelumnya sudah berada di sana. Sebab, mereka melihat kendaraan yang sebelumnya sudah terparkir di TKP merupakan kendaraan salah satu pelaku. Walaupun masih dini untuk menebak, saya kira modusnya perampokan murni,” katanya.
Saat ini penyidik dari Polresta Palembang sudah memeriksa tujuh saksi, termasuk tukang ojek yang mengejar pelaku menggunakan motor pribadinya. “Pelaku masih samarsamar karena saksi hanya menjelaskan pelaku menggunakan motor bebek. Jenisnya mereka tidak jelas mengutarakan. Setelah kami tanya nomor pelat kendaraan, saksi juga tidak mengetahui,” ujar Djoko.
Ke depan masyarakat diimbau berhati-hati saat melakukan transaksi penarikan uang dalam jumlah besar dan sebaiknya meminta pengawalan polisi. “Apalagi mendekati Lebaran biasanya dijadikan momen oleh para penjahat untuk mencari korban,” pungkasnya.
Sementara itu, Pjs Kabid Humas Polda Sumsel AKBP R Djarod Padakova menyayangkan Kantor PT RPP tidak memiliki sistem closed circuit television( CCTV) sehingga membuat pelaku leluasa melakukan aksinya.
“Paling tidak satu atau dua harus ada CCTV, baik di ruangan dalam maupun di depan kantor. Apalagi, perputaran uang di kantor itu besar sehingga pemasangan CCTV jelas sangat membantu polisi jika terjadi peristiwa yang tak diinginkan seperti perampokan,” ujarnya.
Keberadaan CCTV, kata dia, membuat pelaku berpikir ulang melakukan aksinya secara terbuka di tempat umum karena terdapat kamera yang mengawasi. ”Paling tidak bisa mengetahui wajah para pelakunya kalau pelaku tidak memakai topeng atau helm. Lokasi pemasangan CCTV bisa dirahasiakan sehingga karyawan atau orang di luar kantor tidak tahu posisi CCTV dipasang,” katanya.
Mengenai perkembangan penyelidikan, kata dia, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel tetap membantu melakukan penangkapan.“Kita optimistis pelaku perampokan segera ditangkap sehingga kita semua dapat mengetahui motifnya,”pungkasnya.
Kriminolog Palembang, Syarifuddin Petanase SH MH, sepakat aksi perampokan bersenjata api (senpi) yang menggasak uang Rp2,1 miliar milik PT Rasellindo Putra Prima (RPP) murni tindakan kriminal. Aksi kejahatan tersebut sudah direncanakan karena pelaku mengetahui jadwal dan kedatangan uang setelah diambil dari bank.
“Saya yakin itu sudah direncanakan jauh-jauh hari. Pelaku pastinya sangat terlatih karena sudah mempelajari suasana di lokasi kejadian dan teknis eksekusi perampokan dirancang secara matang,” katanya.
Mengenai sering terjadinya aksi perampokan,hal itu akibat minimnya jasa pengamanan terlatih dan tidak menyertakan aparat kepolisian. “Yang sering terjadi sekarang, banyak pebisnis atau pengusaha tidak mengindahkan pentingnya aparat keamanan. Mereka sering melupakan tenaga keamanan saat mengambil uang hingga sampai tujuan,” katanya.
Padahal, menggunakan jasa polisi membuat keamanan lebih maksimal dan tidak harus menyewa dari Polresta karena sebagian bank sudah menyediakan jasa keamanan yang dapat membantu mengawal nasabah jika membawa uang dalam jumlah besar.
“Kalau jumlahnya lebih dari Rp2 miliar seperti itu sebaiknya menggunakan jasa pengawalan dari aparat kepolisian secara langsung,” paparnya.
Sementara itu, Psikolog Adi Suharyono, mengatakan, maraknya tindakan kriminal menjelang Lebaran secara umum dipicu rasa gerah untuk mendapatkan uang lebih.
“Ini mungkin efek dari kota besar dan kota metropolitan Palembang yang kian maju,” katanya.
(azh)