Putaran kedua Golkar netral?
Selasa, 07 Agustus 2012 - 16:00 WIB
Putaran kedua Golkar netral?
A
A
A
Sindonews.com - Pada putaran kedua Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta yang akan digelar 20 September 2012 nanti, DPP Partai Golkar tidak akan mendukung pasangan Gubenur Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara), atau Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Hal tersebut untuk menghindari Partai berlambang pohon beringin tersebut dari persepsi transaksional, atau persepsi yang negatif.
Hal itu disampaikan oleh Ketua DPP Partai GOlkar Hajriyanto Y Thohari, saat dihubungi oleh wartawan, di Jakarta, Selasa (7/8/2012).
"Menghindari prasangka adanya politik transaksional dengan cagub atau parpol tertentu," terangnya.
Masyarakat Jakarta mempunyai tipikal memilih pemimpin dengan pertimbangan yang sangat Rasional, ketika jagoannya sudah tidak bertarung untuk merebutkan kursi gubernur DKI Jakarta maka parpol sebaiknya menyerahkan ke konstituennya.
"Pemikiran bahwa untuk Pilkada DKI Jakarta yang memiliki pemilih dengan karakter bebas, rasional, dan political atau Ideological cair sikap partai yang paling pas adalah membebaskan warganya dalam memilih," ujarnya.
Menyerahkan pada pemilih merupakan sikap yang sangat realistis untuk menentukan pilihannya. "Itu sikap yang paling realistis dan rasional," pungkasnya.
Sebelumnya, Golkar memiliki calon untuk merebutkan kursi DKI I Alex Noerdin-Nono Sampono. Namun, nomor urut enam itu tidak lolos pada putaran pertama yang hanya meraup suara 136.954 atau 4.55 persen.
Sekedar diketahui, dari hasil real count yang dilakukan Panitia pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI Jakarta pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama meraih 1,10 juta suara, mengungguli pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli yang memperoleh 966.032 suara.
Di posisi ketiga, pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini meraih 326.674 suara, disusul pasangan Faisal Basri-Biem Benjamin dengan 175.894 suara. Sementara Alex Noerdin-Nono Sampono menempati posisi kelima dengan 136.954 suara, dan Hendardji Soepandji-A Riza Patria meraih 94.427 suara.
Hal tersebut untuk menghindari Partai berlambang pohon beringin tersebut dari persepsi transaksional, atau persepsi yang negatif.
Hal itu disampaikan oleh Ketua DPP Partai GOlkar Hajriyanto Y Thohari, saat dihubungi oleh wartawan, di Jakarta, Selasa (7/8/2012).
"Menghindari prasangka adanya politik transaksional dengan cagub atau parpol tertentu," terangnya.
Masyarakat Jakarta mempunyai tipikal memilih pemimpin dengan pertimbangan yang sangat Rasional, ketika jagoannya sudah tidak bertarung untuk merebutkan kursi gubernur DKI Jakarta maka parpol sebaiknya menyerahkan ke konstituennya.
"Pemikiran bahwa untuk Pilkada DKI Jakarta yang memiliki pemilih dengan karakter bebas, rasional, dan political atau Ideological cair sikap partai yang paling pas adalah membebaskan warganya dalam memilih," ujarnya.
Menyerahkan pada pemilih merupakan sikap yang sangat realistis untuk menentukan pilihannya. "Itu sikap yang paling realistis dan rasional," pungkasnya.
Sebelumnya, Golkar memiliki calon untuk merebutkan kursi DKI I Alex Noerdin-Nono Sampono. Namun, nomor urut enam itu tidak lolos pada putaran pertama yang hanya meraup suara 136.954 atau 4.55 persen.
Sekedar diketahui, dari hasil real count yang dilakukan Panitia pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI Jakarta pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama meraih 1,10 juta suara, mengungguli pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli yang memperoleh 966.032 suara.
Di posisi ketiga, pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini meraih 326.674 suara, disusul pasangan Faisal Basri-Biem Benjamin dengan 175.894 suara. Sementara Alex Noerdin-Nono Sampono menempati posisi kelima dengan 136.954 suara, dan Hendardji Soepandji-A Riza Patria meraih 94.427 suara.
(mhd)