Partai Golkar tidak solid
Selasa, 07 Agustus 2012 - 08:39 WIB
Partai Golkar tidak solid
A
A
A
Sindonews.com - Dukungan DPD I Partai Golkar DKI Jakarta ke pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) pada putaran kedua nanti masih menyisakan masalah. Internal parpol berlambang pohon beringin itu belum satu suara.
Diprediksi dukungan Golkar ke Foke-Nara tidak utuh. Penyebabnya, DPP Partai Golkar geram terhadap DPD I yang memilih sikap berseberangan. Pasalnya, jauh-jauh hari DPP Partai Golkar sudah memutuskan untuk bersikap netral pada putaran kedua.
Wakil Sekjen DPP Partai Golkar Nurul Arifin mengatakan, piaknya sudah tegas memberikan kebebasan pilihan bagi kader pada putaran kedua 20 September mendatang.
“DPP dalam hal ini sudah memberikan anjuran yang jelas, yaitu membebaskan pemilihnya dalam pilgub putaran kedua,” kata Nurul di Jakarta, Senin 6 Agustus 2012.
Menurut Nurul, jika DPP telah memutuskan untuk tidak mendukung salah satu pasangan, seharusnya DPD I mengikuti sikap tersebut, sebab tidak diperbolehkan sikap politik yang berbeda antara DPD dan DPP. “Seharusnya tidak bisa. Tapi melihat yang terjadi di DKI memang sangat unusual, sangat istimewa, kasuistis," tegasnya.
Karena itu, meskipun DPD I telah menyatakan dukungan kepada Foke-Nara, pengurus DPP Partai Golkar tetap memberi kebebasan kepada seluruh masyarakat untuk memilih siapa pasangan yang mereka inginkan.
“Kami mempersilakan saja konstituen Golkar untuk memutuskan. Pada dasarnya, pemilih DKI lebih kritis dan rasional. Jadi tidak masalah,” pungkasnya.
Sebelumnya, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) mengatakan, partainya menyerahkan sepenuhnya kepada rakyat Ibu Kota untuk memilih calon gubernur dan wakil gu bernurnya. "Ke rakyat. Saya serahkan saja kepada pemilih," kata Ical seusai melaksanakan acara buka puasa di Kantor DPP Partai Golkar.
Ical berharap dengan tidak adanya arah dukungan ke salah satu pasangan cagub, kader Partai Golkar bisa bebas untuk memberikan dukungannya. "Biar aja rakyat. Saya harapkan mereka datang ramai-ramai ke tempat pemungutan suara memberikan suaranya,” sambungnya.
Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Tohari menambahkan, sikap netral tersebut sudah berdasarkan kajian secara mendalam. "Partai tidak akan berikan dukungan secara resmi kepada calon gubernur yang mana pun,” tegas Hajriyanto.
Keputusan tersebut diambil karena partai berlambang pohon beringin ini menganggap bahwa jika melihat hasil putaran pertama, mayoritas pemilih di Jakarta telah menggunakan hak pilihnya secara rasional dan independen yang disertai dengan pandangan politik sendiri-sendiri.
Sementara itu, cagub Joko Widodo (Jokowi) tidak gentar dengan banyaknya parpol yang merapat ke Foke-Nara. Menurut dia, berapa pun parpol yang mendukung, semuanya bergantung kepada warga Ibu Kota. “Yang menentukan warga, saat hari pemungutan suara,” tegas Wali Kota Surakarta ini.
Meskipun belum mendapat tambahan dukungan, Jokowi optimistis bisa memenangkan putaran kedua nanti. Alasannya, konsolidasi terus dilakukan. Jika terpilih pada putaran kedua nanti, Jokowi memastikan akan bersikap tegas dalam menjalankan kebijakan.
Menurut dia, Jakarta sudah memiliki blue print pembangunan yang jelas, sehingga tinggal pelaksanaan di lapangan. “Maka itu, saya bingung juga kok ditanya soal-soal teknis terus, saya kan nyalonin gubernur, bukan nyalon jadi kepala dinas,” katanya.
Menurut Jokowi, permasalahan teknis sudah ada yang mengurusi, yang di butuhkan sekarang ini adalah komitmen untuk menjalankan. Dia menegaskan, kalau kemacetan dan banjir, itu sudah ada blue print-nya.
Saat ini yang penting eksekusi, di kawal sampai selesai, supaya tepat sasaran dan tepat waktu, itu lah tugas pemimpin. Jokowi juga mengatakan untuk urusan teknis, banyak ahli yang bisa didatangkan. “Dinas sudah ada kenapa harus mikir teknis lagi,” tegasnya.
Seperti halnya Fauzi Bowo, Jokowi juga bertemu Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq untuk berdiskusi. Jokowi mengatakan kedatangan ke DPP PKS untuk bersilaturahmi.
Dalam silaturahmi tersebut, dia mengaku membahas soal dukungan. “Di bulan puasa ini lebih bagus untuk silaturahmi. Tidak ada pembicaraan lain,” kilah cagub yang diusung PDIP dan Gerindra ini.
Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq mengungkapkan sampai saat ini PKS masih melakukan kajian untuk dukungan di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Baginya, koalisi dukungan di pilkada harus lebih mengutamakan program kerja. Artinya, siapa saja yang akan didukung harus mau mengakomodasi program kerja dari mantan cagub PKS, Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini.
“Kita tidak memandang figur calon, tapi kemampuannya menjalankan agenda untuk pembangunan Jakarta lebih baik,” tukas Luthfi.
Sementara itu, Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Triwisaksana menegaskan, pengumuman dukung an PKS akan disampaikan pada bulan Ramadan ini. Hanya kepada siapa dukungan itu diberikan belum disebutkan. “InsyaAllah, tetap bulan Ramadan ini,” ujar Triwisaksana.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta ini menambahkan, salah satu landasan dari PKS mendukung kandidat pada putaran kedua yakni mampu mengakomodasi program kerja PKS. Program kerja partai ini juga menjadi visi-misi bagi Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini pada putaran pertama lalu.
Dalam penetapan dukungan tersebut, politikus PKS ini menyebutkan berdasarkan hasil penjaringan aspirasi kader di tingkat bawah. Setelah pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini gagal maju ke putaran kedua, PKS langsung melakukan evaluasi untuk membuat keputusan pada putaran kedua.
Bendahara Umum DPW PKS DKI Jakarta Nasrullah menambahkan, PKS DKI Jakarta telah menyiapkan keputusan. Hanya, keputusan itu hanya diketahui orang-orang tertentu di tingkat DPP dan DPW. “Kami masih menunggu instruksi kapan keputusan itu diumumkan. Sampai sekarang belum ada diputuskan,” aku Nasrullah.
Diprediksi dukungan Golkar ke Foke-Nara tidak utuh. Penyebabnya, DPP Partai Golkar geram terhadap DPD I yang memilih sikap berseberangan. Pasalnya, jauh-jauh hari DPP Partai Golkar sudah memutuskan untuk bersikap netral pada putaran kedua.
Wakil Sekjen DPP Partai Golkar Nurul Arifin mengatakan, piaknya sudah tegas memberikan kebebasan pilihan bagi kader pada putaran kedua 20 September mendatang.
“DPP dalam hal ini sudah memberikan anjuran yang jelas, yaitu membebaskan pemilihnya dalam pilgub putaran kedua,” kata Nurul di Jakarta, Senin 6 Agustus 2012.
Menurut Nurul, jika DPP telah memutuskan untuk tidak mendukung salah satu pasangan, seharusnya DPD I mengikuti sikap tersebut, sebab tidak diperbolehkan sikap politik yang berbeda antara DPD dan DPP. “Seharusnya tidak bisa. Tapi melihat yang terjadi di DKI memang sangat unusual, sangat istimewa, kasuistis," tegasnya.
Karena itu, meskipun DPD I telah menyatakan dukungan kepada Foke-Nara, pengurus DPP Partai Golkar tetap memberi kebebasan kepada seluruh masyarakat untuk memilih siapa pasangan yang mereka inginkan.
“Kami mempersilakan saja konstituen Golkar untuk memutuskan. Pada dasarnya, pemilih DKI lebih kritis dan rasional. Jadi tidak masalah,” pungkasnya.
Sebelumnya, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) mengatakan, partainya menyerahkan sepenuhnya kepada rakyat Ibu Kota untuk memilih calon gubernur dan wakil gu bernurnya. "Ke rakyat. Saya serahkan saja kepada pemilih," kata Ical seusai melaksanakan acara buka puasa di Kantor DPP Partai Golkar.
Ical berharap dengan tidak adanya arah dukungan ke salah satu pasangan cagub, kader Partai Golkar bisa bebas untuk memberikan dukungannya. "Biar aja rakyat. Saya harapkan mereka datang ramai-ramai ke tempat pemungutan suara memberikan suaranya,” sambungnya.
Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Tohari menambahkan, sikap netral tersebut sudah berdasarkan kajian secara mendalam. "Partai tidak akan berikan dukungan secara resmi kepada calon gubernur yang mana pun,” tegas Hajriyanto.
Keputusan tersebut diambil karena partai berlambang pohon beringin ini menganggap bahwa jika melihat hasil putaran pertama, mayoritas pemilih di Jakarta telah menggunakan hak pilihnya secara rasional dan independen yang disertai dengan pandangan politik sendiri-sendiri.
Sementara itu, cagub Joko Widodo (Jokowi) tidak gentar dengan banyaknya parpol yang merapat ke Foke-Nara. Menurut dia, berapa pun parpol yang mendukung, semuanya bergantung kepada warga Ibu Kota. “Yang menentukan warga, saat hari pemungutan suara,” tegas Wali Kota Surakarta ini.
Meskipun belum mendapat tambahan dukungan, Jokowi optimistis bisa memenangkan putaran kedua nanti. Alasannya, konsolidasi terus dilakukan. Jika terpilih pada putaran kedua nanti, Jokowi memastikan akan bersikap tegas dalam menjalankan kebijakan.
Menurut dia, Jakarta sudah memiliki blue print pembangunan yang jelas, sehingga tinggal pelaksanaan di lapangan. “Maka itu, saya bingung juga kok ditanya soal-soal teknis terus, saya kan nyalonin gubernur, bukan nyalon jadi kepala dinas,” katanya.
Menurut Jokowi, permasalahan teknis sudah ada yang mengurusi, yang di butuhkan sekarang ini adalah komitmen untuk menjalankan. Dia menegaskan, kalau kemacetan dan banjir, itu sudah ada blue print-nya.
Saat ini yang penting eksekusi, di kawal sampai selesai, supaya tepat sasaran dan tepat waktu, itu lah tugas pemimpin. Jokowi juga mengatakan untuk urusan teknis, banyak ahli yang bisa didatangkan. “Dinas sudah ada kenapa harus mikir teknis lagi,” tegasnya.
Seperti halnya Fauzi Bowo, Jokowi juga bertemu Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq untuk berdiskusi. Jokowi mengatakan kedatangan ke DPP PKS untuk bersilaturahmi.
Dalam silaturahmi tersebut, dia mengaku membahas soal dukungan. “Di bulan puasa ini lebih bagus untuk silaturahmi. Tidak ada pembicaraan lain,” kilah cagub yang diusung PDIP dan Gerindra ini.
Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq mengungkapkan sampai saat ini PKS masih melakukan kajian untuk dukungan di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Baginya, koalisi dukungan di pilkada harus lebih mengutamakan program kerja. Artinya, siapa saja yang akan didukung harus mau mengakomodasi program kerja dari mantan cagub PKS, Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini.
“Kita tidak memandang figur calon, tapi kemampuannya menjalankan agenda untuk pembangunan Jakarta lebih baik,” tukas Luthfi.
Sementara itu, Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Triwisaksana menegaskan, pengumuman dukung an PKS akan disampaikan pada bulan Ramadan ini. Hanya kepada siapa dukungan itu diberikan belum disebutkan. “InsyaAllah, tetap bulan Ramadan ini,” ujar Triwisaksana.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta ini menambahkan, salah satu landasan dari PKS mendukung kandidat pada putaran kedua yakni mampu mengakomodasi program kerja PKS. Program kerja partai ini juga menjadi visi-misi bagi Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini pada putaran pertama lalu.
Dalam penetapan dukungan tersebut, politikus PKS ini menyebutkan berdasarkan hasil penjaringan aspirasi kader di tingkat bawah. Setelah pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini gagal maju ke putaran kedua, PKS langsung melakukan evaluasi untuk membuat keputusan pada putaran kedua.
Bendahara Umum DPW PKS DKI Jakarta Nasrullah menambahkan, PKS DKI Jakarta telah menyiapkan keputusan. Hanya, keputusan itu hanya diketahui orang-orang tertentu di tingkat DPP dan DPW. “Kami masih menunggu instruksi kapan keputusan itu diumumkan. Sampai sekarang belum ada diputuskan,” aku Nasrullah.
(lil)