Foke merasa dipojokkan
Kamis, 02 Agustus 2012 - 08:34 WIB
Foke merasa dipojokkan
A
A
A
Sindonews.com - Pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi (Foke-Nara) merasa menjadi sasaran tembak di balik merebaknya isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Pasalnya, sejumlah pihak menuding isu SARA sengaja disebar oleh tim Foke-Nara dengan memanfaatkan penceramah agama. Anggota tim sukses Foke-Nara, Muhammad Guntur, mengatakan bahwa beberapa hari terakhir ini banyak pihak resah dengan ceramah agama oleh mubalig tentang memilih pemimpin seiman.
Opini yang berkembang seolah-olah para mubalig tersebut dimotori cagub incumbent. “Kubu kami tidak pernah menjadikan isu SARA sebagai bahan untuk memopulerkan kandidat. Kami merasa dipojokkan dan jadi korban,” kata Muhammad Guntur di Jakarta, Rabu 1 Agustus 2012.
Akibat dari isu tersebut, ada beberapa penceramah agama dilaporkan ke kepolisian oleh pihak tertentu. Dengan adanya upaya melaporkan ke polisi para ustad tersebut, Muhammad Guntur mengungkapkan tim advokasi Foke-Nara siap membantu untuk pembelaan hukumnya.
Alasannya, tindakan ustad itu tidak salah. “Ustad di ceramahnya menyuarakan soal memilih pemimpin seiman berdasarkan ayat kitab suci Alquran. Berarti perintah Tuhan,” ujarnya.
Ketua Panwaslu DKI Jakarta Ramdansyah menyatakan, bila ada penceramah berbicara tentang memilih pemimpin seiman kepada jamaahnya, tidak dapat dijadikan sebagai kampanye hitam (black campaign). Pasalnya, penceramah ini berbicara di dalam komunitasnya, yakni masjid, langgar, pengajian, dan sebagainya.
“Mereka bicara di dalam lingkungan sendiri dan tidak ada memaksa masyarakat untuk memilih cagub tertentu,” kata Ramdansyah.
Dia berjanji akan menindak ulama atau pihak tertentu bila memaksakan kehendak untuk memilih salah satu cagub. Apalagi, pemaksaan itu mengandung unsur kata agama. Selain itu, sisi yang dapat ditindak oleh panwaslu, bahwa penyebaran isu SARA ini dilakukan di luar komunitas, seperti menggunakan alat komunikasi pesan singkat ponsel.
“Bila ada isu SARA ini dan memenuhi unsur perkara, ada saksi dan barang bukti laporkan ke panwaslu,” tandas Ramdansyah.
Di bagian lain, pengamat pemilu Mulyana W Kusumah menilai pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta putaran pertama secara umum berjalan baik. Menurut dia, beberapa kendala seperti kekacauan daftar pemilih tetap (DPT), tidak menghapus kualitas pelaksanaan pilkada.
“Kalau dilihat secara keseluruhan, pemilu kali ini menjadi sebuah pemilihan yang sangat fenomenal. Bukan karena terjadinya kekalahan incumbent, melainkan terjadinya prediksi-prediksi yang akhirnya jungkir balik karena tidak sesuai dengan prediksi-prediksi banyak lembaga survei,” kata Mulyana dalam diskusi bertajuk 'Evaluasi Pelaksanaan Pilgub Jakarta 2012 Putaran I' yang digelar KIPP.
Opini yang berkembang seolah-olah para mubalig tersebut dimotori cagub incumbent. “Kubu kami tidak pernah menjadikan isu SARA sebagai bahan untuk memopulerkan kandidat. Kami merasa dipojokkan dan jadi korban,” kata Muhammad Guntur di Jakarta, Rabu 1 Agustus 2012.
Akibat dari isu tersebut, ada beberapa penceramah agama dilaporkan ke kepolisian oleh pihak tertentu. Dengan adanya upaya melaporkan ke polisi para ustad tersebut, Muhammad Guntur mengungkapkan tim advokasi Foke-Nara siap membantu untuk pembelaan hukumnya.
Alasannya, tindakan ustad itu tidak salah. “Ustad di ceramahnya menyuarakan soal memilih pemimpin seiman berdasarkan ayat kitab suci Alquran. Berarti perintah Tuhan,” ujarnya.
Ketua Panwaslu DKI Jakarta Ramdansyah menyatakan, bila ada penceramah berbicara tentang memilih pemimpin seiman kepada jamaahnya, tidak dapat dijadikan sebagai kampanye hitam (black campaign). Pasalnya, penceramah ini berbicara di dalam komunitasnya, yakni masjid, langgar, pengajian, dan sebagainya.
“Mereka bicara di dalam lingkungan sendiri dan tidak ada memaksa masyarakat untuk memilih cagub tertentu,” kata Ramdansyah.
Dia berjanji akan menindak ulama atau pihak tertentu bila memaksakan kehendak untuk memilih salah satu cagub. Apalagi, pemaksaan itu mengandung unsur kata agama. Selain itu, sisi yang dapat ditindak oleh panwaslu, bahwa penyebaran isu SARA ini dilakukan di luar komunitas, seperti menggunakan alat komunikasi pesan singkat ponsel.
“Bila ada isu SARA ini dan memenuhi unsur perkara, ada saksi dan barang bukti laporkan ke panwaslu,” tandas Ramdansyah.
Di bagian lain, pengamat pemilu Mulyana W Kusumah menilai pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta putaran pertama secara umum berjalan baik. Menurut dia, beberapa kendala seperti kekacauan daftar pemilih tetap (DPT), tidak menghapus kualitas pelaksanaan pilkada.
“Kalau dilihat secara keseluruhan, pemilu kali ini menjadi sebuah pemilihan yang sangat fenomenal. Bukan karena terjadinya kekalahan incumbent, melainkan terjadinya prediksi-prediksi yang akhirnya jungkir balik karena tidak sesuai dengan prediksi-prediksi banyak lembaga survei,” kata Mulyana dalam diskusi bertajuk 'Evaluasi Pelaksanaan Pilgub Jakarta 2012 Putaran I' yang digelar KIPP.
(lil)