Partai Golkar pilih netral
Senin, 30 Juli 2012 - 08:30 WIB
Partai Golkar pilih netral
A
A
A
Sindonews.com - DPP Partai Golkar memutuskan tidak memihak salah satu pasangan calon gubernur (cagub) pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta yang akan digelar 20 September mendatang.
Partai berlambang pohon be ringin ini memberikan kebebasan kepada para kader untuk menentukan pilihan politiknya.
Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) mengatakan, partainya me nyerahkan sepenuhnya kepada rakyat Ibu Kota untuk memilih calon gubernur dan wakil gubernurnya.
”Ke rakyat, Saya serahkan saja kepada pemilih,” kata Ical seusai melaksanakan acara buka puasa di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta, akhir pekan lalu.
Ical berharap dengan tidak adanya arah dukungan ke salah satu pasangan cagub, kader Partai Golkar bisa bebas untuk memberikan dukungannya. ”Biar ajarakyat. Saya harapkan mereka datang ramai-ramai ke tempat pemungutan suara memberikan suaranya,” sambungnya.
Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Tohari menambahkan, sikap netral tersebut sudah berdasarkan kajian secara mendalam.
”Partai tidak akan berikan dukungan secara resmi kepada calon gubernur yang manapun,” tegas Hajriyanto.
Keputusan tersebut diambil karena partai berlambang pohon beringin ini meng anggap bahwa jika melihat hasil putaran pertama, mayoritas pemilih di Jakarta telah menggunakan hak pilihnya secara rasional dan independen yang disertai dengan pandangan politik sendiri-sendiri.
”Anatomi pemilih seperti itu mendorong Partai Golkar ber sikap seperti demikian. Pemilih Jakarta termasuk ke - luarga besar Partai Golkar sa - ngat rasional, tidak ada pemilih yang bersifat tradisional fanatik dan memilik kecerdasan sendiri,” tutup Hajriyanto.
Wakil Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta Ashraf Ali menegaskan, sikap netral bukan abstain ataupun golput.
Partai Golkar tetap berpartisipasi pada putaran kedua dengan memberikan kebebasan memilih pasangan calon gubernur untuk memilih.
”Secara institusi, pilihan Golkar tidak mengarah kepada calon tertentu. Nantinya bisa saja suara Golkar ini ada di mana-mana,” kata Ashraf.
Sebelumnya Ashraf menyebutkan mayoritas kader Partai Golkar di tingkat bawah cenderung memilih mendukung Foke-Nara. Hanya sebagian kecil yang ingin ke Jokowi-Ahok.
Sekretaris DPD I Partai Golkar DKI Jakarta, Zainudin, berpendapat, sikap abstain yang dimaksud DPP Golkar itu, yakni menyerahkan kebijakan sepenuhnya kepada DPD I Golkar DKI Jakarta.
Dalam hal ini Golkar DKI Jakarta telah membentuk tim. Tim ini sedang menjaring aspirasi kader di tingkat bawah tentang dukungan di putaran kedua.
”Sampai saat ini ke condongan kader Golkar di Jakarta mendukung pasangan Foke- Nara,” ujar Zainudin kemarin.
Hanya saja, kata Zainudin, keputusan resminya akan di putuskan pada rapat pimpinan daerah (Rapimda). Dari hasil Rapimda ini dapat diputuskan tentang dukungan resmi DKI Jakarta.
”Rapimda ini akan dilaksanakan minggu depan,” tandas Zainudin. Pada putaran pertama lalu, Partai Golkar berkoalisi dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Damai Sejahtera (PDS) mengusung pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono.
Partai berlambang pohon be ringin ini memberikan kebebasan kepada para kader untuk menentukan pilihan politiknya.
Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) mengatakan, partainya me nyerahkan sepenuhnya kepada rakyat Ibu Kota untuk memilih calon gubernur dan wakil gubernurnya.
”Ke rakyat, Saya serahkan saja kepada pemilih,” kata Ical seusai melaksanakan acara buka puasa di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta, akhir pekan lalu.
Ical berharap dengan tidak adanya arah dukungan ke salah satu pasangan cagub, kader Partai Golkar bisa bebas untuk memberikan dukungannya. ”Biar ajarakyat. Saya harapkan mereka datang ramai-ramai ke tempat pemungutan suara memberikan suaranya,” sambungnya.
Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Tohari menambahkan, sikap netral tersebut sudah berdasarkan kajian secara mendalam.
”Partai tidak akan berikan dukungan secara resmi kepada calon gubernur yang manapun,” tegas Hajriyanto.
Keputusan tersebut diambil karena partai berlambang pohon beringin ini meng anggap bahwa jika melihat hasil putaran pertama, mayoritas pemilih di Jakarta telah menggunakan hak pilihnya secara rasional dan independen yang disertai dengan pandangan politik sendiri-sendiri.
”Anatomi pemilih seperti itu mendorong Partai Golkar ber sikap seperti demikian. Pemilih Jakarta termasuk ke - luarga besar Partai Golkar sa - ngat rasional, tidak ada pemilih yang bersifat tradisional fanatik dan memilik kecerdasan sendiri,” tutup Hajriyanto.
Wakil Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta Ashraf Ali menegaskan, sikap netral bukan abstain ataupun golput.
Partai Golkar tetap berpartisipasi pada putaran kedua dengan memberikan kebebasan memilih pasangan calon gubernur untuk memilih.
”Secara institusi, pilihan Golkar tidak mengarah kepada calon tertentu. Nantinya bisa saja suara Golkar ini ada di mana-mana,” kata Ashraf.
Sebelumnya Ashraf menyebutkan mayoritas kader Partai Golkar di tingkat bawah cenderung memilih mendukung Foke-Nara. Hanya sebagian kecil yang ingin ke Jokowi-Ahok.
Sekretaris DPD I Partai Golkar DKI Jakarta, Zainudin, berpendapat, sikap abstain yang dimaksud DPP Golkar itu, yakni menyerahkan kebijakan sepenuhnya kepada DPD I Golkar DKI Jakarta.
Dalam hal ini Golkar DKI Jakarta telah membentuk tim. Tim ini sedang menjaring aspirasi kader di tingkat bawah tentang dukungan di putaran kedua.
”Sampai saat ini ke condongan kader Golkar di Jakarta mendukung pasangan Foke- Nara,” ujar Zainudin kemarin.
Hanya saja, kata Zainudin, keputusan resminya akan di putuskan pada rapat pimpinan daerah (Rapimda). Dari hasil Rapimda ini dapat diputuskan tentang dukungan resmi DKI Jakarta.
”Rapimda ini akan dilaksanakan minggu depan,” tandas Zainudin. Pada putaran pertama lalu, Partai Golkar berkoalisi dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Damai Sejahtera (PDS) mengusung pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono.
(lns)