PDS putuskan netral
Kamis, 26 Juli 2012 - 08:10 WIB
PDS putuskan netral
A
A
A
Sindonews.com - Partai Damai Sejahtera (PDS) memilih bersikap netral pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Partai politik yang memiliki empat kursi di DPRD DKI Jakarta ini membebaskan kadernya menyalurkan aspirasi politiknya.
Ketua Umum DPP PDS Denny Tewu mengatakan, pilihan bersikap netral tersebut telah melalui pertimbangan yang matang. Pada putaran pertama, PDS berkoalisi dengan Partai Golkar, dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengusung pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono. “Itu keputusan rapat DPP PDS bersama DPW DKI Jakarta,” kata Denny di Jakarta, Rabu 25 Juli 2012.
Sikap netral tersebut diambil karena banyak pimpinan gereja secara jelas mendukung Foke-Nara, tapi jemaat banyak juga yang mendukung Jokowi-Ahok. "(Menyikapi) Kondisi tersebut maka jalan terbaik bagi PDS adalah mengambil posisi abstain dan menyerahkan konstituen memilih sesuai kehendaknya, namun tidak golput,” tandasnya.
Untuk itulah, pada putaran kedua pihaknya tidak memberi arahan untuk mendukung salah satu calon. Namun secara pribadi, dirinya lebih condong mendukung pasangan Jokowi-Ahok. “Putaran kedua ini, secara pribadi, saya mendukung pasangan Jokowi-Ahok,” katanya.
Pasangan calon gubernur (cagub) DKI Jakarta Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini belum menentukan sikap politik pada putaran kedua. Namun, pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sudah mengajukan syarat koalisi, yakni cagub yang didukung harus mengakomodasi program Hidayat-Didik.
Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq mengatakan, pihaknya belum memutuskan koalisi dengan siapa pun. Saat ini pihaknya masih terus menerima masukan dari banyak pihak. “Koalisi masih dalam proses pengambilan keputusan, nanti akan kami beri tahukan bagaimana hasilnya,” kata Luthfi.
Luthfi menjelaskan, seluruh agenda pasangan Hidayat-Didik pun akan terus diperjuangkan dan itu yang akan dipaparkan bagi pihak yang ingin menawarkan koalisi.
"Yang pasti, seluruh agenda Hidayat yang sudah dikumandangkan akan diperjuangkan. Siapa yang bisa menerimanya akan kita dukung dan yang tidak bisa menerima tidak akan kita dukung,” jelasnya.
Terkait kekalahan PKS di sejumlah pilkada, Luthfi mewanti-wanti kader untuk menyolidkan barisan. Jika terlena, PKS bisa tergerus pada Pemilu 2014. “Itu early warning untuk mengubah paradigma masyarakat,” tandasnya.
Hidayat Nur Wahid juga menegaskan belum membuat keputusan koalisi dengan siapa pun. Termasuk juga dengan Joko Widodo (Jokowi) yang menemui Hidayat saat pemungutan suara lalu. “Waktu itu Jokowi memang pernah bertemu dengan kami dan mengatakan akan mendukung kami jika lolos ke putaran kedua, begitu pun sebaliknya harap Jokowi. Namun, kami sendiri belum menentukan sikap masih harus membicarakan dengan partai, kader bagaimana keinginan mereka,” ujar Hidayat.
Pihaknya juga membantah telah melakukan pertemuan dengan cagub incumbent Fauzi Bowo. “Masih lama, saya tegaskan belum ada pertemuan dengan Fauzi Bowo. Kita lihat saja bagaimana dinamika ke depan, semua kemungkinan terbuka,” tambahnya.
Pihaknya terus mengevaluasi hasil putaran pertama Pilkada DKI Jakarta yang jauh dari harapan. Dia menjelaskan ada beberapa faktor yang menjadi pemicu kekalahannya, di antaranya adanya kecurangan.
“Hasil yang sesungguhnya tidak dapat diterima dengan mudah oleh akal sehat, realita sosial. Mengapa bisa seperti ini, kami telah mengkaji di beberapa TPS. Atas dasar pengkajian tersebut kami akan membuat penyikapan. Kami akan menyampaikan beberapa waktu nanti,” ucapnya.
Hidayat juga mengapresiasi perjuangan yang telah dilakukan oleh para kader dan simpatisan PKS. “Yang paling penting, terjadi konsolidasi yang luar biasa di internal PKS. Bukan hanya konsolidasi dari kader dan simpatisan yang luar biasa, bukan hanya di tingkat DKI, melainkan juga internasional. Ini harus dijaga betul bahwa tahun 2014 kita bisa menghadirkan kebangkitan bagi PKS," harapnya.
Ketua Umum DPP PDS Denny Tewu mengatakan, pilihan bersikap netral tersebut telah melalui pertimbangan yang matang. Pada putaran pertama, PDS berkoalisi dengan Partai Golkar, dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengusung pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono. “Itu keputusan rapat DPP PDS bersama DPW DKI Jakarta,” kata Denny di Jakarta, Rabu 25 Juli 2012.
Sikap netral tersebut diambil karena banyak pimpinan gereja secara jelas mendukung Foke-Nara, tapi jemaat banyak juga yang mendukung Jokowi-Ahok. "(Menyikapi) Kondisi tersebut maka jalan terbaik bagi PDS adalah mengambil posisi abstain dan menyerahkan konstituen memilih sesuai kehendaknya, namun tidak golput,” tandasnya.
Untuk itulah, pada putaran kedua pihaknya tidak memberi arahan untuk mendukung salah satu calon. Namun secara pribadi, dirinya lebih condong mendukung pasangan Jokowi-Ahok. “Putaran kedua ini, secara pribadi, saya mendukung pasangan Jokowi-Ahok,” katanya.
Pasangan calon gubernur (cagub) DKI Jakarta Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini belum menentukan sikap politik pada putaran kedua. Namun, pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sudah mengajukan syarat koalisi, yakni cagub yang didukung harus mengakomodasi program Hidayat-Didik.
Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq mengatakan, pihaknya belum memutuskan koalisi dengan siapa pun. Saat ini pihaknya masih terus menerima masukan dari banyak pihak. “Koalisi masih dalam proses pengambilan keputusan, nanti akan kami beri tahukan bagaimana hasilnya,” kata Luthfi.
Luthfi menjelaskan, seluruh agenda pasangan Hidayat-Didik pun akan terus diperjuangkan dan itu yang akan dipaparkan bagi pihak yang ingin menawarkan koalisi.
"Yang pasti, seluruh agenda Hidayat yang sudah dikumandangkan akan diperjuangkan. Siapa yang bisa menerimanya akan kita dukung dan yang tidak bisa menerima tidak akan kita dukung,” jelasnya.
Terkait kekalahan PKS di sejumlah pilkada, Luthfi mewanti-wanti kader untuk menyolidkan barisan. Jika terlena, PKS bisa tergerus pada Pemilu 2014. “Itu early warning untuk mengubah paradigma masyarakat,” tandasnya.
Hidayat Nur Wahid juga menegaskan belum membuat keputusan koalisi dengan siapa pun. Termasuk juga dengan Joko Widodo (Jokowi) yang menemui Hidayat saat pemungutan suara lalu. “Waktu itu Jokowi memang pernah bertemu dengan kami dan mengatakan akan mendukung kami jika lolos ke putaran kedua, begitu pun sebaliknya harap Jokowi. Namun, kami sendiri belum menentukan sikap masih harus membicarakan dengan partai, kader bagaimana keinginan mereka,” ujar Hidayat.
Pihaknya juga membantah telah melakukan pertemuan dengan cagub incumbent Fauzi Bowo. “Masih lama, saya tegaskan belum ada pertemuan dengan Fauzi Bowo. Kita lihat saja bagaimana dinamika ke depan, semua kemungkinan terbuka,” tambahnya.
Pihaknya terus mengevaluasi hasil putaran pertama Pilkada DKI Jakarta yang jauh dari harapan. Dia menjelaskan ada beberapa faktor yang menjadi pemicu kekalahannya, di antaranya adanya kecurangan.
“Hasil yang sesungguhnya tidak dapat diterima dengan mudah oleh akal sehat, realita sosial. Mengapa bisa seperti ini, kami telah mengkaji di beberapa TPS. Atas dasar pengkajian tersebut kami akan membuat penyikapan. Kami akan menyampaikan beberapa waktu nanti,” ucapnya.
Hidayat juga mengapresiasi perjuangan yang telah dilakukan oleh para kader dan simpatisan PKS. “Yang paling penting, terjadi konsolidasi yang luar biasa di internal PKS. Bukan hanya konsolidasi dari kader dan simpatisan yang luar biasa, bukan hanya di tingkat DKI, melainkan juga internasional. Ini harus dijaga betul bahwa tahun 2014 kita bisa menghadirkan kebangkitan bagi PKS," harapnya.
(lil)