Perampokan diduga konspirasi pegawai SPBU
Rabu, 25 Juli 2012 - 09:48 WIB
Perampokan diduga konspirasi pegawai SPBU
A
A
A
Sindonews.com - Kepolisian menduga perampokan uang milik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 142031132 sebanyak Rp309 juta merupakan konspirasi dua pegawainya. Polisi sedang mencari bukti untuk membuktikan dugaannya.
Kepala Unit (Kanit) Reserse Kriminal (Reskrim) Kepolisian Sektor Kota (Polsekta) Percut Sei TuanAjun Komisaris Polisi (AKP) Faidhir Chaniago mengatakan, kecurigaan polisi terhadap kedua korban semakin menguat berdasarkan keterangan empat warga sekitar lokasi kejadian.
“Jumlah saksi seluruhnya ada enam. Empat dari warga sekitar yang sangat dekat dengan lokasi kejadian, dan dua saksi lagi yakni petugas kasir dari SPBU itu. Keempat saksi dari warga mengakui tidak ada mendengar suara teriakan minta tolong dari korban kepada warga sekitar. Lagi pula saat terjadinya perampokan suasana juga terlihat ramai,” tutur Faidhir.
Sementara pengakuan korban Mairafdi dan Tono, sepeda motor mereka sempat ditendang sebanyak tiga kali. Bila membawa uang ratusan juta, tentu orang akan bereaksi keras untuk melindungi yang itu, termasuk meminta pertolongan.
“Seharusnya korban memiliki inisiatif untuk meminta pertolongan kepada warga sekitar.Apalagi korban tidak saling mengenal sebelumnya. Inilah yang membuat kecurigaan polisi semakin kuat,” paparnya.
Beberapa saksi yang sudah dimintai keterangan akan terus dikonfrontir dengan kedua korban.
“Saat ini Mairafdi dan Tono belum kami tahan, namun pemeriksaan terus dilakukan. Kapan saja keduanya bisa kami panggil dan diperiksa. Sepertinya, peristiwa perampokan ini sudah direncanakan sebelumnya,” kata Faidir.
Sebagaimana diketahui, dua karyawan SPBU 142031132 Simpang Seantis, Percut Seituan, Deliserdang, Mafriadi dan Tono yang menjadi korban perampokan Mafriadi dan Tono dirampok dua pria bersenjata api yang mengendarai sepeda motor di kawasan Kampung Agas Desa Cinta Rakyat,Percut Seituan.
Menurut mereka, kedua pelaku mengenakan helm hingga menutupi wajah dan berjaket hitam. Salah satu pelaku menodongkan senjata api seperti pistol jenis FN dan merampas ransel berisi uang Rp309 juta yang akan disetorkan korban ke Bank BRI cabang Jalan Pancing. Sebelumnya, Kapolsekta Percut Sei Tuan Komisaris Polisi (Kompol) Maringan Simanjuntak menyanyangkan kedua korban memilih jalur yang relatif lebih sepi kala membawa uang ratusan juta.
Padahal, banyak jalur lain yang lebih ramai agar sampai di Bank BRI Jalan Pancing. Sementara itu, praktisi hukum Sya’i Rangkuti mengatakan, tidak berani menilai terlalu jauh korban dan pelaku perampok berkonspirasi. Kemungkinan besar yang terjadi korban tidak bisa melakukan hal apa pun karena korban diancam dengan senjata api.
“Polisi jangan terlalu dini mencurigai korban dan pelaku saling bekerja sama. Bisa saja korban lebih mengutamakan keselamatan jiwanya dengan memilih berdiam diri tanpa melakukan apa pun.Yang penting nyawa mereka selamat,” ujarnya.
Dia menilai dalam peristiwa perampokan ini pihak SPBU-lah yang lalai.Semestinya SPBU menyediakan mobil untuk mengantar atau pun menyetorkan uang hasil penjualan ke bank,bukannya mengandalkan sepeda motor. “Mereka memilih risiko yang sangat besar,” bebernya.
Kepala Unit (Kanit) Reserse Kriminal (Reskrim) Kepolisian Sektor Kota (Polsekta) Percut Sei TuanAjun Komisaris Polisi (AKP) Faidhir Chaniago mengatakan, kecurigaan polisi terhadap kedua korban semakin menguat berdasarkan keterangan empat warga sekitar lokasi kejadian.
“Jumlah saksi seluruhnya ada enam. Empat dari warga sekitar yang sangat dekat dengan lokasi kejadian, dan dua saksi lagi yakni petugas kasir dari SPBU itu. Keempat saksi dari warga mengakui tidak ada mendengar suara teriakan minta tolong dari korban kepada warga sekitar. Lagi pula saat terjadinya perampokan suasana juga terlihat ramai,” tutur Faidhir.
Sementara pengakuan korban Mairafdi dan Tono, sepeda motor mereka sempat ditendang sebanyak tiga kali. Bila membawa uang ratusan juta, tentu orang akan bereaksi keras untuk melindungi yang itu, termasuk meminta pertolongan.
“Seharusnya korban memiliki inisiatif untuk meminta pertolongan kepada warga sekitar.Apalagi korban tidak saling mengenal sebelumnya. Inilah yang membuat kecurigaan polisi semakin kuat,” paparnya.
Beberapa saksi yang sudah dimintai keterangan akan terus dikonfrontir dengan kedua korban.
“Saat ini Mairafdi dan Tono belum kami tahan, namun pemeriksaan terus dilakukan. Kapan saja keduanya bisa kami panggil dan diperiksa. Sepertinya, peristiwa perampokan ini sudah direncanakan sebelumnya,” kata Faidir.
Sebagaimana diketahui, dua karyawan SPBU 142031132 Simpang Seantis, Percut Seituan, Deliserdang, Mafriadi dan Tono yang menjadi korban perampokan Mafriadi dan Tono dirampok dua pria bersenjata api yang mengendarai sepeda motor di kawasan Kampung Agas Desa Cinta Rakyat,Percut Seituan.
Menurut mereka, kedua pelaku mengenakan helm hingga menutupi wajah dan berjaket hitam. Salah satu pelaku menodongkan senjata api seperti pistol jenis FN dan merampas ransel berisi uang Rp309 juta yang akan disetorkan korban ke Bank BRI cabang Jalan Pancing. Sebelumnya, Kapolsekta Percut Sei Tuan Komisaris Polisi (Kompol) Maringan Simanjuntak menyanyangkan kedua korban memilih jalur yang relatif lebih sepi kala membawa uang ratusan juta.
Padahal, banyak jalur lain yang lebih ramai agar sampai di Bank BRI Jalan Pancing. Sementara itu, praktisi hukum Sya’i Rangkuti mengatakan, tidak berani menilai terlalu jauh korban dan pelaku perampok berkonspirasi. Kemungkinan besar yang terjadi korban tidak bisa melakukan hal apa pun karena korban diancam dengan senjata api.
“Polisi jangan terlalu dini mencurigai korban dan pelaku saling bekerja sama. Bisa saja korban lebih mengutamakan keselamatan jiwanya dengan memilih berdiam diri tanpa melakukan apa pun.Yang penting nyawa mereka selamat,” ujarnya.
Dia menilai dalam peristiwa perampokan ini pihak SPBU-lah yang lalai.Semestinya SPBU menyediakan mobil untuk mengantar atau pun menyetorkan uang hasil penjualan ke bank,bukannya mengandalkan sepeda motor. “Mereka memilih risiko yang sangat besar,” bebernya.
(azh)