Parpol terjebak politik transaksional
Selasa, 24 Juli 2012 - 09:39 WIB
Parpol terjebak politik transaksional
A
A
A
Sindonews.com - Sejumlah partai politik (parpol) yang calonnya kalah pada putaran pertama ditengarai akan terlibat politik transaksional. Terlebih, beberapa elite parpol berbeda pendapat terkait dukungan politik yang akan diberikan.
Misalnya Partai Persatuan Pembangunan (PPP) harus menunda deklarasi dukungan ke Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara), karena masih ada perbedaan di tingkat elite. Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit mengatakan, tertundanya deklarasi dukungan PPP ke Foke-Nara menunjukkan adanya kesepakatan yang belum tuntas antara dua pihak. Padahal, lanjut Arbi, dukungan parpol tidak menjadi jaminan pasangan cagub akan menang.
Bahkan, pengalihan dukungan tersebut hanya sekadar kepentingan elite politik. "Persoalan dukungan belum jelas dideklarasikan ini, karena ada sesuatu yang tidak cocok saja,” ujar Arbi di Jakarta, Senin 23 Juli 2012.
Dengan tidak jelas seperti ini, publik sudah dapat melihat cara berpolitik PPP, yakni pragmatis dan oportunis. Cara demikian tentunya membuat pemilih nantinya akan enggan menggunakan hak pilihnya kepada cagub yang didukung oleh PPP.
Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari mengatakan, rancangan koalisi lebih tegang terjadi di kubu PPP. Di partai ini terdapat dua kepentingan, antara DPP dan DPW. Pada kepentingan tingkat DPP, terdapat nama Djan Farid. Politikus ini selama ini dianggap berseberangan dengan Foke.
Sementara itu, Ketua DPW PPP DKI Lulung A Lunggana memiliki kedekatan politik dengan incumbent. “Dengan adanya sikap ini, kemungkinan PPP akan pecah," ujarnya.
Ketua tim sukses Foke-Nara, Makmun Amin optimistis bisa mendapatkan dukungan tambahan dari parpol lain. “Kami yakin mendapatkan dukungan dari parpol lain," ujar Makmun.
Menurut Makmun, harapan untuk mendapatkan dukungan dari parpol lain itu semakin yakin terealisasi. Pihaknya sudah melakukan komunikasi secara intensif dengan sejumlah parpol. Sejauh ini, komunikasi intensif dilakukan dengan PPP dan PKS.
Kedua partai ini merupakan partai berasaskan Islam, dan sama-sama kalah pada putaran pertama. Mengenai tertundanya deklarasi PPP, Makmun tidak mau ikut campur karena itu persoalan internal parpol. “Setiap parpol ini memiliki mekanisme tersendiri. Kami menunggu keputusan mereka seperti apa keputusannya. Semoga didapatkan nantinya,” harap Makmun.
Di tempat lain, ketua tim sukses Jokowi-Ahok, Boy Bernadi Sadikin mengaku, juga menggalang komunikasi dengan pihak kandidat lain untuk mendapatkan dukungan di putaran kedua. Selain itu, pihaknya juga terus memperkuat simpul-simpul kekuatan basis massa Jokowi-Ahok. Baik basis relawan maupun basis kader partai.
“Kami lebih konsen memperhatikan simpul-simpul di tingkat bawah, agar pemilih di putaran kedua bertambah,” ujarnya.
Dia menegaskan, keberadaan massa di grass root merupakan modal dasar untuk mendapatkan suara. Apa lagi pilkada merupakan pertarungan figur, bukan partai.
Misalnya Partai Persatuan Pembangunan (PPP) harus menunda deklarasi dukungan ke Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara), karena masih ada perbedaan di tingkat elite. Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit mengatakan, tertundanya deklarasi dukungan PPP ke Foke-Nara menunjukkan adanya kesepakatan yang belum tuntas antara dua pihak. Padahal, lanjut Arbi, dukungan parpol tidak menjadi jaminan pasangan cagub akan menang.
Bahkan, pengalihan dukungan tersebut hanya sekadar kepentingan elite politik. "Persoalan dukungan belum jelas dideklarasikan ini, karena ada sesuatu yang tidak cocok saja,” ujar Arbi di Jakarta, Senin 23 Juli 2012.
Dengan tidak jelas seperti ini, publik sudah dapat melihat cara berpolitik PPP, yakni pragmatis dan oportunis. Cara demikian tentunya membuat pemilih nantinya akan enggan menggunakan hak pilihnya kepada cagub yang didukung oleh PPP.
Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari mengatakan, rancangan koalisi lebih tegang terjadi di kubu PPP. Di partai ini terdapat dua kepentingan, antara DPP dan DPW. Pada kepentingan tingkat DPP, terdapat nama Djan Farid. Politikus ini selama ini dianggap berseberangan dengan Foke.
Sementara itu, Ketua DPW PPP DKI Lulung A Lunggana memiliki kedekatan politik dengan incumbent. “Dengan adanya sikap ini, kemungkinan PPP akan pecah," ujarnya.
Ketua tim sukses Foke-Nara, Makmun Amin optimistis bisa mendapatkan dukungan tambahan dari parpol lain. “Kami yakin mendapatkan dukungan dari parpol lain," ujar Makmun.
Menurut Makmun, harapan untuk mendapatkan dukungan dari parpol lain itu semakin yakin terealisasi. Pihaknya sudah melakukan komunikasi secara intensif dengan sejumlah parpol. Sejauh ini, komunikasi intensif dilakukan dengan PPP dan PKS.
Kedua partai ini merupakan partai berasaskan Islam, dan sama-sama kalah pada putaran pertama. Mengenai tertundanya deklarasi PPP, Makmun tidak mau ikut campur karena itu persoalan internal parpol. “Setiap parpol ini memiliki mekanisme tersendiri. Kami menunggu keputusan mereka seperti apa keputusannya. Semoga didapatkan nantinya,” harap Makmun.
Di tempat lain, ketua tim sukses Jokowi-Ahok, Boy Bernadi Sadikin mengaku, juga menggalang komunikasi dengan pihak kandidat lain untuk mendapatkan dukungan di putaran kedua. Selain itu, pihaknya juga terus memperkuat simpul-simpul kekuatan basis massa Jokowi-Ahok. Baik basis relawan maupun basis kader partai.
“Kami lebih konsen memperhatikan simpul-simpul di tingkat bawah, agar pemilih di putaran kedua bertambah,” ujarnya.
Dia menegaskan, keberadaan massa di grass root merupakan modal dasar untuk mendapatkan suara. Apa lagi pilkada merupakan pertarungan figur, bukan partai.
(lil)