Greenpeace bantah didanai asing
Kamis, 19 Juli 2012 - 15:11 WIB
Greenpeace bantah didanai asing
A
A
A
Sindonews.com - Dituduh sebagai antek asing untuk mendiskreditkan nama Indonesia, Greenpeace sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asing langsung menyangkal.
Kepala Greenpeace Indonesia Nur Hidayati menantang pihak yang menudingnya itu untuk berdialog.
Dengan tegas dia menyatakan, sebagai Non Goverment Organitation (NGO) yang konsentrasi terhadap lingkungan, Greenpeace tidak menerima aliran dana dari perjudian seperti dituduhkan itu.
"Selama ini Greenpeace Indonesia mendapatkan dana dari individu warga Indonesia. Biasanya relawan greenpeace stand by di mal, dan memberikan penjelasan mengenai kerusakan alam akibat produksi hasil bumi yang tidak ramah lingkungan," jelas Nur Hidayati kepada wartawan, Kamis (19/8/2012).
Sebagai bentuk profesionalisme, pihaknya selalu melakukan audit keuangan tiap tahunnya. Dan hasilnya selalu dipublikasi di media cetak nasional.
"Kami menduga aksi sekelompok orang yang mendemo dan menuding Greenpeace hanya salah paham dan tidak mengetahui pasti apa itu Greenpeace. Kami siap berdialog, asas kami memang selalu mengedepankan dialog dan sekuat mungkin tidak menimbulkan korban," tuturnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, kantor Greenpeace Indonesia di Jalan KH Abdullah Syafi'ie, Tebet, Jakarta Selatan, didemo oleh puluhan orang yang tergabung dalam Barda Salam pukul 10.30 WIB.
Dalam demo itu, Koordinator aksi Cahyo Putranto menuding Greenpeace sebagai antek asing. Hal ini dibuktikan dengan penyerahan dana bantuan yang didapat dari pusat perjudian di Amsterdam, Belanda.
Menurutnya, selama ini hasil bumi dari Indonesia cukup bagus. Tapi greenpeace selalu mengatakan sebaliknya. Dirinya menduga, ini merupakan salah satu cara untuk menjatuhkan citra Indonesia di Mata Dunia.
"Kami menuntut agar Greenpeace dibubarkan, karena menggunakan dana operasional dari uang haram," tuturnya di depan kantor Greenpeace.
Kepala Greenpeace Indonesia Nur Hidayati menantang pihak yang menudingnya itu untuk berdialog.
Dengan tegas dia menyatakan, sebagai Non Goverment Organitation (NGO) yang konsentrasi terhadap lingkungan, Greenpeace tidak menerima aliran dana dari perjudian seperti dituduhkan itu.
"Selama ini Greenpeace Indonesia mendapatkan dana dari individu warga Indonesia. Biasanya relawan greenpeace stand by di mal, dan memberikan penjelasan mengenai kerusakan alam akibat produksi hasil bumi yang tidak ramah lingkungan," jelas Nur Hidayati kepada wartawan, Kamis (19/8/2012).
Sebagai bentuk profesionalisme, pihaknya selalu melakukan audit keuangan tiap tahunnya. Dan hasilnya selalu dipublikasi di media cetak nasional.
"Kami menduga aksi sekelompok orang yang mendemo dan menuding Greenpeace hanya salah paham dan tidak mengetahui pasti apa itu Greenpeace. Kami siap berdialog, asas kami memang selalu mengedepankan dialog dan sekuat mungkin tidak menimbulkan korban," tuturnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, kantor Greenpeace Indonesia di Jalan KH Abdullah Syafi'ie, Tebet, Jakarta Selatan, didemo oleh puluhan orang yang tergabung dalam Barda Salam pukul 10.30 WIB.
Dalam demo itu, Koordinator aksi Cahyo Putranto menuding Greenpeace sebagai antek asing. Hal ini dibuktikan dengan penyerahan dana bantuan yang didapat dari pusat perjudian di Amsterdam, Belanda.
Menurutnya, selama ini hasil bumi dari Indonesia cukup bagus. Tapi greenpeace selalu mengatakan sebaliknya. Dirinya menduga, ini merupakan salah satu cara untuk menjatuhkan citra Indonesia di Mata Dunia.
"Kami menuntut agar Greenpeace dibubarkan, karena menggunakan dana operasional dari uang haram," tuturnya di depan kantor Greenpeace.
(lns)