Presiden hormati pilihan warga
Kamis, 19 Juli 2012 - 08:35 WIB
Presiden hormati pilihan warga
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghargai pilihan warga DKI Jakarta yang memilih pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahja Purnama (Ahok) sehingga memimpin perolehan suara.
Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan, warga DKI telah menjalankan proses demokrasi yang baik dan menjadi warga negara yang baik sehingga Pilkada DKI putaran pertama berjalan dengan tertib dan lancar.
”Presiden sangat menghargai pilihan warga DKI yang berpartisipasi penuh pada pilkada kemarin. Presiden juga berharap agar putaran kedua nanti semua warga bisa kembali memilih calon gubernur yang mereka inginkan,” ujar Julian kepada SINDO kemarin.
Menurut mantan dosen Universitas Indonesia itu, Presiden telah berkomunikasi dengan kader Partai Demokrat (PD) yang mengusung Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara).
Namun Julian enggan menyampaikan secara spesifik mengenai koordinasi SBY selaku Ketua Dewan Pembina PD dengan kadernya. ”Komunikasi dengan kader itu tentu sudah ada, tapi saya tidak mengetahui secara spesifik soal itu,” tandasnya.
Pada putaran kedua nanti, lanjut Julian, Presiden berharap seluruh warga DKI berpartisipasi penuh dan menjalankan pemilihan dengan tertib. Presiden pun akan mengikuti secara langsung proses Pilkada DKI putaran kedua yang akan digelar pada 20 September.
”Presiden selalu mengikuti proses ini. Presiden mengapresiasi warga Jakarta yang bisa melaksanakan proses pilkada putaran pertama dengan tertib dan harapan beliau di putaran kedua juga seperti itu,” jelasnya.
Meski kadernya kalah, Presiden SBY tidak mengomentari kemenangan pasangan Jokowi- Ahok yang diusung PDIP dan Gerindra itu. Komentar Presiden, menurut Julian, lebih pada sikap warga DKI Jakarta yang telah melangsungkan pilkada dengan baik sebagai warga negara.
”Siapa pun yang dipilih nanti dan menjadi pemenang pada putaran kedua, maka itu adalah pilihan warga DKI dan harus dihormati semua calon gubernur,” tandasnya.
Sementara itu Boy Bernardi Sadikin, ketua tim sukses Jokowi- Ahok, menuturkan pihaknya juga berharap putaran kedua nantinya pun berlangsung lebih baik.
Politikus asal PDIP ini menyadari pada putaran kedua ini eskalasi politik semakin meningkat. Hal ini tentu saja membuat masyarakat Jakarta lebih mudah terpancing dengan adanya beragam isu dan opini publik.
Untuk menyiasatinya, menurut Boy, semua personel tim sukses menekankan agar para relawan dan tim pemenangan di tingkat bawah untuk lebih rasional menanggapi semua isu yang berkembang.
Terutama terhadap adanya isu berbau kampanye hitam. Dengan menjaga suasana Jakarta lebih aman ini, hasilnya akan dinikmati warga Jakarta itu sendiri.
Anggota Komisi D DPRD DKI itu meminta semua pihak, baik tim sukses dari rival, masyarakat maupun elemen lainnya, untuk turut menjaga keamanan Jakarta. ”Bila mereka membuat suasana gaduh, mereka yang akan rugi,” ungkap anak mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin itu.
Sekretaris DPD Partai Demokrat DKI Irfan Gani menambahkan, pihaknya juga menjaga suasana politik di Jakarta agar aman dan damai. Jika terdapat perubahan eskalasi politik, dia mengklaim pihaknya tidak terpancing informasi dan isu-isu tidak cerdas. ”Dalam politik perubahan, eskalasi itu biasa saja.Hanya saja eskalasi tersebut harus bernilai sisi pendidikan politik,” jelasnya.
Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto menuturkan, menghadapi putaran kedua Pilkada DKI Jakarta ini, eskalasi politik cenderung memanas.
Pertarungan kandidat lebih mengarah head to head. Dukungan warga yang sebelumnya terpecah di enam pasangan cagub kini makin mengerucut. Tentu saja tim sukses setiap calon terus berupaya memenangkan kandidat dengan elegan.
Namun eskalasi yang semakin panas ini kerap dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk memperkeruh suasana Jakarta. Pihak ini mencoba membuat sebuah isu untuk memunculkan gagasan yang menimbulkan polemik.
Cara ini dianggap bagian dari strategi bagi kedua belah pihak untuk mendapatkan simpati pemilih. Apalagi tipikal pemilih DKI ini adalah pemilih melankolis.
Pemilih seperti itu kerap membela atau menjatuhkan pilihannya kepada calon yang teraniaya. Cara seperti ini umumnya dimunculkan di menit- menit terakhir menjelang pemilihan.
Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan, warga DKI telah menjalankan proses demokrasi yang baik dan menjadi warga negara yang baik sehingga Pilkada DKI putaran pertama berjalan dengan tertib dan lancar.
”Presiden sangat menghargai pilihan warga DKI yang berpartisipasi penuh pada pilkada kemarin. Presiden juga berharap agar putaran kedua nanti semua warga bisa kembali memilih calon gubernur yang mereka inginkan,” ujar Julian kepada SINDO kemarin.
Menurut mantan dosen Universitas Indonesia itu, Presiden telah berkomunikasi dengan kader Partai Demokrat (PD) yang mengusung Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara).
Namun Julian enggan menyampaikan secara spesifik mengenai koordinasi SBY selaku Ketua Dewan Pembina PD dengan kadernya. ”Komunikasi dengan kader itu tentu sudah ada, tapi saya tidak mengetahui secara spesifik soal itu,” tandasnya.
Pada putaran kedua nanti, lanjut Julian, Presiden berharap seluruh warga DKI berpartisipasi penuh dan menjalankan pemilihan dengan tertib. Presiden pun akan mengikuti secara langsung proses Pilkada DKI putaran kedua yang akan digelar pada 20 September.
”Presiden selalu mengikuti proses ini. Presiden mengapresiasi warga Jakarta yang bisa melaksanakan proses pilkada putaran pertama dengan tertib dan harapan beliau di putaran kedua juga seperti itu,” jelasnya.
Meski kadernya kalah, Presiden SBY tidak mengomentari kemenangan pasangan Jokowi- Ahok yang diusung PDIP dan Gerindra itu. Komentar Presiden, menurut Julian, lebih pada sikap warga DKI Jakarta yang telah melangsungkan pilkada dengan baik sebagai warga negara.
”Siapa pun yang dipilih nanti dan menjadi pemenang pada putaran kedua, maka itu adalah pilihan warga DKI dan harus dihormati semua calon gubernur,” tandasnya.
Sementara itu Boy Bernardi Sadikin, ketua tim sukses Jokowi- Ahok, menuturkan pihaknya juga berharap putaran kedua nantinya pun berlangsung lebih baik.
Politikus asal PDIP ini menyadari pada putaran kedua ini eskalasi politik semakin meningkat. Hal ini tentu saja membuat masyarakat Jakarta lebih mudah terpancing dengan adanya beragam isu dan opini publik.
Untuk menyiasatinya, menurut Boy, semua personel tim sukses menekankan agar para relawan dan tim pemenangan di tingkat bawah untuk lebih rasional menanggapi semua isu yang berkembang.
Terutama terhadap adanya isu berbau kampanye hitam. Dengan menjaga suasana Jakarta lebih aman ini, hasilnya akan dinikmati warga Jakarta itu sendiri.
Anggota Komisi D DPRD DKI itu meminta semua pihak, baik tim sukses dari rival, masyarakat maupun elemen lainnya, untuk turut menjaga keamanan Jakarta. ”Bila mereka membuat suasana gaduh, mereka yang akan rugi,” ungkap anak mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin itu.
Sekretaris DPD Partai Demokrat DKI Irfan Gani menambahkan, pihaknya juga menjaga suasana politik di Jakarta agar aman dan damai. Jika terdapat perubahan eskalasi politik, dia mengklaim pihaknya tidak terpancing informasi dan isu-isu tidak cerdas. ”Dalam politik perubahan, eskalasi itu biasa saja.Hanya saja eskalasi tersebut harus bernilai sisi pendidikan politik,” jelasnya.
Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto menuturkan, menghadapi putaran kedua Pilkada DKI Jakarta ini, eskalasi politik cenderung memanas.
Pertarungan kandidat lebih mengarah head to head. Dukungan warga yang sebelumnya terpecah di enam pasangan cagub kini makin mengerucut. Tentu saja tim sukses setiap calon terus berupaya memenangkan kandidat dengan elegan.
Namun eskalasi yang semakin panas ini kerap dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk memperkeruh suasana Jakarta. Pihak ini mencoba membuat sebuah isu untuk memunculkan gagasan yang menimbulkan polemik.
Cara ini dianggap bagian dari strategi bagi kedua belah pihak untuk mendapatkan simpati pemilih. Apalagi tipikal pemilih DKI ini adalah pemilih melankolis.
Pemilih seperti itu kerap membela atau menjatuhkan pilihannya kepada calon yang teraniaya. Cara seperti ini umumnya dimunculkan di menit- menit terakhir menjelang pemilihan.
(lns)