Ajak anak muda cintai budaya tradisional
Senin, 09 Juli 2012 - 09:32 WIB
Ajak anak muda cintai budaya tradisional
A
A
A
BAGI sebagian orang terutama anak muda, gamelan tak lebih dari sekadar mendendangkan lagu-lagu Jawa yang acapkali dinilai ‘membosankan’.
Namun anggapan ini seakan hilang dalam kegiatan Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) yang diadakan di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri Universitas Gadjah Mada (UGM). Pagelaran yang dihelat selama tiga hari mulai 5-7 Juli ini mampu menarik minat anak muda untuk mencintai dan menggemari musik warisan leluhur.
Kehadiran YGF ini ternyata membawa dampak positif bagi generasi muda untuk melestarikan alat musik tradisional gamelan dengan cara yang berbeda, tentunya sesuai gaya khas anak muda sekarang.
Namun, tidak berarti menghilangkan akar warisan luhur seni budaya. Selama ini gamelan dimainkan dengan suasana yang formal, kaku dan terkesan monoton. Namun, kini gamelan dapat dikolaborasikan dengan aliran musik masa kini.
Tak hanya digemari remaja dan anak muda, dalam pertunjukan YGF anak-anak SD dan SMP terlihat piawai bermain gamelan diiringi lagu berbahasa Indonesia hingga lagu barat. Srawung Gamelan, contohnya. Peserta asalKota Yogyayang terdiri atas sekumpulan anak sekolah dasar ini tak hanya pandai menyanyikan lagu-lagu Jawa, seperti jathilan dan playon.
Mereka juga fasih menyanyikan lagu milik Bruno Mars, penyanyi asal Amerika yang lagu-lagunya menjadi tren di kalangan remaja. YGF ini diprakarsai Komunitas Gayam 16 yang merupakan sekelompok anak muda pecinta musik gamelan.
“Tema YGF kali ini bertajuk Why, seperti penyelenggaraan YGF sebelum-sebelumnya kami mengemas gamelan festival tidak hanya sebagai sebuah rangkaian pertunjukkan musik melainkan mengajak kita kembali berdialog dengan diri kita sendiri atas pilihan yang kita buat dan pilihan itu adalah gamelan,” ujar Program Director YGF, Ari Wulu, beberapa waktu lalu.
Tak hanya di Yogyakarta, festival gamelan juga digelar di Sanggar Seni Sekar Jagad,Desa Bakalan, Polokarto, Sukoharjo.
”Sukoharjo memiliki image negatif karena teroris. Untuk itu, dengan gamelan kami ingin merubah image tersebut.Gamelan adalah pemersatu masyarakat,” kata Pemilik Sanggar Seni Sekar Jagad Joko Ngadimin.
Namun anggapan ini seakan hilang dalam kegiatan Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) yang diadakan di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri Universitas Gadjah Mada (UGM). Pagelaran yang dihelat selama tiga hari mulai 5-7 Juli ini mampu menarik minat anak muda untuk mencintai dan menggemari musik warisan leluhur.
Kehadiran YGF ini ternyata membawa dampak positif bagi generasi muda untuk melestarikan alat musik tradisional gamelan dengan cara yang berbeda, tentunya sesuai gaya khas anak muda sekarang.
Namun, tidak berarti menghilangkan akar warisan luhur seni budaya. Selama ini gamelan dimainkan dengan suasana yang formal, kaku dan terkesan monoton. Namun, kini gamelan dapat dikolaborasikan dengan aliran musik masa kini.
Tak hanya digemari remaja dan anak muda, dalam pertunjukan YGF anak-anak SD dan SMP terlihat piawai bermain gamelan diiringi lagu berbahasa Indonesia hingga lagu barat. Srawung Gamelan, contohnya. Peserta asalKota Yogyayang terdiri atas sekumpulan anak sekolah dasar ini tak hanya pandai menyanyikan lagu-lagu Jawa, seperti jathilan dan playon.
Mereka juga fasih menyanyikan lagu milik Bruno Mars, penyanyi asal Amerika yang lagu-lagunya menjadi tren di kalangan remaja. YGF ini diprakarsai Komunitas Gayam 16 yang merupakan sekelompok anak muda pecinta musik gamelan.
“Tema YGF kali ini bertajuk Why, seperti penyelenggaraan YGF sebelum-sebelumnya kami mengemas gamelan festival tidak hanya sebagai sebuah rangkaian pertunjukkan musik melainkan mengajak kita kembali berdialog dengan diri kita sendiri atas pilihan yang kita buat dan pilihan itu adalah gamelan,” ujar Program Director YGF, Ari Wulu, beberapa waktu lalu.
Tak hanya di Yogyakarta, festival gamelan juga digelar di Sanggar Seni Sekar Jagad,Desa Bakalan, Polokarto, Sukoharjo.
”Sukoharjo memiliki image negatif karena teroris. Untuk itu, dengan gamelan kami ingin merubah image tersebut.Gamelan adalah pemersatu masyarakat,” kata Pemilik Sanggar Seni Sekar Jagad Joko Ngadimin.
(azh)