Warga Jakarta ingin suasana tetap kondusif
Jum'at, 06 Juli 2012 - 08:15 WIB
Warga Jakarta ingin suasana tetap kondusif
A
A
A
Sindonews.com – Warga keturunan Tionghoa yang mayoritas berprofesi sebagai pedagang, menginginkan suasana tetap kondusif setelah Pilkada 11 Juli 2012 mendatang.
Selama ini, mereka menjalani aktivitas tanpa mengalami gangguan. Ahong (45), pedagang ponsel di ITC Roxy, Jakarta Barat, mengaku sudah merasa nyaman dengan kondisi lima tahun terakhir. Menurut dia, situasi yang aman membuat warga Tionghoa lebih tenang menjalankan bisnis. "Sebagai pedagang, kami menginginkan suasana yang aman dan nyaman. Sejak 2007 sampai saat ini, kondisi Jakarta cukup stabil. Perekonomian dan daya beli masyarakat juga naik,” kata Ahong, di Jakarta, Kamis 5 Juli 2012.
Menurut dia, keberadaan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tidak mampu merebut simpati mayoritas warga Tionghoa yang berprofesi sebagai pedagang. Alasannya, untuk memimpin Ibu Kota dibutuhkan figur yang berpengalaman dan terbukti mampu. "Kalau Jakarta dipimpin beda orang, saya takut kondisi keamanannya juga berbeda. Jakarta itu sentral bisnis, yang lama saja sudah nyaman, jadi buat apa gubernur baru,” ungkapnya.
Pendapat serupa disampaikan Kendi (30), pedagang di Pasar Tanah Abang. Dirinya pun memastikan tetap mendukung pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli untuk melanjutkan pembangunan. "Kalau ditanya coblos siapa, kita tetap yang pada gubernur sebelumnya. Kalau yang lain, belum tentu ada jaminan keamanan. Orang berdagang itu bergantung pada keamanan. Walau satu etnis, bukan berarti kita setuju, Jakarta itu bukan untuk coba-coba,” tegasnya.
Tidak jauh berbeda dengan pengakuan Dermawan (40),warga Kepala Gading, Jakarta Utara. Pria yang memiliki toko di kawasan Glodok ini mengaku tidak mau berspekulasi dalam memberikan dukungan. Menurut dia, referensi utama adalah kemampuan dan pengalaman masing-masing cagub.
"Kondisi saat ini sudah benar-benar stabil, jadi buat apa saya coblos yang lain. Saya tidak mau sebut nama, yang pasti saya akan pilih wajah lama, karena dia mampu menjaga stabilitas keamanan dan kondisi ekonomi Ibu Kota. Kalau aman, pedagang juga tenang jualan,” ungkap Dermawan.
Ketua Umum Yayasan Lestari Kebudayaan Tionghoa Indonesia (YLKTI) Suhu Acai juga menegaskan, Jakarta harus dipimpin figur yang mengetahui seluk-beluk Ibu Kota. Menurut dia, karakteristik warga Ibu Kota yang plural harus menjadi perhatian khusus. "Kami tidak mau asal coblos. Suasana saat ini sudah kondusif, baik untuk dunia usaha maupun toleransi beragama,” ungkapnya.
Dukungan YLKTI sudah disampaikan secara resmi ke cawagub Nachrowi Ramli di Media Center Pemenangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, Jalan Diponegoro, bulan lalu. Suhu Acai mengatakan bahwa pemberian dukungan ini berdasarkan prediksi bahwa pasangan incumbent dapat menang satu putaran. "Kami yakin Pak Foke sama Nachrowi Ramli bisa menang satu putaran,” ujarnya.
Alasan kemenangan itu, kata Susu Acai, karena kandidat ini dianggap masyarakat paling berpengalaman dan memiliki keahlian di bidang masing-masing. Seperti Fauzi Bowo merupakan seorang birokrat yang lahir dan besar di Jakarta. Dia mengetahui sekali seluk-beluk dan memahami karakteristik masyarakat Jakarta, sedangkan Nachrowi Ramli merupakan cawagub memiliki pengalaman di bidang militer.
Keberadaannya dapat membantu pemerintah daerah dalam menangani persoalan keamanan di Jakarta. "Beliau orang Betawi dan pensiunan tentara. Pastilah dapat mengetahui cara mengamankan kota ini. Maka serahkan kepada orang yang telah memiliki pengalaman,” ungkapnya.
Kini YLKTI memiliki pengurus dan anggota di Jakarta sebanyak 200.000 orang. Jumlah tersebut nanti dijadikan sebagai alat untuk memenangkan Foke-Nara ke seluruh pemilih dari etnis Tionghoa yang lain. "Kami menjadikan modal anggota sebanyak 200.000 sebagai alat perjuangan untuk memenangkan Pak Foke dan Nara,” kata Suhu Acai.
Suhu Acai menegaskan, dalam politik setiap orang memiliki hak dalam menentukan pilihan. "Bukan berarti kami menganut etnisisme atau primodilisme dalam sikap politik,” tandas Acai.
Selama ini, mereka menjalani aktivitas tanpa mengalami gangguan. Ahong (45), pedagang ponsel di ITC Roxy, Jakarta Barat, mengaku sudah merasa nyaman dengan kondisi lima tahun terakhir. Menurut dia, situasi yang aman membuat warga Tionghoa lebih tenang menjalankan bisnis. "Sebagai pedagang, kami menginginkan suasana yang aman dan nyaman. Sejak 2007 sampai saat ini, kondisi Jakarta cukup stabil. Perekonomian dan daya beli masyarakat juga naik,” kata Ahong, di Jakarta, Kamis 5 Juli 2012.
Menurut dia, keberadaan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tidak mampu merebut simpati mayoritas warga Tionghoa yang berprofesi sebagai pedagang. Alasannya, untuk memimpin Ibu Kota dibutuhkan figur yang berpengalaman dan terbukti mampu. "Kalau Jakarta dipimpin beda orang, saya takut kondisi keamanannya juga berbeda. Jakarta itu sentral bisnis, yang lama saja sudah nyaman, jadi buat apa gubernur baru,” ungkapnya.
Pendapat serupa disampaikan Kendi (30), pedagang di Pasar Tanah Abang. Dirinya pun memastikan tetap mendukung pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli untuk melanjutkan pembangunan. "Kalau ditanya coblos siapa, kita tetap yang pada gubernur sebelumnya. Kalau yang lain, belum tentu ada jaminan keamanan. Orang berdagang itu bergantung pada keamanan. Walau satu etnis, bukan berarti kita setuju, Jakarta itu bukan untuk coba-coba,” tegasnya.
Tidak jauh berbeda dengan pengakuan Dermawan (40),warga Kepala Gading, Jakarta Utara. Pria yang memiliki toko di kawasan Glodok ini mengaku tidak mau berspekulasi dalam memberikan dukungan. Menurut dia, referensi utama adalah kemampuan dan pengalaman masing-masing cagub.
"Kondisi saat ini sudah benar-benar stabil, jadi buat apa saya coblos yang lain. Saya tidak mau sebut nama, yang pasti saya akan pilih wajah lama, karena dia mampu menjaga stabilitas keamanan dan kondisi ekonomi Ibu Kota. Kalau aman, pedagang juga tenang jualan,” ungkap Dermawan.
Ketua Umum Yayasan Lestari Kebudayaan Tionghoa Indonesia (YLKTI) Suhu Acai juga menegaskan, Jakarta harus dipimpin figur yang mengetahui seluk-beluk Ibu Kota. Menurut dia, karakteristik warga Ibu Kota yang plural harus menjadi perhatian khusus. "Kami tidak mau asal coblos. Suasana saat ini sudah kondusif, baik untuk dunia usaha maupun toleransi beragama,” ungkapnya.
Dukungan YLKTI sudah disampaikan secara resmi ke cawagub Nachrowi Ramli di Media Center Pemenangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, Jalan Diponegoro, bulan lalu. Suhu Acai mengatakan bahwa pemberian dukungan ini berdasarkan prediksi bahwa pasangan incumbent dapat menang satu putaran. "Kami yakin Pak Foke sama Nachrowi Ramli bisa menang satu putaran,” ujarnya.
Alasan kemenangan itu, kata Susu Acai, karena kandidat ini dianggap masyarakat paling berpengalaman dan memiliki keahlian di bidang masing-masing. Seperti Fauzi Bowo merupakan seorang birokrat yang lahir dan besar di Jakarta. Dia mengetahui sekali seluk-beluk dan memahami karakteristik masyarakat Jakarta, sedangkan Nachrowi Ramli merupakan cawagub memiliki pengalaman di bidang militer.
Keberadaannya dapat membantu pemerintah daerah dalam menangani persoalan keamanan di Jakarta. "Beliau orang Betawi dan pensiunan tentara. Pastilah dapat mengetahui cara mengamankan kota ini. Maka serahkan kepada orang yang telah memiliki pengalaman,” ungkapnya.
Kini YLKTI memiliki pengurus dan anggota di Jakarta sebanyak 200.000 orang. Jumlah tersebut nanti dijadikan sebagai alat untuk memenangkan Foke-Nara ke seluruh pemilih dari etnis Tionghoa yang lain. "Kami menjadikan modal anggota sebanyak 200.000 sebagai alat perjuangan untuk memenangkan Pak Foke dan Nara,” kata Suhu Acai.
Suhu Acai menegaskan, dalam politik setiap orang memiliki hak dalam menentukan pilihan. "Bukan berarti kami menganut etnisisme atau primodilisme dalam sikap politik,” tandas Acai.
(lil)