Cagub Independen minim dukungan
Kamis, 05 Juli 2012 - 09:02 WIB
Cagub Independen minim dukungan
A
A
A
Sindonews.com - Langkah dua pasangan calon gubernur (cagub) dari jalur independen, yakni Hendardji Soepandji-A Riza Patria dan Faisal Basri-Biem Benjamin untuk memenangkan Pilkada DKI Jakarta 2012 sangat berat. Warga Ibu Kota tidak terlalu antusias menyambut kehadiran pasangan cagub independen.
Minimnya dukungan tersebut tergambar dari hasil survei sejumlah lembaga. Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) terhadap 450 responden akhir bulan lalu menyebutkan, tingkat elektabilitas dari pasangan Faisal-Biem hanya sekitar 1,8%, sedangkan Hendardji-Riza berada di urutan buncit dengan perolehan 0,5%.
Sementara pasangan cagub yang diusung partai politik (parpol), jauh meninggalkan mereka. Pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli memperoleh dukungan sebesar 43,7%,lalu Joko Widodo-Basuki TjahjaPurnama 14,4%.
Sementara pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini memperoleh 5,3% dan Alex Noerdin-Nono Sampono mendapatkan 4,6%. Survei ini menggunakan metode wawancara tatap muka menggunakan kuesioner acak.Artinya, survei tersebut menyentuh warga dari semua lapisan.
Hasil ini tidak jauh dari survei Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang membidik kalangan menengah ke atas melalui polling telepon.
Faisal-Biem mendapat 2,7%, dan Hendardji-Riza 1,1%. Sementara posisi teratas, ditempati pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dengan perolehan elektabilitas 24,5% dan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama dengan 22,7%. Kemudian Hidayat Nur Wahid- Didik J Rachbini 4,9% dan Alex Noerdin-Nono Sampono 2,8%.
Peneliti LP3ES Suhardi mengatakan, keberadaan cagub independen seperti Faisal Basri dan Hendardji berada di tingkat bawah,karena sosoknya belum dikenal baik oleh warga. Bila pun dikenal, itu hanya kalangan tertentu. Selama ini sosok Faisal Basri hanya dikenal kalangan akademisi dan menengah ke atas. "Ternyata Faisal Basri di tingkat menengah atas pun belum begitu menokoh," kata Suhardi kemarin.
Tak jauh berbeda dengan nasib yang dialami Hendardji. Cagub nomor urut 2 ini pun tidak begitu terkenal di lapisan bawah. Latar belakang militer tidak menjadi jaminan bagi Hendardji dikenal warga. "Semestinya cagub militer itu penampilan gagah tegas. Sayang asosiasi ke arah itu tidak didapatkan," ujarnya.
Sementara itu, peneliti LSI Toto Izul Fatah menuturkan bahwa sosialisasi cagub independen ini belum signifikan untuk meyakinkan publik Jakarta. Isu-isu politik selama kampanye pun tidak terlihat dengan jelas. Tindakan calon independen ini hampir sama dengan calon lain.
"Mestinya ada trademark tersendiri bagi setiap kandidat berdasarkan penampilannya," ujar Toto.
Menurut pengamat politik Universitas Nasional (Unas) M Alfan Alfian, cagub dari jalur independen, tingkat ketokohan baru dikenal oleh kalangan tertentu saja. Belum melampaui calon dari partai politik. Selama ini, calon dari parpol telah lama tampil di depan publik dengan kapasitas beragam. Upaya pembentukan ketokohan dari kalangan parpol ini pun masif.
"Calon independen harus membuat mesin politik sendiri dan itu cukup berat," tandas Alfan.
Dani Pin, media relation tim sukses pemenangan Faisal-Biem, tidak mempersoalkan hasil survei sejumlah lembaga. Pihaknya hanya memaksimalkan kesempatan kampanye yang diberikan KPU DKI Jakarta.
"Kalau kita selalu berusaha untuk selalu optimistis saja. Survei itu kan pesanan, kita tetap terus berdaya bareng- bareng untuk memenangkan pasangan yang diusung oleh warga ini," ujarnya.
Menurutnya, dari data KTP yang didapatnya sewaktu mengumpulkan syarat independen saja pasangannya telah meraup 407.000 KTP beserta tanda tangan yang sah. Poltak Ike Wibowo, anggota tim sukses pasangan Hendardji-Riza, ragu dengan hasil survei tersebut.
"Nyatanya tim Hendardji berhasil mengumpulkan lebih dari 407.000 fotokopi KTP. Hasil survei seperti itu ya biarlah,yang penting kita jalan terus dan kenyataannya pendukung kita semakin bertambah," tuturnya.
Minimnya dukungan tersebut tergambar dari hasil survei sejumlah lembaga. Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) terhadap 450 responden akhir bulan lalu menyebutkan, tingkat elektabilitas dari pasangan Faisal-Biem hanya sekitar 1,8%, sedangkan Hendardji-Riza berada di urutan buncit dengan perolehan 0,5%.
Sementara pasangan cagub yang diusung partai politik (parpol), jauh meninggalkan mereka. Pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli memperoleh dukungan sebesar 43,7%,lalu Joko Widodo-Basuki TjahjaPurnama 14,4%.
Sementara pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini memperoleh 5,3% dan Alex Noerdin-Nono Sampono mendapatkan 4,6%. Survei ini menggunakan metode wawancara tatap muka menggunakan kuesioner acak.Artinya, survei tersebut menyentuh warga dari semua lapisan.
Hasil ini tidak jauh dari survei Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang membidik kalangan menengah ke atas melalui polling telepon.
Faisal-Biem mendapat 2,7%, dan Hendardji-Riza 1,1%. Sementara posisi teratas, ditempati pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dengan perolehan elektabilitas 24,5% dan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama dengan 22,7%. Kemudian Hidayat Nur Wahid- Didik J Rachbini 4,9% dan Alex Noerdin-Nono Sampono 2,8%.
Peneliti LP3ES Suhardi mengatakan, keberadaan cagub independen seperti Faisal Basri dan Hendardji berada di tingkat bawah,karena sosoknya belum dikenal baik oleh warga. Bila pun dikenal, itu hanya kalangan tertentu. Selama ini sosok Faisal Basri hanya dikenal kalangan akademisi dan menengah ke atas. "Ternyata Faisal Basri di tingkat menengah atas pun belum begitu menokoh," kata Suhardi kemarin.
Tak jauh berbeda dengan nasib yang dialami Hendardji. Cagub nomor urut 2 ini pun tidak begitu terkenal di lapisan bawah. Latar belakang militer tidak menjadi jaminan bagi Hendardji dikenal warga. "Semestinya cagub militer itu penampilan gagah tegas. Sayang asosiasi ke arah itu tidak didapatkan," ujarnya.
Sementara itu, peneliti LSI Toto Izul Fatah menuturkan bahwa sosialisasi cagub independen ini belum signifikan untuk meyakinkan publik Jakarta. Isu-isu politik selama kampanye pun tidak terlihat dengan jelas. Tindakan calon independen ini hampir sama dengan calon lain.
"Mestinya ada trademark tersendiri bagi setiap kandidat berdasarkan penampilannya," ujar Toto.
Menurut pengamat politik Universitas Nasional (Unas) M Alfan Alfian, cagub dari jalur independen, tingkat ketokohan baru dikenal oleh kalangan tertentu saja. Belum melampaui calon dari partai politik. Selama ini, calon dari parpol telah lama tampil di depan publik dengan kapasitas beragam. Upaya pembentukan ketokohan dari kalangan parpol ini pun masif.
"Calon independen harus membuat mesin politik sendiri dan itu cukup berat," tandas Alfan.
Dani Pin, media relation tim sukses pemenangan Faisal-Biem, tidak mempersoalkan hasil survei sejumlah lembaga. Pihaknya hanya memaksimalkan kesempatan kampanye yang diberikan KPU DKI Jakarta.
"Kalau kita selalu berusaha untuk selalu optimistis saja. Survei itu kan pesanan, kita tetap terus berdaya bareng- bareng untuk memenangkan pasangan yang diusung oleh warga ini," ujarnya.
Menurutnya, dari data KTP yang didapatnya sewaktu mengumpulkan syarat independen saja pasangannya telah meraup 407.000 KTP beserta tanda tangan yang sah. Poltak Ike Wibowo, anggota tim sukses pasangan Hendardji-Riza, ragu dengan hasil survei tersebut.
"Nyatanya tim Hendardji berhasil mengumpulkan lebih dari 407.000 fotokopi KTP. Hasil survei seperti itu ya biarlah,yang penting kita jalan terus dan kenyataannya pendukung kita semakin bertambah," tuturnya.
(san)