Foke-Jokowi bersaing ketat
Rabu, 04 Juli 2012 - 08:34 WIB
Foke-Jokowi bersaing ketat
A
A
A
Sindonews.com – Menjelang Pilkada DKI Jakarta 2012, persaingan semakin ketat. Pasangan Fauzi Bowo (Foke)–Nachrowi Ramli (Nara) perlahan mulai dikejar pasangan Joko Widodo (Jokowi)–Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Berdasarkan hasil survei jurnal Prisma bersama Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), serta MNC Research pada 30 Juni-1 Juli 2012 terhadap 750 responden, elektabilitas pasangan Foke-Nara mencapai 24,5%. Posisi kedua ditempati Jokowi-Ahok dengan perolehan 22,7%. Sementara pasangan Hidayat Nur Wahid–Didik J Rachbini 4,9%, Alex Noerdin-Nono Sampono 2,8%, Faisal Basri-Biem Benjamin 2,7%, dan Hendardji Soepandji-A Riza Patria hanya 1,1%.
Peneliti LP3ES Suhardi mengatakan, survei tersebut menggunakan metode jajak pendapat telepon (telepoling). Dengan sebaran sampling responden di lima wilayah DKI Jakarta, minus kabupaten Kepulauan Seribu sebanyak 750 orang. Pada survei ini terdapat tingkat margin of error sebesar 3,8%. “Selisih kedua pasang kandidat ini di dalam survei hanya 2%,” kata Suhardi saat menyampaikan hasil survei itu di MNC Tower, Jakarta Pusat, Selasa, 3 Juli 2012.
Dia menambahkan, dengan jarak 2% ini, posisi incumbent Foke-Nara relatif terancam. Pencapaian ini merupakan akumulasi tren sejak beberapa bulan terakhir, di mana calon nomor satu itu mengalami tren menurun. Sebaliknya, Jokowi-Ahok mendapatkan tempat cukup fantastis di tengah masyarakat.
Chief Editor Prisma Daniel Dhakidae menambahkan, perolehan suara kandidat calon yang diusung Partai Demokrat ini relatif merata di setiap daerah, kecuali Jakarta Timur.
Jakarta Timur dikuasai Jokowi- Ahok. Dia menyebutkan, survei ini hanya menyentuh masyarakat pemilih tingkat menengah ke atas. Pilihan metode ini diambil karena masyarakat kalangan menengah ini memiliki tingkat pendidikan dan cukup tinggi. Mereka kerap selalu mencari informasi terbaru tentang politik Jakarta.
Para responden ini kerap menonton berita di televisi. Stasiun televisi yang banyak ditonton yakni TV One 26,8%; RCTI 20,9%; dan Metro TV 18,8%.
“Responden ini memiliki pengaruh besar terhadap warga di sekitarnya, baik terhadap keluarga, tetangga, atau rekannya. Mereka bahkan cukup cerdas dalam menentukan pilihan,” ujar Daniel Dhakidae.
Dengan enam pasangan calon yang bertarung, sebut Daniel, 90% warga Jakarta dipastikan bersedia untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Namun, antusias itu belum dapat menggambarkan pilihan siapa kandidat terbanyak dipilih karena di survei ini masih terdapat swing voters atau merahasiakan pemilihan sebanyak 38,4%.
Head of Research MNC Media Yunita Mandolang menyebutkan, survei ini dilakukan karena saat ini MNC Media memiliki divisi riset. Sebagai langkah awal MNC Research mengambil momentum riset terhadap Pilkada DKI Jakarta. Pesta demokrasi ini mendapat perhatian masyarakat Ibu Kota.
“Survei ini nanti ada kelanjutan juga. Bisa nanti pada saat hari pemilihan melakukan polling hitungan cepat,” tandas Yunita.
Berdasarkan hasil survei jurnal Prisma bersama Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), serta MNC Research pada 30 Juni-1 Juli 2012 terhadap 750 responden, elektabilitas pasangan Foke-Nara mencapai 24,5%. Posisi kedua ditempati Jokowi-Ahok dengan perolehan 22,7%. Sementara pasangan Hidayat Nur Wahid–Didik J Rachbini 4,9%, Alex Noerdin-Nono Sampono 2,8%, Faisal Basri-Biem Benjamin 2,7%, dan Hendardji Soepandji-A Riza Patria hanya 1,1%.
Peneliti LP3ES Suhardi mengatakan, survei tersebut menggunakan metode jajak pendapat telepon (telepoling). Dengan sebaran sampling responden di lima wilayah DKI Jakarta, minus kabupaten Kepulauan Seribu sebanyak 750 orang. Pada survei ini terdapat tingkat margin of error sebesar 3,8%. “Selisih kedua pasang kandidat ini di dalam survei hanya 2%,” kata Suhardi saat menyampaikan hasil survei itu di MNC Tower, Jakarta Pusat, Selasa, 3 Juli 2012.
Dia menambahkan, dengan jarak 2% ini, posisi incumbent Foke-Nara relatif terancam. Pencapaian ini merupakan akumulasi tren sejak beberapa bulan terakhir, di mana calon nomor satu itu mengalami tren menurun. Sebaliknya, Jokowi-Ahok mendapatkan tempat cukup fantastis di tengah masyarakat.
Chief Editor Prisma Daniel Dhakidae menambahkan, perolehan suara kandidat calon yang diusung Partai Demokrat ini relatif merata di setiap daerah, kecuali Jakarta Timur.
Jakarta Timur dikuasai Jokowi- Ahok. Dia menyebutkan, survei ini hanya menyentuh masyarakat pemilih tingkat menengah ke atas. Pilihan metode ini diambil karena masyarakat kalangan menengah ini memiliki tingkat pendidikan dan cukup tinggi. Mereka kerap selalu mencari informasi terbaru tentang politik Jakarta.
Para responden ini kerap menonton berita di televisi. Stasiun televisi yang banyak ditonton yakni TV One 26,8%; RCTI 20,9%; dan Metro TV 18,8%.
“Responden ini memiliki pengaruh besar terhadap warga di sekitarnya, baik terhadap keluarga, tetangga, atau rekannya. Mereka bahkan cukup cerdas dalam menentukan pilihan,” ujar Daniel Dhakidae.
Dengan enam pasangan calon yang bertarung, sebut Daniel, 90% warga Jakarta dipastikan bersedia untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Namun, antusias itu belum dapat menggambarkan pilihan siapa kandidat terbanyak dipilih karena di survei ini masih terdapat swing voters atau merahasiakan pemilihan sebanyak 38,4%.
Head of Research MNC Media Yunita Mandolang menyebutkan, survei ini dilakukan karena saat ini MNC Media memiliki divisi riset. Sebagai langkah awal MNC Research mengambil momentum riset terhadap Pilkada DKI Jakarta. Pesta demokrasi ini mendapat perhatian masyarakat Ibu Kota.
“Survei ini nanti ada kelanjutan juga. Bisa nanti pada saat hari pemilihan melakukan polling hitungan cepat,” tandas Yunita.
(lil)