Selama 4 bulan, 36 kasus kebakaran terjadi
Rabu, 18 April 2012 - 08:55 WIB
Selama 4 bulan, 36 kasus kebakaran terjadi
A
A
A
Sindonews.com - Bencana kebakaran terus menjadi ancaman bagi warga Kota Semarang, mengingat cuaca panas dan populasi penduduk di Ibu Kota Jawa Tengah ini cukup tinggi.
“Semua warga harus bisa mengantisipasi bila terjadi kebakaran di lingkungannya walupun dengan cara sederhana, termasuk ibu-ibu rumah tangga,” kata staf Bidang Bimbingan dan Penyuluhan Dinas Kebekaran Kota Semarang, Kus Tri Wandonosaat saat simulasi pemadaman kebakaran di halaman Kantor Kecamatan Tugu Semarang, Selasa 17 April 2012.
Menurut Kus, ibu rumah tangga juga harus sigap apabila terjadi keakaran, karena banyak kasus kebakaran dipicu oleh kompor atau konsleting listrik yang berasal dari ruang dapur.
“Ibu-ibu banyak berperan di dapur, karena sering masak maupun membuat api. Jadi kalau terjadi kebakaran juga harus sigap,” imbuhnya.
Sosialisasi dan simulasi pemadaman yang disampaikan kepada ibu rumah tangga itu diharapkan bisa berperan aktif apabila terjadi kebakaran. Sehingga bisa melakukan antisipasi sendiri sebelum meminta pertolongan kepada orang lain.
“Walaupun kasus kebakaran di Semarang lebih banyak disebabkan oleh korsleting listrik. Tetapi kabakaran akibat kompor juga harus diantisipasi,” imbuhnya.
Sementara itu,Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional Dinas Kebakaran Kota Semarang, Sumarsono menjelaskan, kasus kebakaran di Semarang terus meningkat, hingga medio April tahun ini sudah terjadi 36 kali kasus kebakaran. Sementara pada tahun lalu mencapai 214 kasus. Sumarsono mengakui, semakin banyaknya jumlah penduduk dan industri di suatu kota, semakin banyak pula kasus kebekarannya.
“Kalau dikalkulasi, rata-rata di Kota Semarang terjadi kebakaran dua hari sekali. Sementara kalau di Jakarta sehari bisa dua kali,” katanya.
Menurut Sumarsono, faktor kebakarannya macam-macam, namun yang dominan selama lima tahun terakhir adalah karena listrik. Kasus kebakaran itu banyak terjadi di kawasan padat penduduk dan industri.
Sumarsono menilai, banyak warga yang berada di pemukiman padat penduduk ketika memasang intalasi listrik asal nyantol. Pihaknya berharap para warga dalam memasang listrik menggunakan kabel yang standar sesuai dengan kapasitas tegangannya.(azh)
“Semua warga harus bisa mengantisipasi bila terjadi kebakaran di lingkungannya walupun dengan cara sederhana, termasuk ibu-ibu rumah tangga,” kata staf Bidang Bimbingan dan Penyuluhan Dinas Kebekaran Kota Semarang, Kus Tri Wandonosaat saat simulasi pemadaman kebakaran di halaman Kantor Kecamatan Tugu Semarang, Selasa 17 April 2012.
Menurut Kus, ibu rumah tangga juga harus sigap apabila terjadi keakaran, karena banyak kasus kebakaran dipicu oleh kompor atau konsleting listrik yang berasal dari ruang dapur.
“Ibu-ibu banyak berperan di dapur, karena sering masak maupun membuat api. Jadi kalau terjadi kebakaran juga harus sigap,” imbuhnya.
Sosialisasi dan simulasi pemadaman yang disampaikan kepada ibu rumah tangga itu diharapkan bisa berperan aktif apabila terjadi kebakaran. Sehingga bisa melakukan antisipasi sendiri sebelum meminta pertolongan kepada orang lain.
“Walaupun kasus kebakaran di Semarang lebih banyak disebabkan oleh korsleting listrik. Tetapi kabakaran akibat kompor juga harus diantisipasi,” imbuhnya.
Sementara itu,Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional Dinas Kebakaran Kota Semarang, Sumarsono menjelaskan, kasus kebakaran di Semarang terus meningkat, hingga medio April tahun ini sudah terjadi 36 kali kasus kebakaran. Sementara pada tahun lalu mencapai 214 kasus. Sumarsono mengakui, semakin banyaknya jumlah penduduk dan industri di suatu kota, semakin banyak pula kasus kebekarannya.
“Kalau dikalkulasi, rata-rata di Kota Semarang terjadi kebakaran dua hari sekali. Sementara kalau di Jakarta sehari bisa dua kali,” katanya.
Menurut Sumarsono, faktor kebakarannya macam-macam, namun yang dominan selama lima tahun terakhir adalah karena listrik. Kasus kebakaran itu banyak terjadi di kawasan padat penduduk dan industri.
Sumarsono menilai, banyak warga yang berada di pemukiman padat penduduk ketika memasang intalasi listrik asal nyantol. Pihaknya berharap para warga dalam memasang listrik menggunakan kabel yang standar sesuai dengan kapasitas tegangannya.(azh)
()