Sudah dua minggu, gas tiga kg langka di Sulsel
Minggu, 12 Februari 2012 - 18:23 WIB
Sudah dua minggu, gas tiga kg langka di Sulsel
A
A
A
Sindonews.com - Sudah dua pekan kelangkaan gas elpiji ukuran tiga kilogram terjadi di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Kelangkaan ini berujung pada semakin tingginya harga elpiji. Harga normal gas elpiji ukuran tiga kilogram hanya Rp13 ribu, kini menjadi Rp20-25 ribu pertabung.
Warga menuding, kondisi ini dimanfaatkan oleh pedagang untuk menaikkan harga. Nani, seorang ibu rumah tangga mengaku membeli harga elpiji diatas harga biasa. "Bagaimana ini pak, elpiji sudah susah didapat, mahal lagi. Saya beli Rp20 ribu, padahal biasanya hanya Rp13 ribu," keluhnya.
Warga mengaku serba salah karena langka dan mahalnya harga elpiji saat ini. "Mau dibeli mahal, tidak beli mau masak pakai apa?" ujar nani setengah kesal.
Sementara Hj Rahmah, salah seorang pemilik pangkalan membantah tudingan bahwa pedagang memanfaatkan kelangkaan elpiji.
"Tidak betul itu. Harga yang kami dapat dari armada pengantar elpiji memang sudah lebih tinggi dari biasanya. Dulu kami hanya beli di harga Rp12 ribu, sekarang sudah diatas Rp13 ribu. Jadi kami jual berapa?" bantah Hj rahma yang ditemui di pangkalannya.
Warga pangkep masih terus mencari elpiji tiga kilogram. Berdasarkan pengamatan di lapangan, sepanjang jalan terlihat warga mondar mandir membawa tabung gas elpiji kosong ukuran tiga kilogram dari satu pengecer, ke pengecer lainnya.
Hingga kini, belum ada komentar dari pemerintah daerah terkait langkanya pasokan tabung gas elpiji tiga kilogram di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Lebih buruk, pemerintah terkesan diam dan bergerak lamban. Bukankah pemerintah yang memaksa warga untuk beralih dari minyak tanah ke elpiji? (san)
Warga menuding, kondisi ini dimanfaatkan oleh pedagang untuk menaikkan harga. Nani, seorang ibu rumah tangga mengaku membeli harga elpiji diatas harga biasa. "Bagaimana ini pak, elpiji sudah susah didapat, mahal lagi. Saya beli Rp20 ribu, padahal biasanya hanya Rp13 ribu," keluhnya.
Warga mengaku serba salah karena langka dan mahalnya harga elpiji saat ini. "Mau dibeli mahal, tidak beli mau masak pakai apa?" ujar nani setengah kesal.
Sementara Hj Rahmah, salah seorang pemilik pangkalan membantah tudingan bahwa pedagang memanfaatkan kelangkaan elpiji.
"Tidak betul itu. Harga yang kami dapat dari armada pengantar elpiji memang sudah lebih tinggi dari biasanya. Dulu kami hanya beli di harga Rp12 ribu, sekarang sudah diatas Rp13 ribu. Jadi kami jual berapa?" bantah Hj rahma yang ditemui di pangkalannya.
Warga pangkep masih terus mencari elpiji tiga kilogram. Berdasarkan pengamatan di lapangan, sepanjang jalan terlihat warga mondar mandir membawa tabung gas elpiji kosong ukuran tiga kilogram dari satu pengecer, ke pengecer lainnya.
Hingga kini, belum ada komentar dari pemerintah daerah terkait langkanya pasokan tabung gas elpiji tiga kilogram di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Lebih buruk, pemerintah terkesan diam dan bergerak lamban. Bukankah pemerintah yang memaksa warga untuk beralih dari minyak tanah ke elpiji? (san)
()