Yuk, dukung Pulau Komodo jadi keajaiban dunia baru

Jum'at, 07 Oktober 2011 - 13:54 WIB
Yuk, dukung Pulau Komodo...
Yuk, dukung Pulau Komodo jadi keajaiban dunia baru
A A A
Sindonews.com - Lebih cepat, lebih baik. Demikian semboyan yang digunakan Jusuf Kalla ketika mencalonkan diri menjadi presiden pada pemilu 2009 lalu. Meski kalah telak dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam perolehan suara, banyak orang mengakui Kalla memang tipikal orang yang bertindak cepat dan baik dalam mengatasi permasalahan, baik masalah ekonomi, keamanan atau sosial.

Pengakuan terhadap peran Kalla dalam menciptakan perdamaian di Aceh dan Poso, misalnya, tak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri.

Aksi cepat tersebut kembali ditunjukkan mantan menteri koordinator bidang kesejahteraan rakyat itu ketika ditunjuk sebagai duta Komodo oleh Ketua Pendukung Pemenangan Komodo (P2Komodo), Emmy Hafild awal Oktober lalu. Kalla diminta menggalang dukungan masyarakat agar Pulau Komodo menang dalam pemilihan tujuh keajaiban dunia baru yang diselenggarakan New7wonders of nature.

Pada 4 Oktober lalu, Kalla bersama istrinya Mufidah Kalla langsung mendatangi Pulau Komodo bersama sekira 75 rombongan wartawan, pengusaha Sofjan Wanandi, dan pengusaha kreatif yang banyak bergerak di bidang periklanan, Ipang Wahid.

Mengingat waktu yang tersedia tidak banyak –New7wonders of Nature akan memilih 7 keajaiban dunia baru pada 11 November mendatang- Kalla juga berencana mengajak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mempromosikan Pulau Komodo. Di setiap kesempatan, ia juga selalu melakukan kampanye.

Ketika berbicara di atas mimbar Mesjid Al Markaz Al Islami, Makassar, Jumat siang ini misalnya, Kalla kembali ‘menjual’ Pulau Komodo.

“Coba bayangkan binatang yang berusia 400 juta tahun masih hidup sampai sekarang dan hanya ada di Indonesia, tepatnya di Pulau Komodo. Bila komodo jadi satu dari tujuh keajaiban dunia, pariwisata akan hidup di daerah itu," katanya.

Tak berhenti di situ, Kalla mengajak para jamaah untuk mengaktifkan ponsel, lalu mengirim SMS, mengetik Komodo lalu mengirim ke nomor 9818. "Setiap SMS anda berarti nilai bagi Komodo untuk ditetapkan sebagai satu di antara tujuh keajaiban dunia. Ayo kita dukung sama-sama.”

Ajakan ini terbukti ampuh. Beberapa jemaah langsung secara sukarela mengirim SMS, meskipun tarifnya tergolong premium. "Saya sudah kirim tadi setelah Pak JK ceramah. Pulsaku terpotong Rp1300. Tapi ndak apa-apa, semoga Komodo bisa menang," ujar Daeng Baso, salah seorang jemaah, kepada Okezone.

Sebelumnya di depan para dekan Fakultas Ekonomi se-Indonesia di Universitas Hasanuddin, Kalla juga melakukan hal yang sama. Dia mengajak mereka ramai-ramai mengirim SMS dukungan.

Berdasarkan website resmi New7wonders siang ini, Pulau Komodo terus melorot dan kini berada di posisi 18 dari 28 finalis. Ke-dua puluh delapan finalis tersebut berdasarkan peringkat adalah, Amazon (Amerika Selatan), Air Terjun Angel (Venezuela), Teluk Fundy (Kanada), Hutan Hitam (Jerman), Pulau Bu Tinah (Uni Emirat Arab), Tebing Moher (Irlandia), Laut Mati (Israel, Jordan, Palestina), El Yunque (Puerto Rico), Galapagos (Ekuador), Grand Canyon (Amerika Serikat), Karang Penghalang Besar (Australia, Papua New Guinea), Teluk Halong (Vietnam), Air terjun Iguazu (Argentina, Brazil) Maladewa (Maladewa).

Gua-gua Jeita (Libanon), Pulau Jeju (Korea Selatan), Kilimanjaro (Tanzania), Komodo (Indonesia), Distrik Danau Masurian (Polandia), Matterhorn/Cervino (Italia, Swiss), Milford Sound (Selandia Baru), Kawah-kawah lumpur (Azerbaijan), Sungai bawah tanah PP (Filipina), Sundarbans (Bangladesh, India), Gunung Meja (Afrika Selatan), Uluru (Australia), Vesuvius (Italia), dan Yushan (Taipei Cina).

Menurut Kalla, Pulau Komodo akan memberikan keuntungan ekonomi yang besar bagi masyarakat bila terpilih sebagai tujuh keajaiban dunia baru. Dia mengambil contoh lokasi wisata lain seperti Taj Mahal, India, yang pariwisatanya melonjak ketika ditunjuk sebagai Tujuh Keajaiban Dunia.

Meski sebagian pihak pesimistis terhadap kemenangan Pulau Komodo, Kalla terus melaju dengan optimis. "Pemerintah kan sudah mengeluarkan ongkos banyak untuk melakukan promosi. Tetapi justru sebenarnya, yang paling banyak SMS berada di dalam negeri. Untuk itu, panitia akan melakukan promosi besar-besaran di mal, sekolah atau di mana saja untuk mengembangkan ini," katanya saat berkunjung ke Pulau Komodo, Selasa 4 September 2011.

Lebih jauh, Kalla juga telah memiliki konsep agar Pulau Komodo nantinya dijadikan lokasi wisata eksklusif atau terbatas yang tak bisa dikunjungi sembarangan orang seperti Bali. Pembatasan ini penting karena dikhawatirkan ekosistem di Pulau Komodo akan hancur oleh ulah para penikmat liburan.

Demi mewujudkan eksklusifitas itu, dia mengusulkan agar tiap turis asing yang hendak masuk dikenai biaya USD1,000.

“Kalau tidak, semua orang bisa datang ke sini. Kalau banyak orang Pulau Komodo akan hancur. Harus ada kuotanya, setiap hari hanya ada 200 (wisatawan) dan mereka harus membayar seribu dolar atau seratus dolar," imbuhnya.

"Pulau Komodo tidak bisa seperti Bali di mana semua orang bisa asal masuk. Yang ke sini nanti bukan turis murahan.”

Jadi, mari kita dukung Pulau Komodo jadi tujuh keajaiban dunia baru. Kemenangan Komodo, kemenangan Indonesia.
()
Berita Terkini
Gunung Merapi Luncurkan...
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 2.000 Meter
48 menit yang lalu
Gempa M7,8 Filipina...
Gempa M7,8 Filipina Picu Tsunami di Indonesia, Alarm Zona Megathrust yang Terlupakan
53 menit yang lalu
Ada FIFA Matchday Indonesia...
Ada FIFA Matchday Indonesia Vs Mozambik, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan GBK
2 jam yang lalu
Yeho Gathering 2026,...
Yeho Gathering 2026, Merayakan 20 Tahun Perjalanan Sekolah
13 jam yang lalu
Tarif Transjabodetabek...
Tarif Transjabodetabek Blok M-Bandara Soetta Disesuaikan, Pramono: Naik Transportasi Lain di Atas Rp100 Ribu
16 jam yang lalu
Liburan ke China Makin...
Liburan ke China Makin Praktis, Kini Bisa Tinggal Scan Pakai QRIS Cross-Border BRImo!
17 jam yang lalu
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved