Kerusakan Infrastruktur Capai 43 Titik, Kerugian Ditaksir Rp3 Miliar
Kamis, 09 Januari 2020 - 23:02 WIB
Kerusakan Infrastruktur Capai 43 Titik, Kerugian Ditaksir Rp3 Miliar
A
A
A
TANGERANG SELATAN - Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mencatat, kerusakan yang diakibatkan oleh cuaca ekstrem pada awal tahun 2020, cukup besar. Sedikitnya terdapat 43 titik kerusakan yang terjadi selama banjir besar pada 1-2 Januari 2020.
Kerusakan itu, meliputi turap longsor, tanggul jebol, dan jalan rusak. Data kerusakana itu telah melalui proses identifikasi langsung petugas DPU Tangsel.
Kepala Dinas PU Tangsel Haris Kurniawan mengatakan, jenis kerusakan itu ada yang ringan dan berat. Semuanya sudah diidentifikasi dan telah disurvei oleh petugas lapangan.
"Kita sudah buat Satgas Penanganan Pasca Banjir. Ini sudah kita data. Ada 34 titik penanganan longsor, baik itu jalan, turap jalan dan turap kali, juga jalan rusak dan lainnya," ujar Haris, Kamis (9/1/2020). (Baca juga: Tangsel Diterjang Banjir, 9 Tanggul Jebol dan 6 Titik Longsor)
Menurut dia, kerusakan hampir merata di setiap wilayah yang terdampak banjir. Tercatat, titik banjir di Tangsel mencapai 118 lokasi. Wilayah pondok Aren, Serpong, Ciputat, dan Pamulang, menjadi yang cukup parah terkena dampak banjir itu.
"Untuk nilai kerugiannya masih dihitung. Tapi kurang lebih Rp3 miliar. Itu untuk yang kita tangani saja ya, dari PU. Pola penanganan bisa macam-macam, ada yang pakai turap batu kali, beton atau bronjong," bebernya.
Sementara, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Rosi Yuliandi menyebutkan, banjir besar di Tangsel akibat curah hujan yang cukup tinggi mencapai hingga 377 milimeter, dari yang normalnya hanya mencapai 200-an milimeter. (Baca juga: Banjir di Kabupaten Tangerang Rusak Lahan Pertanian dan Fasilitas Umum)
"Jadi, ini masalah kita ada tiga sungai besar yang melintas di Tangsel, yaitu Sungai Cisadane, Angke, dan Pesanggarahan. Ini pada meluap semua, dan anak kali tidak bisa masuk dan air balik meluap ke rumah warga," ungkapnya.
Kata dia, tidak ada tanggul sungai yang sanggup untuk menampung air dengan itensitas hujan seperti itu. Bahkan, di Situ Pamulang, air yang tinggi meluap hingga ke badan-badan jalan.
"Intensitasnya sangat tinggi, sehingga tidak ada tanggul atau turap yang sanggup untuk menampung. Situ Pamulang yang segitu gedenya saja enggak nampung. Curah hujan saat itu mencapai 377 milimeter," tukasnya.
Adapun turap yang longsor, untuk sementara ditambal dengan menggunakan kisdam. Seperti yang ada di wilayah Graha Nas, Vila Mutiara, Bintaro, Nerada, dan Cipayung. (Baca juga: Kerugian Material Banjir di Tangsel Capai Rp28 Miliar)
"Setelah disurvei, pertama langsung kita pasang kisdam. Kisdam ini digunakan untuk tanggul yang memang darurat, sebagai penanganan awal. Ini sudah banyak yang kita lakukan. Tenaga kita terbatas," ungkapnya.
Terpisah, Ketua DPRD Kota Tangsel Abdul Rasyid mengatakan, dalam penanganan bencana alam di Tangsel, sudah ada Perda Penanganan Bencana Nomor 2 Tahun 2012 tentang Penanggulangan Bencana Alam.
"Tadi kita mendapat informasi 118 titik lokasi dan yang meninggal empat. Upaya taktis bantuan sembako dan lainnya. Prinsipnya, kami DPRD mengapresiasi," sebut Rasyid.
Selain itu, pihaknya juga menyampaikan data yang belum ditangani oleh pemerintah agar segera ditindaklanjuti, berdasarkan hasil temuan para anggota Dewan saat terjun ke lokasi banjir dan bertemu dengan warganya.
"Makahya kita undang OPD-OPD (organisasi perangkat daerah), dan mereka sudah terkoordinir di badan penanggulangan bencana. Sehingga outputnya kita punya data pemetaan bencana kedepan," pungkasnya.
Kerusakan itu, meliputi turap longsor, tanggul jebol, dan jalan rusak. Data kerusakana itu telah melalui proses identifikasi langsung petugas DPU Tangsel.
Kepala Dinas PU Tangsel Haris Kurniawan mengatakan, jenis kerusakan itu ada yang ringan dan berat. Semuanya sudah diidentifikasi dan telah disurvei oleh petugas lapangan.
"Kita sudah buat Satgas Penanganan Pasca Banjir. Ini sudah kita data. Ada 34 titik penanganan longsor, baik itu jalan, turap jalan dan turap kali, juga jalan rusak dan lainnya," ujar Haris, Kamis (9/1/2020). (Baca juga: Tangsel Diterjang Banjir, 9 Tanggul Jebol dan 6 Titik Longsor)
Menurut dia, kerusakan hampir merata di setiap wilayah yang terdampak banjir. Tercatat, titik banjir di Tangsel mencapai 118 lokasi. Wilayah pondok Aren, Serpong, Ciputat, dan Pamulang, menjadi yang cukup parah terkena dampak banjir itu.
"Untuk nilai kerugiannya masih dihitung. Tapi kurang lebih Rp3 miliar. Itu untuk yang kita tangani saja ya, dari PU. Pola penanganan bisa macam-macam, ada yang pakai turap batu kali, beton atau bronjong," bebernya.
Sementara, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Rosi Yuliandi menyebutkan, banjir besar di Tangsel akibat curah hujan yang cukup tinggi mencapai hingga 377 milimeter, dari yang normalnya hanya mencapai 200-an milimeter. (Baca juga: Banjir di Kabupaten Tangerang Rusak Lahan Pertanian dan Fasilitas Umum)
"Jadi, ini masalah kita ada tiga sungai besar yang melintas di Tangsel, yaitu Sungai Cisadane, Angke, dan Pesanggarahan. Ini pada meluap semua, dan anak kali tidak bisa masuk dan air balik meluap ke rumah warga," ungkapnya.
Kata dia, tidak ada tanggul sungai yang sanggup untuk menampung air dengan itensitas hujan seperti itu. Bahkan, di Situ Pamulang, air yang tinggi meluap hingga ke badan-badan jalan.
"Intensitasnya sangat tinggi, sehingga tidak ada tanggul atau turap yang sanggup untuk menampung. Situ Pamulang yang segitu gedenya saja enggak nampung. Curah hujan saat itu mencapai 377 milimeter," tukasnya.
Adapun turap yang longsor, untuk sementara ditambal dengan menggunakan kisdam. Seperti yang ada di wilayah Graha Nas, Vila Mutiara, Bintaro, Nerada, dan Cipayung. (Baca juga: Kerugian Material Banjir di Tangsel Capai Rp28 Miliar)
"Setelah disurvei, pertama langsung kita pasang kisdam. Kisdam ini digunakan untuk tanggul yang memang darurat, sebagai penanganan awal. Ini sudah banyak yang kita lakukan. Tenaga kita terbatas," ungkapnya.
Terpisah, Ketua DPRD Kota Tangsel Abdul Rasyid mengatakan, dalam penanganan bencana alam di Tangsel, sudah ada Perda Penanganan Bencana Nomor 2 Tahun 2012 tentang Penanggulangan Bencana Alam.
"Tadi kita mendapat informasi 118 titik lokasi dan yang meninggal empat. Upaya taktis bantuan sembako dan lainnya. Prinsipnya, kami DPRD mengapresiasi," sebut Rasyid.
Selain itu, pihaknya juga menyampaikan data yang belum ditangani oleh pemerintah agar segera ditindaklanjuti, berdasarkan hasil temuan para anggota Dewan saat terjun ke lokasi banjir dan bertemu dengan warganya.
"Makahya kita undang OPD-OPD (organisasi perangkat daerah), dan mereka sudah terkoordinir di badan penanggulangan bencana. Sehingga outputnya kita punya data pemetaan bencana kedepan," pungkasnya.
(thm)