Jalan Berbayar untuk Halau 88 Juta Pergerakan Kendaraan Masuk Jakarta

Senin, 18 November 2019 - 14:18 WIB
Jalan Berbayar untuk...
Jalan Berbayar untuk Halau 88 Juta Pergerakan Kendaraan Masuk Jakarta
A A A
JAKARTA - Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) membeberkan alasan penerapan sistem electronic road pricing (ERP) atau jalan berbayar di tiga ruas jalan pintu masuk daerah penyangga, yakni Jalan Kalimalang di Jakarta Timur, Jalan Daan Mogot di Jakarta Barat, dan Jalan Margonda di Kota Depok.

Kabag Humas BPTJ Budi Rahardjo mengatakan, penerapan jalan berbayar pada 2020 mendatang sudah sangat mendesak mengingat jumlah pergerakan kendaraan pribadi di Jabodetabek terus meningkat. (Baca juga: Sah! BPTJ Pastikan Jalan Berbayar Diterapkan di Jakarta dan Depok)

Berdasarkan data BPJT, tingkat pergerakan kenderaan di Jabodetabek pada 2015 masih tercatat sebanyak 48 juta pergerakan per hari. Tetapi tiga tahun kemudian atau pada 2018, sudah meningkat dua kali lipat menjadi 88 juta pergerakan per hari. "Dari 88 juta pergerakan per hari itu, yang menggunakan angkutan umum massal hanya 8%. Jadi banyak menggunakan kendaraan pribadi," ujar Budi saat dihubungi, Senin (18/11/2019).
Menurut dia, indikasi pergerakan kendaraan pribadi itu terlihat dari banyaknya titik kemacetan. Tak hanya di Jakarta, pergerakan kendaraan pribadi juga terus bertambah di kawasan penyanggah Ibu Kota.

"Indikasinya, macet dimana-mana. Saya katakan, mungkin lebih dari separuh beredarnya kendaraan pribadi di Jakarta untuk mobilisasi berasal dari daerah pendukung di Jakarta, seperti Depok, Tangerang, Bekasi, sehingga perlu adanya pengendalian di wilayah perbatasan," tegasnya. (Baca juga: Pemkot Depok Belum Diajak Bicara soal Jalan Berbayar di Margonda)

Dampak dari kemacetan lalu lintas yang terjadi di Jabodetabek adalah menurunnya kualitas hidup warga. Atas dasar itu BPTJ menargetkan tahun depan aturan tersebut dapat diterapkan. Hal ini untuk "memaksa" pengguna kendaraan pribadi beralih ke angkutan massal.

"Nanti kalu kondisi ini tidak dilakukan pengendalian maka akan berpengaruh terhadap kualitas hidup manusia di Jabodetabek. Kualitas udara di Jakarta dan Jabodetabek menurun karena polusiudara, bahkan jadi ranking satu atau dua terburuk di dunia," tukasnya.

Salah satunya cara untuk mengatasi persoalan itu adalah penerapan ERP di tiga koridor daerah perbatasan tersebut. "Sekali ini, ini untuk mendorong bagaimana pengendara kendaraan pribadi beralih ke angkutan massal," pungkasnya. (Baca juga: Melintas di Jalan Kalimalang Harus Bayar, Begini Respons Pemkot Bekasi)
(thm)
Berita Terkait
Pemprov DKI Diminta...
Pemprov DKI Diminta Tak Terburu-buru Terapkan ERP untuk Atasi Kemacetan
Penerapan ERP, Driver...
Penerapan ERP, Driver Ojol Khawatir Makin Susah Dapat Orderan
Pengamat Ingatkan Pemprov...
Pengamat Ingatkan Pemprov DKI Belajar dari Penolakan ERP di Kota-kota Besar Dunia
Proses Panjang ERP,...
Proses Panjang ERP, Belum Dibahas Dewan hingga Lemahnya Sosialisasi
Heru Budi: ERP Baru...
Heru Budi: ERP Baru Bisa Diterapkan Jika Transportasi Umum Lengkap
Atasi Kemacetan, Polda...
Atasi Kemacetan, Polda Metro Dukung Rencana 25 Jalan Berbayar di Jakarta
Berita Terkini
The Banjoemas, Diplomasi...
The Banjoemas, Diplomasi Identitas Banyumas di Pusat Budaya Ibu Kota
5 jam yang lalu
Generasi Hijau dari...
Generasi Hijau dari Lereng Merapi: Pemuda Boyolali Pimpin Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
5 jam yang lalu
BMKG Ungkap Daftar Wilayah...
BMKG Ungkap Daftar Wilayah yang Bakal Alami Kemarau Panjang
7 jam yang lalu
Pemprov Papua Selatan:...
Pemprov Papua Selatan: PSN Wanam Buka Lapangan Pekerjaan dan Tingkatkan Kesejahteraan
7 jam yang lalu
Terima Suap Rp15 Juta...
Terima Suap Rp15 Juta dan Urus Perkara, Hakim PN Cilacap Dipecat
7 jam yang lalu
Enam Tahun Penerjemahan,...
Enam Tahun Penerjemahan, Alkitab Bahasa Sunda Kini Hadir dalam Format Cetak dan Digital
7 jam yang lalu
Infografis
Keringanan PBB-P2 DKI...
Keringanan PBB-P2 DKI Jakarta 2026 Berlaku Bertahap
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved