Masalah Kelangkaan Solar di Sejumlah Daerah Harus Segera Diatasi
Senin, 18 November 2019 - 08:28 WIB
Masalah Kelangkaan Solar di Sejumlah Daerah Harus Segera Diatasi
A
A
A
JAKARTA - Praktisi dan pemerhati transportasi logistik Bambang Haryo menyayangkan kabar kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di sejumlah daerah. Padahal, angkutan logistik darat memegang peranan penting dalam sistem transportasi nasional.
“Lebih dari 85 persen sehingga kelangkaan solar subsidi pasti berdampak terhadap perekonomian nasional. Saya sangat prihatin kelangkaan solar berlarut-larut, lebih prihatin lagi, kementerian terkait tidak bersuara, seakan tidak tahu atau tidak mau tahu dengan kesulitan yang sedang dialami angkutan darat,” kata Bambang Haryo dalam siaran persnya, Minggu 17 movember 2019.
Menurut Bambang, angkutan darat merupakan urat nadi perekonomian, bukan hanya perannya yang dominan melainkan juga konektivitasnya cukup erat dengan moda angkutan lain. Baik laut, kereta api, maupun udara. Semua moda lain bergantung pada angkutan darat untuk mengirim barang dari hulu hingga hilir atau konsumen.
“Multiplier effect akibat kelangkaan BBM ini sangat luas, melambatkan ekonomi karena logistik terhambat, sehingga harga-harga akan naik dan inflasi meningkat,” kata mantan Wakil Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) ini.
Bambang mengingatkan, Indonesia sedang berpacu dengan waktu untuk menghindari ancaman resesi dalam waktu dekat. Pemerintah tidak boleh bekerja santai dan mengklaim bahwa ekonomi Indonesia baik-baik saja. Kelangkaan solar subsidi yang berlarut-larut juga memberikan kesan negara tidak hadir.
Dia mengatakan, kelangkaan solar seharusnya tidak terjadi ketika ekonomi sedang menurun seperti sekarang. Pemerintah atas persetujuan DPR RI menetapkan kuota solar subsidi 14,5 juta kiloliter (KL) tahun 2019, sementara pertumbuhan ekonomi sekitar 5%. Sebagai perbandingan, kuota solar subsidi tahun 2010 hanya 11,2 juta KL, padahal pertumbuhan ekonomi saat itu 6,1%.
Bambang mendesak pemerintah segera mengatasi kelangkaan solar subsidi secara tuntas. Jika tidak, kepercayaan investor terhadap Indonesia akan menurun mengingat masalah seperti ini tidak terjadi di negara ASEAN lainnya. “Indonesia akan makin tertinggal dari negara lain kalau masalah ini tidak segera diatasi,” tutupnya.
“Lebih dari 85 persen sehingga kelangkaan solar subsidi pasti berdampak terhadap perekonomian nasional. Saya sangat prihatin kelangkaan solar berlarut-larut, lebih prihatin lagi, kementerian terkait tidak bersuara, seakan tidak tahu atau tidak mau tahu dengan kesulitan yang sedang dialami angkutan darat,” kata Bambang Haryo dalam siaran persnya, Minggu 17 movember 2019.
Menurut Bambang, angkutan darat merupakan urat nadi perekonomian, bukan hanya perannya yang dominan melainkan juga konektivitasnya cukup erat dengan moda angkutan lain. Baik laut, kereta api, maupun udara. Semua moda lain bergantung pada angkutan darat untuk mengirim barang dari hulu hingga hilir atau konsumen.
“Multiplier effect akibat kelangkaan BBM ini sangat luas, melambatkan ekonomi karena logistik terhambat, sehingga harga-harga akan naik dan inflasi meningkat,” kata mantan Wakil Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) ini.
Bambang mengingatkan, Indonesia sedang berpacu dengan waktu untuk menghindari ancaman resesi dalam waktu dekat. Pemerintah tidak boleh bekerja santai dan mengklaim bahwa ekonomi Indonesia baik-baik saja. Kelangkaan solar subsidi yang berlarut-larut juga memberikan kesan negara tidak hadir.
Dia mengatakan, kelangkaan solar seharusnya tidak terjadi ketika ekonomi sedang menurun seperti sekarang. Pemerintah atas persetujuan DPR RI menetapkan kuota solar subsidi 14,5 juta kiloliter (KL) tahun 2019, sementara pertumbuhan ekonomi sekitar 5%. Sebagai perbandingan, kuota solar subsidi tahun 2010 hanya 11,2 juta KL, padahal pertumbuhan ekonomi saat itu 6,1%.
Bambang mendesak pemerintah segera mengatasi kelangkaan solar subsidi secara tuntas. Jika tidak, kepercayaan investor terhadap Indonesia akan menurun mengingat masalah seperti ini tidak terjadi di negara ASEAN lainnya. “Indonesia akan makin tertinggal dari negara lain kalau masalah ini tidak segera diatasi,” tutupnya.
(wib)