Nyorog sebagai Ajang Silaturahmi dan Ungkapan Rasa Syukur

Sabtu, 04 Mei 2019 - 11:38 WIB
Nyorog sebagai Ajang...
Nyorog sebagai Ajang Silaturahmi dan Ungkapan Rasa Syukur
A A A
JAKARTA - Tradisi nyorog dalam menyambut bulan suci Ramadhan saat ini sejatinya konteksnya hanya untuk menjaga tali silaturahmi antar keluarga. Di mana, yang lebih muda datang ke orang yang lebih tua untuk meminta maaf.

Hal itu diucapkan oleh Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra. Namun memang, tradisi nyorog juga dilestarikan agar masyarakat khususnya orang asli Betawi yang beragama Islam tidak lupa terhadap sang pencipta atas apa yang telah diberikan, dalam artian harus pandai bersyukur.

"Tradisi nyorog itu untuk kita memperkokoh. Perkokoh tali kekeluargaan. Seraya itu, kita juga bersyukur kepada yang maha kuasa yaitu Tuhan, bahwa kita diberikan keberkahan di hidup ini, kita mohon. Nah, yang paling utama adalah penghambaan kita," kata Yahya belum lama ini.

Yahya menceritakan, zaman dulu, nyorog merupakan ajang pertemuan keluarga sebelum Ramadhan tiba. Sebab, jarak rumah sanak famili mereka kebanyakan saling berjauhan. Sehingga, nyorog dijadikan sebagai ajang untuk bertemu sekaligus bermaaf-maafan antarkeluarga besar.

"Artinya kita ingat kembali bapak kita, engkong kita, dengan cara itu kita bersilaturahim kepada abang-abang kita, ruwahan istilahnya. Kita nyorog ke abang-abang kita atau adik-adik kita yang masih kurang berkecukupan," terangnya.

Yahya menuturkan, awalnya tradisi nyorog memang ada sebelum masuknya Islam ke Indonesia. Nyorog berawal dari sebuah peristiwa ritus baritan atau sebuah upacara adat yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terkait peristiwa alam. Ritus baritan merupakan refleksi interaksi antara manusia, lingkungan, dan kepercayaan kepada Tuhan.

Nyorog merupakan ritus baritan sedekah bumi. Di mana, pada zaman dahulu, masyarakat sering membawakan makanan atau sesajen untuk dipersembahkan kepada Dewi Sri yang merupakan simbol kemakmuran. Persembahan berbagai sesajen itu lantas dijadikan dimaknai sebagai rasa syukur kepada sang dewi kemakmuran karena telah memberikan tanah, tanaman, dan berbagai bahan makanan kepada kehidupan manusia.

Seiring perkembangan zaman, nyorog lalu menjelma menjadi simbol penghormatan kepada orang-orang yang dituakan. Dalam artian, orang-orang yang berusia lebih muda sowan atau bersilaturahmi ke kediaman para sesepun atau mereka yang dituakan, yakni dengan cara membawakan berbagai makanan.

Konsep tradisi nyorog lanjut Yahya, dijadikan oleh orang asli Betawi sebagai bentuk kesinambungan antar ekosistem yakni, manusia, lingkungan, dan ‎Tuhannya. Sehingga, ada siklus yang saling terkait dalam kehidupan yang melibatkan manusia, lingkungan atau alam, dan Tuhannya.

"Jadi, itu terbentuknya equilibrium. Ada perbaikan ekosistem, jadi kalau ada siklus yang rusak kita benerin, yang bolong kita tutupin. Jadi, me-reduce, reuse, recycle. Jadi ya siklus kita ini kita perbaiki," ujar Yahya.
(mhd)
Berita Terkait
Harmoni Global di Riyadh:...
Harmoni Global di Riyadh: Memperkenalkan Budaya Indonesia
Omnibus Law Kebudayaan...
Omnibus Law Kebudayaan Diperlukan untuk Memajukan Kebudayaan
Dosen UIN Sultan Hasanudin:...
Dosen UIN Sultan Hasanudin: Penting Belajar Islam Secara Metodologis dan Bersanad
Kemendikbudristek Dorong...
Kemendikbudristek Dorong Ruang Publik sebagai Kawasan Pemajuan Kebudayaan
Pemajuan Kebudayaan...
Pemajuan Kebudayaan Jadi Agenda Prioritas Pembangunan Nasional
Dosen Uhamka: Merawat...
Dosen Uhamka: Merawat Kebhinekaan di Tengah Gempuran Modernisasi dan Globalisasi
Berita Terkini
Tarif Transjabodetabek...
Tarif Transjabodetabek Blok M-Bandara Soetta Disesuaikan, Pramono: Naik Transportasi Lain di Atas Rp100 Ribu
2 jam yang lalu
Liburan ke China Makin...
Liburan ke China Makin Praktis, Kini Bisa Tinggal Scan Pakai QRIS Cross-Border BRImo!
3 jam yang lalu
Ribuan Masyarakat Antusias...
Ribuan Masyarakat Antusias Ikuti Breakfast Jakarta Bersih di Kemendikdasmen
3 jam yang lalu
Mulai Roadshow Konsolidasi...
Mulai Roadshow Konsolidasi dari Klungkung, Perindo Bali Bidik Lolos Verifikasi 100%
4 jam yang lalu
Suhud Alynudin Dilantik...
Suhud Alynudin Dilantik Jadi Ketua DPRD DKI Jakarta
4 jam yang lalu
Wali Kota Tangsel Dorong...
Wali Kota Tangsel Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Penggerak UMKM-Ekonomi Kerakyatan
4 jam yang lalu
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved