Tak Mudah Atasi Pencemaran Limbah Domestik di Sungai Ciliwung

Kamis, 28 Februari 2019 - 06:11 WIB
Tak Mudah Atasi Pencemaran...
Tak Mudah Atasi Pencemaran Limbah Domestik di Sungai Ciliwung
A A A
BOGOR - Pakar Lansekap Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Hadi Susilo Arifin mengapresiasi upaya Pemkot Bogor dalam mengatasi pencemaran Sungai Ciliwung akibat limbah domestik melalui program naturalisasi.

Namun, menurutnya, dibutuhkan waktu lama untuk mengembalikan Sungai Ciliwung yang bersih sebagai wajah kota dan itu membutuhkan konsistensi serta keberanian pemerintah setempat dalam memulainya.

"Ambil saja contohnya Singapura yang berhasil mengatasi pencemaran Sungai Kallang melalui Naturalisasi itu memerlukan waktu 10 tahun. Tidak cukup hanya sehari dua hari sebulan dua bulan, kemudian sungai tak tercemar," katanya di Bogor, Rabu 27 Februari 2019.

Meski membutuhkan proses lama, namun pihaknya yakin manfaat dari naturalisasi ini perlahan akan terlihat dan terasa manfaatnya di masa mendatang.

"Saya yakin nanti hasilnya keanekaragaman hayati akan kembali tumbuh di Sungai Ciliwung itu, kemudian kelak masyarakatnya bisa menghargai lingkungan, bahkan satwa-satwa liarnya akan hidup damai, karena burung tidak dibunuh, bebek enggak ditembak jadi itu dibiarkan menjadi ekosistem kota," paparnya.

Selain komitmen dan kesabaran dari semua pihak, upaya yang gagas Pemkot dalam menaturalisasi Sungai Ciliwung ini harus melibatkan berbagai elemen baik dari pemerintah, komunitas, pengusaha dan warga masyarakat itu sendiri.

"Untuk itu harus ada kerjasama yang kuat dari berbagai stakeholder, instansi dan elemen masyarakat. Beberapa konsep akademisi saya sudah merancang ini harus ada sinergi pentahelix antara akademisi, pebisnis dengan orang yang mau membantu atau memberikan CSR," ujarnya.

Namun semua mimpi tersebut bisa dilakukan dengan langkah awal yang bisa dikerjakan oleh masyarakat. Artinya masyarakat harus diberi pemahaman dan edukasi agar timbul kesadaran untuk tidak berkontribusi mengotori sungai lagi.

"Sebab peran utama dalam menaturalisasi Sungai Ciliwung ini adalah masyarkat, sebab pemerintah itu hanya sebagai penggerak dan pengambil keputusan dalam kebijakan. Jadi perlu di dukung masyarakat," katanya.

Dia mencontohkan agar masyarakat yang melanggar aturan terkait tinggal di pinggiran sungai dan terpenting masyarakat juga harus sadar, jika mereka terpaksa tinggal di tepi sungai dengan batas-batas tak membelakangi sungai tapi menghadap ke sungai.

"Kemudian jangan lagi mengotori sungai baik dalam bentuk membuang limbah kotoran, sampah, dan bahan kimia cair seperti sabun dan lain-lain," jelasnya.

Sekadar diketahui, program naturalisasi DAS Ciliwung hampir setiap pekan melalui sosialisasi dan kampanye gerakan bebersih sungai Ciliwung sejak Oktober tahun lalu hingga saat ini terus dilakukan.

Aksi kampanye dan gerakan bebersih sungai yang dilakukan setiap akhir pekan itu melibatkan sejumlah pihak mulai dari dinas dan instansi terkait, Korem 061/Suryakancana, Polresta Bogor Kota, komunitas, akademisi, dan warga.

"Kegiatan bebersih Sungai Ciliwung ini difokuskan di tiga lokasi yang dialiri Sungai Ciliwung yakni, Lebak Pilar, Sempur Kaler, dan Kelurahan Sempur," kata Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto belum lama ini.

Dia menyebutkan program naturalisasi DAS Ciliwung akan dilakukan secara serius dan konsisten. Sedikitnya ada tiga target yang akan dicapai dari program ini yakni memastikan kualitas hidup warga sepanjang DAS menjadi lebih baik, mewujudkan wisata air terintegrasi, dan pencegahan bencana khususnya banjir.

"Bahkan, ada enam langkah yang disiapkan Pemkot, di antaranya sosialisasi dan kampanye naturalisasi Ciliwung. Yang jelas bagi kami tak ada kata terlambat untuk mengembalikan kondisi Sungai Ciliwung menjadi lebih baik, melalui gerakan bersama semua pihak, unsur dan elemen," tandasnya.

Sementara itu, Camat Bogor Tengah Agustian Syah mengakui bahwa masih banyak warganya yang menjadikan sungai Ciliwung sebagai tempat sampah.

"Jadi startnya sekarang nih kami dan lurah-lurah terus turun ke masyarakat agar memperlakukan Ciliwung dengan bijak. Sedikitnya ada 1.100 rumah yang tinggal dibantaran sungai Ciliwung, masyarakat membuang kotoran dan limbah cairan melalui toilet langsung ke Ciliwung," katanya.

Maka dari itu, pihaknya bersama perangkat lurah akan terus terjun ke masyarakat untuk mengedukasi dan mengajak masyarakat untuk peduli dengan sungai.

Ke depan untuk mengiventarisir banyaknya rumah yang membuang limbah cairan dan kotoran ke sungai, pihaknya akan memebuat Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) komunal dan septictank rumahan.

"Iya untuk dana kelurahan tahun ini dari pemerintah pusat 14 kelurahan yang terkena jalur Ciliwung itu difokuskan untuk itu, tapi yang utama bukan infrastruktur tapi bagaimana warga mau menjaga lingkungannya," pungkasnya.
(mhd)
Berita Terkait
Lima Sungai yang Paling...
Lima Sungai yang Paling Tercemar di Dunia
Sungai Tercemar Zat...
Sungai Tercemar Zat Besi, Buaya di Nepal Kulitnya Jadi Berkarat
Fenomena Aneh, Aliran...
Fenomena Aneh, Aliran Sungai di Jembatan Tarikolot Sempat Berbusa seperti Awan
Aliran Sungai Cileungsi...
Aliran Sungai Cileungsi Tercemar Limbah Pabrik
Sungai Jaletreng Berwarna...
Sungai Jaletreng Berwarna Coklat, DLH: Hasil Uji Lab Masih Kategori Aman
Aksi Warga Lawan Pencemaran...
Aksi Warga Lawan Pencemaran Limbah Pabrik
Berita Terkini
Stafsus Menag Tinjau...
Stafsus Menag Tinjau GKJ Nusukan Solo, Jamin Kebebasan Beribadah
28 menit yang lalu
Unjuk Rasa Mahasiswa...
Unjuk Rasa Mahasiswa Bubar, Polisi Mulai Buka Jalan Jenderal Sudirman Arah Bundaran HI
2 jam yang lalu
Perumda Dharma Jaya...
Perumda Dharma Jaya Edukasi Ketahanan Pangan ke Siswa SMPN 51 Jakarta
3 jam yang lalu
Situ Rompong Tangsel...
Situ Rompong Tangsel Menyusut Tinggal 1,7 Hektare, Warga Duga Ada Maladminsitrasi
4 jam yang lalu
Roy Suryo Titip Pesan...
Roy Suryo Titip Pesan ke Massa Aksi Demo: Jangan Disusupi, Aparat Harus Humanis
4 jam yang lalu
Ada Demo Mahasiswa,...
Ada Demo Mahasiswa, Rute Transjakarta Dialihkan
5 jam yang lalu
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved