IPB Sebut Ikan dari Teluk Jakarta Tak Layak Dikonsumsi

Kamis, 21 Februari 2019 - 23:05 WIB
IPB Sebut Ikan dari...
IPB Sebut Ikan dari Teluk Jakarta Tak Layak Dikonsumsi
A A A
BOGOR - Kondisi tingkat pencemaran dan jumlah bahan toksik (zat yang dapat menyebabkan fungsi tubuh menjadi tidak normal) yang terdapat di Teluk Jakarta sebagai tempat bermuaranya 13 sungai, tiap tahun terus meningkat tajam.

Hal tersebut diungkapkan Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Etty Riani dalam konferensi pers pra orasi ilmiah di Kampus IPB Baranangsiang, Jalan Pajajaran, Kota Bogor, Kamis (21/2/2019).

Menurutnya, Teluk Jakarta bukan hanya mendapatkan bahan pencemar dari dari darat yang masuk melalui sungai saja, akan tetapi dari kegiatan diperairan juga berkontribusi atas tingginya tingkat pencemaran.

"Sebagai contoh dari kegiatan pelabuhan disumbang bahan pencemar toksik dan non toksik yang jumlahnya sangat banyak. Bahkan akumulasi logam berat Hg, Cd, Pb, Cr dan Sn dalam sedimen dan biota khususnya kerang hijau, meningkat sangat tajam hampir menyerupai kurva eksponensial," terangnya.

Menurutnya, logam berat dapat masuk ke dalam ikan, melalui permukaan tubuhnya. Kemudian sel chlorid pada insang, atau melalui proses makan memakan (biomagnifikasi) yang selanjutnya terakumulasi dalam organ tubuh dan bersifat irreversible (tak dapat dilepas).

"Akumulasi logam berat, dan kerusakan organ yang lebih parah terjadi pada ikan barakuda, pepetek, sokang, beloso dan kerang hijau di Teluk Jakarta. Bahan-bahan toksik tersebut juga telah mengakibatkan terjadinya kecacatan pada sironomid di Waduk Saguling dan kerang hijau Teluk Jakarta," jelasnya.

Kandungan baham tersebut, lanjut dia, mengakibatkan ikan tak aman lagi untuk dikonsumsi secara bebas. Namun ikan yang ada di Pulau Seribu walau dagingnya sudah terkontaminasi logam berat namun konsentrasinya sangat kecil, sehingga masih relatif aman dikonsumsi.

"Oleh karena itu, mengkonsumsi daging ikan dari Teluk Jakarta berpotensi untuk terkena penyakit kanker dan penyakit degeneratif non kanker," ungkapnya.

Prilaku manusia, kata dia, sering mengakibatkan perubahan dramatis pada lingkungan apalagi di wilayah DKI Jakarta dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang kegiatan antropogeniknya sangat beragam dan kompleks, serta terdapat berbagai konflik kepentingan.

"Maka dari itu, perlu melakukan pengelolaan lingkungan agar dapat memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif. Terkait hal tersebut maka opsi pengelolaan wilayah berupa melakukan perencanaan pengelolaan terpadu antara sungai, pesisir, dan laut sebagai kesatuan atau dikenal Integrated River Basin, Coastal and Ocean Management," tuturnya.

Namun yang terpenting dari semuanya agar pembangunan menjadi berkelanjutan adalah komitmen dan implementasi dari rencana pengelolaan yang sudah dibuat dengan sangat baik serta menjadikan pembangunan berkelanjutan sebagai budaya.

"Sehingga selain dapat memaksimalkan manfaat dan meminimalkan mudharat dari pembangunan berkelanjutan sekaligus terhindar dari tuduhan sebagai negara yang kaya sumber daya alam dan kebijakan namun miskin komitmen dan implementasi," pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar IPB lainnya Irmanida Batubara memaparkan tentang seleksi biofarmaka untuk kebugaran dapat diekplorasi melalui pendekatan kimia bioanalitik yang merupakan cabang ilmu kimia.

"Teknik bioasai sebagai salah satu bagian kimia bioanalitik digunakan dalam eksplorasi biofarmaka berpotensi," katanya. (Baca juga: Pulau Reklamasi Teluk Jakarta Disarankan Jadi Kompleks Olahraga )

Menurutnya, Indonesia saat ini telah menuju tingkat kehidupan yang lebih baik dan sudah saatnya Indonesia memperhatikan kebugaran masyarakat.

"Sumber biofarmaka berpotensi kebugarab telah ditemukan melalui kerja sama antar pihak di dalam maupun luar negeri yang dilakukan dengan memperhatikan konvensi keanekaragaman hayati," tuturnya.
(mhd)
Berita Terkait
Kenali Tempat Hidup...
Kenali Tempat Hidup dan Gejala Infeksi Bakteri pada Enoki L. Monocytogenes
Bukan Makanan Kekinian,...
Bukan Makanan Kekinian, Tapi Bisa Atasi Penyakit Milenial yang Berbahaya
7 Makanan yang Tidak...
7 Makanan yang Tidak Boleh Dipanaskan Kembali, Bisa Berbahaya bagi Tubuh
Tips Menggoreng Makanan...
Tips Menggoreng Makanan agar Tidak Terlalu Berbahaya bagi Kesehatan
FAKTA Indonesia Desak...
FAKTA Indonesia Desak Cukai MBDK Segera Diterapkan usai Tertunda 1 Dekade
Dinkes Maros Sidak Pedagang...
Dinkes Maros Sidak Pedagang Pangan dan Takjil di Pasar Cegah Makanan Berbahaya
Berita Terkini
11 Orang Tewas, Truk...
11 Orang Tewas, Truk Tronton Hantam Pikap Rombongan Pengantar Pengantin di Pantura Indramayu
7 jam yang lalu
Gerak Cepat! Pemkab...
Gerak Cepat! Pemkab Bogor Terjunkan Alat Berat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Baru
7 jam yang lalu
BNPB Sebut 3 Daerah...
BNPB Sebut 3 Daerah di Pulau Jawa Dilanda Karhutla, Ini Lokasinya
8 jam yang lalu
Usai Jadi Tersangka,...
Usai Jadi Tersangka, Rumah Dinas Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Sepi Tanpa Aktivitas
13 jam yang lalu
Pekan Dekranasda Tangsel...
Pekan Dekranasda Tangsel 2026, Momentum Perkenalkan Produk Lokal UMKM
14 jam yang lalu
Komitmen Berkelanjutan,...
Komitmen Berkelanjutan, Tracon Industri Kolaborasi Tanam 500 Mangrove di Karawang
16 jam yang lalu
Infografis
China Marah, AS Tak...
China Marah, AS Tak Mau Tarik Sistem Rudal Typhon dari Filipina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved