Tarif Tol Mahal, Pengamat: Bikin Pengendara Berada di Posisi Dilematis
Selasa, 19 Februari 2019 - 19:05 WIB
Tarif Tol Mahal, Pengamat: Bikin Pengendara Berada di Posisi Dilematis
A
A
A
BOGOR - Pengamat Transportasi Universitas Pakuan Bogor, Budi Arif menilai pemberlakuan tarif tol Bocimi Seksi I dinilai memberikan sisi dilematis kepada pengendara untuk kembali menggunakan jalan Raya Ciawi-Sukabumi.
"Ada dua faktor yang akan dilihat pengendara atau pengguna jalan tol. Yaitu keinginan dan kemampuan untuk membayar tarif tol. Akan tetapi, masyarakat juga akan melihat waktu tempuh tol dan jalur eksisiting yang menjadi pertimbangan," katanya ketika dihubungi, Selasa (19/2/2019).
Menurutnya, dalam penetapan tarif tol, konsepnya ialah pembangunan tol masih berkaitan dengan investasi bagi investor. Tentu ada analisis finansial.
"Analisis tersebut mengacu kepada benefit pengoperasian dibagi biaya pembangunan. Jadi artinya, ada yang namanya ekonomi rekayasa, itu masuk di dalam ranah bisnis plannya," katanya. (Baca: Tarif Tol Dinilai Mahal, Jalan Raya Reguler Ciawi-Sukabumi Kembali Macet )
Ia menambahkan jika tarif tol Bocimi Seksi I dianggap terlalu mahal, tentu masyarakat harus memaklumi jika melihat penghitungan investasi melihat dari pekerjaan sebelumnya. Yakni pembebasan lahan dan lain sebagainya. Kata dia, nilai tersebut akan masuk ke dalam benefit yang dibagi cost.
"Tarif dimungkinkan bisa turun jika melihat waktu konsesi investor sudah balik modal. Investor itu waktunya 20-30 tahun," pungkasnya.
"Ada dua faktor yang akan dilihat pengendara atau pengguna jalan tol. Yaitu keinginan dan kemampuan untuk membayar tarif tol. Akan tetapi, masyarakat juga akan melihat waktu tempuh tol dan jalur eksisiting yang menjadi pertimbangan," katanya ketika dihubungi, Selasa (19/2/2019).
Menurutnya, dalam penetapan tarif tol, konsepnya ialah pembangunan tol masih berkaitan dengan investasi bagi investor. Tentu ada analisis finansial.
"Analisis tersebut mengacu kepada benefit pengoperasian dibagi biaya pembangunan. Jadi artinya, ada yang namanya ekonomi rekayasa, itu masuk di dalam ranah bisnis plannya," katanya. (Baca: Tarif Tol Dinilai Mahal, Jalan Raya Reguler Ciawi-Sukabumi Kembali Macet )
Ia menambahkan jika tarif tol Bocimi Seksi I dianggap terlalu mahal, tentu masyarakat harus memaklumi jika melihat penghitungan investasi melihat dari pekerjaan sebelumnya. Yakni pembebasan lahan dan lain sebagainya. Kata dia, nilai tersebut akan masuk ke dalam benefit yang dibagi cost.
"Tarif dimungkinkan bisa turun jika melihat waktu konsesi investor sudah balik modal. Investor itu waktunya 20-30 tahun," pungkasnya.
(ysw)