Angka Kematian Ibu-Bayi di Kupang Perlu Ditekan

Kamis, 24 Januari 2019 - 17:06 WIB
Angka Kematian Ibu-Bayi...
Angka Kematian Ibu-Bayi di Kupang Perlu Ditekan
A A A
KUPANG - UNICEF menyebutkan Indonesia menjadi negara terbesar ke-5 di dunia yang memiliki angka kelahiran tertinggi. Tingginya angka kelahiran juga memengaruhi kesehatan bayi di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Ada pun 1.000 HPK merupakan masa krusial bagi tumbuh kembang bayi yang akan menentukan kualitas Sumber Daya Manusia suatu bangsa di kemudian hari.

“Pada tahun 2016 lalu, diperkirakan di seluruh dunia tercatat sebanyak 2.600 anak meninggal dunia dalam 24 jam pertama kelahiran, setiap hari. Kondisi ini juga terjadi di Indonesia, khususnya di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur,” kata CEO dan Founder Sehati TeleCTG, dr Ari Waluyo SpOG dalam siaran persnya, Kamis (24/1/2019).

Khusus di Kabupaten Kupang, ungkap Ari, angka Kematian Ibu pada tahun 2015 mencapai 1 hingga 2 kejadian kematian ibu maternal atau saat hamil, saat kelahiran dan pada masa nifas. Sedangkan Angka Kematian Bayi di Kabupaten Kupang tersebut mencapai 33/1.000 kelahiran hidup.

“Beban kerja bidan serta kurangnya kesempatan bidan di daerah untuk berkolaborasi dengan dokter spesialis, penyebaran dokter spesialis yang belum merata serta pemahaman ibu hamil akan pentingnya pengelolaan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang baik masih menjadi persoalan mendasar,” kata Ari.

Melihat kondisi tersebut, lanjut Ari, TeleCTG hadir sebagai perangkat telemedicine yang digunakan untuk memperbaiki sistem pencatatan dan rujukan ibu hamil melalui monitoring yang dilakukan oleh kader dan bidan. TeleCTG ini berfungsi untuk mengetahui detak jantung bayi, pergerakan bayi dan kontraksi ibu hamil.

“TeleCTG sebagai alat medis yang terjangkau berbeda dengan CTG konvensional yang harganya sudah diatas 100 juta, alat ini portabel sehingga mudah dibawa ke daerah terpencil dan cara pengoperasiannya pun relatif mudah,” jelas Ari.

Menurut Ari, penerapan perangkat TeleCTG dilakukan secara simultan dengan pemberian informasi dan edukasi serta pendampingan ibu melalui aplikasi Ibu Sehati dan Bidan Sehati yang dapat difungsikan sebagai buku KIA elektronik, demi tercapainya program 1.000 HPK.

Ari menjelaskan, ekosistem Sehati TeleCTG mulai diimplementasikan oleh 14 Bidan di 14 Puskesmas di Kabupaten Kupang sejak akhir tahun 2018 lalu dan terus berlanjut hingga tahun 2019 ini.

“Melihat situasi dan kondisi di Indonesia, kami menggunakan pendekatan Telehealth. Kami membangun ekosistem untuk memperluas upaya promotif dan preventif melalui telemedicine dan pemberdayaan sumber daya manusia menggunakan teknologi,” timpal Ari.

Ari mengatakan, pihaknya berkolaborasi dengan regulator, dokter spesialis untuk consultation centre dan membangun komunitas bidan serta ibu yang diperkuat dengan Aplikasi Bidan Sehati, Aplikasi Ibu Sehati dan alat kesehatan berbasis telemedicine yang disebut TeleCTG (telecardiotography). Aplikasi ini berfungsi untuk membantu mendeteksi faktor risiko ibu dan janin serta memonitor kesejahteraan janin.

“Semuanya saling terhubung dalam satu platform database guna mempermudah usaha penelusuran dan pengawasan perawatan kehamilan dan proses pengelolaan persalinan yang lebih baik,” jelas Ari.

Ari mengatakan, implementasi ekosistem Sehati TeleCTG melalui peranserta 14 bidan di 14 Puskesmas di Kabupaten Kupang ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kualitas kesehatan di wilayah tersebut.

“Kami ingin menyediakan akses terhadap pelayanan kesehatan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak, khususnya selama 1.000 HPK,” ujar dia.

Ari mengatakan, pemeriksaan kehamilan yang lebih baik dilakukan dengan menerapkan ekosistem Sehati TeleCTG dengan tujuan akhir terjadinya deteksi dini faktor risiko pada ibu hamil. Juga sebagai salah satu upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi dan Stunting yang masih tinggi di Indonesia.

“Setelah mengikuti program ini, diharapkan ibu hamil, bidan dan kader menyadari pentingnya merawat kehamilan sebagai bagian penting dari kesuksesan 1.000 HPK,” pungkas Ari.
(sms)
Berita Terkait
85 Bayi di Blitar Lahir...
85 Bayi di Blitar Lahir Meninggal Dunia, Dipengaruhi Kesehatan Ibu
Bangkalan Gempar, Seorang...
Bangkalan Gempar, Seorang Wanita Melahirkan 4 Bayi Kembar, Semuanya Meninggal
Bacaleg Perindo Kota...
Bacaleg Perindo Kota Cimahi Gratiskan Pelayanan Kesehatan dan Ibu Melahirkan
Jokowi Resmikan Gedung...
Jokowi Resmikan Gedung Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak RS Wahidin Sudirohusodo
Peran Penting Perawatan...
Peran Penting Perawatan Kesehatan Ibu setelah Melahirkan bagi Masa Depan Si Kecil
Ibu Tak Bahagia saat...
Ibu Tak Bahagia saat Hamil Berpeluang Melahirkan Bayi Prematur
Berita Terkini
3 Yayasan Sah di Bawah...
3 Yayasan Sah di Bawah UIN Jakarta, Pengacara: Klaim Sepihak Akan Berdampak Hukum
4 jam yang lalu
Imigrasi Semarang Bongkar...
Imigrasi Semarang Bongkar Praktik Love Scamming, Tangkap 4 WNA China
9 jam yang lalu
Keluhkan Bongkar Muat...
Keluhkan Bongkar Muat Batu Bara di Laut, Nelayan Pulau Ampel: Jadi Susah Tangkap Ikan
9 jam yang lalu
Makin Fleksibel! Keliling...
Makin Fleksibel! Keliling Dunia Nggak Masalah, Daftar BRImo Kini Bisa dari 15 Negara
9 jam yang lalu
Bhakti TNI, Satgas Yonif...
Bhakti TNI, Satgas Yonif 631/Antang Bangun MCK di Dagai Puncak Jaya
9 jam yang lalu
Wujudkan Desa Mandiri,...
Wujudkan Desa Mandiri, BRI Peduli Dorong Wisata dan Edukasi Berbasis Masyarakat di Ketapanrame
10 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved