Lahir Tanpa Batok Kepala, Bayi Ini Butuh Uluran Tangan Dermawan

Senin, 07 Januari 2019 - 17:18 WIB
Lahir Tanpa Batok Kepala,...
Lahir Tanpa Batok Kepala, Bayi Ini Butuh Uluran Tangan Dermawan
A A A
PANGKALAN BUN - Malang nasib bayi Rahmad Hidayat (dua hari) warga Jalan Gusti Abdullah, RT 3, Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan (Arsel), Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng. Putra pasangan Sri Wahyuni (26) dan Barliansyah (45) ini lahir tanpa batok kepala.

Rahmat lahir secara normal di RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, Minggu (6/1/2019) pukul 05.00 WIB. Karena ketiadaan BPJS Kesehatan dan ketiadaan biaya, akhirnya Rahmad dipulangkan ke rumah meski belum diketahui kondisi pasti bayi malang ini.

“Rahmat lahir normal dengan berat badan sekitar 3 kg. Saya terkaget lahirnya tanpa batok kepala. Meski sekarang kondisinya sehat, namun kita tidak tahu kondisi sebenarnya. Kemarin habis biaya persalinan sekitar Rp2 jutaan, karena saya tidak ada BPJS Kesehatan makanya saya bawa pulang karena saya tidak punya biaya,” ujar ibu bayi malang ini, Sri Wahyuni (26) dengan raut muka sedih di sedih di rumah sangat sederhana ukuran 4x8 metet yang terbuat dari kayu di sekitar Bantaran Sungai Arut.

Di dalam rumah ini ada 3 kepala keluarga (KK) yang menghuni. Dua orangtua, tiga anak Sri (termasuk Rahmad, Sri dan suami. “Ya kami tinggal di rumah ini bertujuh,” timpalnya.

Menurut Sri, selama 9 bulan hamil tidak ada keluhan apapun. Selama ini berobat dengan bidan kampung dan tidak pernah di USG karena ketiadaan biaya. Pada Sabtu (5/1/2019) sekitar pukul 22.00 WIB perut mulai kontraksi dan segera dilarikan ke RSUD Sultan Imanuddin. “Sabtu pukul 23.30 WIB mulai masuk ruang persalinan dan pada Minggu pukul 05.00 WIB Rahmad lahir dengan tanpa batok kepala,” timpalnya.

Ayah Rahmad, Barliansyah (45) yang bekerja sebagai kuli angkut barang bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Kalaf Kumai berharap bantuan dari para donatur. Sebab dirinya mengaku tidak mampu berobatkan anaknya yang lahir tanpa batok kepala.

“Kerjaan saya tidak menentu, kalau ada kapal datang baru ikut bongkar muat barang, paling sehari cuma dapat Rp50 ribu. Itupun tidak tiap hari. Yah sebulan rata rata hanya mendapat honor Rp1,5 juta,” ujar Barli dengan muka sedih di dalam rumahnya.

Dia berharap uluran tangan dari pemerintah daerah dan juga warga. Supaya anak ketiganya tersebut bisa dirawat di rumah sakit dan mengetahui kondisi sebenarnya.“Ya saya takut terjadi apa apa, karena tidak ada batok kepalanya. Takutnya nanti terlalu lama di rumah justru terkena virus atau apa. Saya takut,” pungkasnya.
(sms)
Berita Terkait
Rakor Kemenko PMK Bahas...
Rakor Kemenko PMK Bahas Strategi Terbaru untuk Penghapusan Kemiskinan Ekstrem 2024
Menko PMK Beberkan Langkah...
Menko PMK Beberkan Langkah Strategis Penanganan Kemiskinan
DIY Provinsi Termiskin...
DIY Provinsi Termiskin di Jawa
Rapat Evaluasi Kemiskinan:...
Rapat Evaluasi Kemiskinan: Jumlah Penduduk Miskin Ekstrem Menyusut
Angka Kemiskinan Perkotaan...
Angka Kemiskinan Perkotaan Jabar Naik
Mendorong Perempuan...
Mendorong Perempuan Desa Keluar dari Miskin Ekstrem
Berita Terkini
Kasus Penipuan Hanania...
Kasus Penipuan Hanania Travel, Polda Metro Periksa 70 Saksi
3 jam yang lalu
Kuasa Hukum Roy Suryo...
Kuasa Hukum Roy Suryo Beberkan Konstruksi Laporan Terhadap Lechumanan dan Rismon
3 jam yang lalu
Kader PPP Segera Laporkan...
Kader PPP Segera Laporkan Taj Yasin, Agus Suparmanto, dan Thobahul Aftoni ke Polda Metro
3 jam yang lalu
PTUN Serang Tutup Gugatan...
PTUN Serang Tutup Gugatan Yayasan Syarif Hidayatullah, Pengacara: Kepemilikan UIN Jakarta Kian Tegas
5 jam yang lalu
SDN di NTT Dibongkar...
SDN di NTT Dibongkar untuk KDMP, Andreas PDIP: Jangan Korbankan Program Lainnya
6 jam yang lalu
Program Perempuan Berdaya...
Program Perempuan Berdaya Sandiaga Uno, Peserta Raup Pesanan Jutaan Rupiah
6 jam yang lalu
Infografis
Profil Nanik S Deyang,...
Profil Nanik S Deyang, Kepala BGN Pengganti Dadan Hindayana
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved