Buang Air Besar Sembarangan, Sungai di Jakarta Tercemar

Senin, 19 November 2018 - 18:05 WIB
Buang Air Besar Sembarangan,...
Buang Air Besar Sembarangan, Sungai di Jakarta Tercemar
A A A
JAKARTA - Maraknya permukiman baru di DKI Jakarta dan sekitarnya menimbulkan beberapa persoalan kesehatan lingkungan. Beberapa di antaranya pencemaran sungai oleh limbah rumah tangga dan merosotnya ketersediaan air bersih.

Berdasarkan data terakhir, 40% sungai di DKI Jakarta tercemar bakteri Escherichia coli (E-coli). Tingginya jumlah E-coli itu mengindikasikan sungai-sungai di DKI Jakarta tercemar tinja.

"Artinya 40% warga DKI Jakarta masih buang air besar sembarangan. Walau pun di WC, tapi salurannya, ujung-ujungnya ke got dan sungai. Itu berdampak terhadap kesehatan," kata Anggota Himpinan Ahli Kesehatan Lingkungan Hidup (HAKLI) Jawa Barat Bambang Yulianto, Senin (19/11/2018).

Sanitasi yang buruk itu ternyata menimbulkan kerugian yang sangat besar. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut bahwa kerugian yang disebabkan sanitasi buruk mencapai Rp5,6 triliun per tahun. Kerugian itu dihitung dari pengobatan masyarakat yang menderita penyakit diare. Penyakit ini mengindikasikan sanitasi di lingkungan tempat tinggal masyarakat tidak baik.

Untuk itu, kata Bambang, semestinya setiap permukiman memiliki sistem pengolahan limbah yang baik. Dimulai dari rumah yang memiliki biofilter untuk limbah rumah tangganya. Limbah yang telah melalui biofilter itu kemudian dibuang menuju pengolahan limbah komunal. Di sini limbah rumah tangga diolah sampai memenuhi baku mutu yang ditetapkan, baru kemudian dibuang ke sungai.

"Kalau sudah seperti itu aman. Tidak menyebabkan pencemaran di wilayah sekitar," paparnya.

Selain limbah rumah tangga, persoalan kesehatan lingkungan lainnya adalah ketersediaan air bersih di sebuah permukiman. Munculnya banyak perumahan-perumahan baru bisa berdampak pada stok air bersih di sekitarnya. Sebab, perumahan kelas menengah ke atas biasanya menggunakan sumur dalam untuk memenuhi kebutuhan air bersih penghuninya.

"Karena jumlah kebutuhannya cukup banyak, itu (air sumur dalam) bisa menurunkan muka air tanah di sekitarnya. Dampaknya sumur penduduk di sekitarnya jadi gampang kering," kata Bambang.

Karena itu, menurut Bambang, para pengembang harus berpegang kepada tata ruang wilayah. Lokasi yang tidak ideal tidak boleh dipaksakan menjadi perumahan. Selain itu, pengembang melakukan kajian terhadap dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL).

"Apakah daya dukung lingkungannya memungkinkan, terjadi pergeseran tanah tidak dan sebagainya. Ini penting untuk keselamatan penghuninya," katanya.
(mhd)
Berita Terkait
Lima Sungai yang Paling...
Lima Sungai yang Paling Tercemar di Dunia
Sungai Tercemar Zat...
Sungai Tercemar Zat Besi, Buaya di Nepal Kulitnya Jadi Berkarat
Fenomena Aneh, Aliran...
Fenomena Aneh, Aliran Sungai di Jembatan Tarikolot Sempat Berbusa seperti Awan
Aliran Sungai Cileungsi...
Aliran Sungai Cileungsi Tercemar Limbah Pabrik
Sungai Jaletreng Berwarna...
Sungai Jaletreng Berwarna Coklat, DLH: Hasil Uji Lab Masih Kategori Aman
Aksi Warga Lawan Pencemaran...
Aksi Warga Lawan Pencemaran Limbah Pabrik
Berita Terkini
Klive Beach Club Gandeng...
Klive Beach Club Gandeng Happiness Foundation Gelar CSR Kebahagiaan
42 menit yang lalu
Catat Ekspansi Signifikan,...
Catat Ekspansi Signifikan, Dyputu Studio Bekasi Jadi Subjek Penelitian Akademis
1 jam yang lalu
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Gubernur DKI Apresiasi Astra Pelopori Naik Transum
1 jam yang lalu
Stafsus Menag Sayangkan...
Stafsus Menag Sayangkan Pembubaran Kemah Pemuda Ahmadiyah di Karanganyar
2 jam yang lalu
Rooting for Future,...
Rooting for Future, PAMA Bersama UGM dan OIKN Penanaman Pohon Bersama
3 jam yang lalu
Kasus Penyelundupan...
Kasus Penyelundupan 796 Kg Sisik Trenggiling, WN Vietnam Diserahkan ke Kejari Cilegon
3 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved