12 Kali di Jakarta Dipenuhi Sampah Kiriman dari Bogor dan Depok
Senin, 19 November 2018 - 07:05 WIB
12 Kali di Jakarta Dipenuhi Sampah Kiriman dari Bogor dan Depok
A
A
A
JAKARTA - DKI Jakarta mulai bekerja keras guna mengantisipasi tumpukan sampah di pintu-pintu air yang berasal dari hulu, yakni kiriman dari Kota Depok dan Bogor.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Isnawadji, mengatakan, sampah di Jakarta pada musim hujan meningkat 3-4 persen dari jumlah per hari sampah Jakarta sebanyak 7 ton. Sampah tersebut berasal dari hulu Ciliwung, yakni Depok dan Bogor.
“Dari jenis dan karakteristik seperti bambu, batang pohon, dan lain-lain. Sumber sampah berasal dari hulu,” kata Isnawadji saat dihubungi Minggu, 18 November 2018.
Menurut Isnawa, salah satu cara agar sampah tidak menumpuk di pintu air adalah, warga di hulu harus diberikan edukasi untuk tidak membuang sampah ke sungai. Dia memprediksi penumpukan sampah akan terjadi di 12 titik di lima wilayah kota pada musim hujan ini. Titik-titik itu berada di saluran air atau kali.
Di Jakarta Pusat, penumpukan sampah diprakirakan terjadi di Pintu Air Manggarai dan Banjir Kanal Barat (BKB) Petamburan. Di Jakarta Utara, ada empat lokasi yang diprediksi jadi titik penumpukan sampah, yakni Kali Cagak Penjaringan, Cakung Drain Cilincing, Pintu Air 8 Tanjung Priok, dan Kali Sentiong.
Sementara di Jakarta Barat, penumpukan sampah diprakirakan terjadi di BKB Seasons City dan Kali Sekretaris. Kemudian di Jakarta Selatan, penumpukan sampah diprediksi terjadi di saringan TB Simatupang dan Kampung Melayu aliran Tebet. “Ini kawasan yang harus diprioritskan antisipasinya," ujarnya.
Adapun antisipasi yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup, pihaknya menyiagakan sejumlah alat berat. Seperti di Pintu Air Manggarai, Dinas Lingkungan Hidup menyiagakan delapan truk sampah kecil dan sembilan mobil pengangkut sampah.
"Selain itu, agar tidak terjadi penumpukan, kami memasang HDPE (high density polyethylene) di titik-titik lokasi aliran menuju Manggarai agar mempermudah penyisiran sampah sebelum mengalir ke Pintu Air Manggarai," ucapnya.
HDPE berbentuk persegi panjang bewarna oranye atau biru akan mengapung dengan posisi melintang di badan kali. Dengan HDPE, sampah yang terbawa arus sungai akan tersangkut sebelum menumpuk di pintu air untuk segera dibersihkan. “Saringan juga semua diaktifkan selama 24 jam,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Komisi D DPRD DKI Jakarta, Padapotan Sinaga, meminta Dinas Lingkugan Hidup tidak serta merta menyalahkan tumpukan sampah yang terjadi di sejumlah pintu air berasal dari hulu. Walaupun memang berasal dari hulu, Dinas Lingkungan Hidup harusnya memiliki antisipasi agar sampah tidak menumpuk di pintu air.
“Saya pernah melihat adanya pengadaan saringan sampah. Harusnya itu berfungsi kalau benar,” pungkasnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Isnawadji, mengatakan, sampah di Jakarta pada musim hujan meningkat 3-4 persen dari jumlah per hari sampah Jakarta sebanyak 7 ton. Sampah tersebut berasal dari hulu Ciliwung, yakni Depok dan Bogor.
“Dari jenis dan karakteristik seperti bambu, batang pohon, dan lain-lain. Sumber sampah berasal dari hulu,” kata Isnawadji saat dihubungi Minggu, 18 November 2018.
Menurut Isnawa, salah satu cara agar sampah tidak menumpuk di pintu air adalah, warga di hulu harus diberikan edukasi untuk tidak membuang sampah ke sungai. Dia memprediksi penumpukan sampah akan terjadi di 12 titik di lima wilayah kota pada musim hujan ini. Titik-titik itu berada di saluran air atau kali.
Di Jakarta Pusat, penumpukan sampah diprakirakan terjadi di Pintu Air Manggarai dan Banjir Kanal Barat (BKB) Petamburan. Di Jakarta Utara, ada empat lokasi yang diprediksi jadi titik penumpukan sampah, yakni Kali Cagak Penjaringan, Cakung Drain Cilincing, Pintu Air 8 Tanjung Priok, dan Kali Sentiong.
Sementara di Jakarta Barat, penumpukan sampah diprakirakan terjadi di BKB Seasons City dan Kali Sekretaris. Kemudian di Jakarta Selatan, penumpukan sampah diprediksi terjadi di saringan TB Simatupang dan Kampung Melayu aliran Tebet. “Ini kawasan yang harus diprioritskan antisipasinya," ujarnya.
Adapun antisipasi yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup, pihaknya menyiagakan sejumlah alat berat. Seperti di Pintu Air Manggarai, Dinas Lingkungan Hidup menyiagakan delapan truk sampah kecil dan sembilan mobil pengangkut sampah.
"Selain itu, agar tidak terjadi penumpukan, kami memasang HDPE (high density polyethylene) di titik-titik lokasi aliran menuju Manggarai agar mempermudah penyisiran sampah sebelum mengalir ke Pintu Air Manggarai," ucapnya.
HDPE berbentuk persegi panjang bewarna oranye atau biru akan mengapung dengan posisi melintang di badan kali. Dengan HDPE, sampah yang terbawa arus sungai akan tersangkut sebelum menumpuk di pintu air untuk segera dibersihkan. “Saringan juga semua diaktifkan selama 24 jam,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Komisi D DPRD DKI Jakarta, Padapotan Sinaga, meminta Dinas Lingkugan Hidup tidak serta merta menyalahkan tumpukan sampah yang terjadi di sejumlah pintu air berasal dari hulu. Walaupun memang berasal dari hulu, Dinas Lingkungan Hidup harusnya memiliki antisipasi agar sampah tidak menumpuk di pintu air.
“Saya pernah melihat adanya pengadaan saringan sampah. Harusnya itu berfungsi kalau benar,” pungkasnya.
(thm)