Ojek Online Banyak Ngetem, Dishub DKI Minta Pengelola Buat Shelter
Kamis, 18 Oktober 2018 - 12:24 WIB
Ojek Online Banyak Ngetem, Dishub DKI Minta Pengelola Buat Shelter
A
A
A
JAKARTA - Keberadaan ojek online yang kerap mengetem sembarang membuat masyarakat merasa terganggu. Dishub DKI Jakarta pun akan berkordinasi dengan manajemen ojek online untuk membangun shelter.
Plt Kadishub DKI Jakarta, Sigit Wijadtmoko mengatakan, soal pengelolaan ojek online pihaknya baru sebatas memberikan ruang antar dan jemput.
"Ya kan gini, kemarin kita sudah mengawali ya bahwa beberapa bulan yang lalu, berkaitan dengan pikap dan drop off point untuk online. Diawali dengan aset milik Pemprov dan ini dilakukan untuk bergerak kepada gedung-gedung swasta maupun kantor-kantor lah seperti itu," kata Sigit kepada wartawan, Kamis (18/10/2018).
Sigit menambahkan, Dishub dan pengelola ojek online terus berkomunikasi mencari solusi. Salah satu usulannya yakni membuat shelter-shelter untuk para ojek online.
"Rencananya ada komunikasi dari temen-teman online ada konsep terkait shelter. Yang pasti kita mau dengarkan juga ini fakta juga dan harus di maintenance atau harus dikelola supaya enggak ganggu kepentingan lain," terangnya.
Beberapa shelter, lanjut Sigit, sudah ada di gedung-gedung pemerintahan.
"Sudah, sudah kan. Baru di gedung pemerintahan.Tapi kan bicara presentasenya kan termasuk besar dari mereka makanya komunikasi dengan operator. Pengawasan, monitoring maupun sistem reward and punishment di mereka juga jadi concern kami. Karena utilitasasi dan perangkat digitalisasi akan lebih mudah pengawasan dan pemantauannya. Ini yang kami minta agar mereka tergerak untuk itu," urainya.
Pantauan SINDOnews di Jalan Daan Mogot Raya depan Hotel Ibis kawasan Pesing, Jakarta Barat, setiap pagi dan sore kemacetan cukup parah. Penyebabnya banyak ojek online dan angkutan umum yang mengetem menunggu penggunanya. Penumpang KRL yang turun di Stasiun Pesing tumpah ruah di titik tersebut. Alhasil kemacetan tak terelakkan.
Plt Kadishub DKI Jakarta, Sigit Wijadtmoko mengatakan, soal pengelolaan ojek online pihaknya baru sebatas memberikan ruang antar dan jemput.
"Ya kan gini, kemarin kita sudah mengawali ya bahwa beberapa bulan yang lalu, berkaitan dengan pikap dan drop off point untuk online. Diawali dengan aset milik Pemprov dan ini dilakukan untuk bergerak kepada gedung-gedung swasta maupun kantor-kantor lah seperti itu," kata Sigit kepada wartawan, Kamis (18/10/2018).
Sigit menambahkan, Dishub dan pengelola ojek online terus berkomunikasi mencari solusi. Salah satu usulannya yakni membuat shelter-shelter untuk para ojek online.
"Rencananya ada komunikasi dari temen-teman online ada konsep terkait shelter. Yang pasti kita mau dengarkan juga ini fakta juga dan harus di maintenance atau harus dikelola supaya enggak ganggu kepentingan lain," terangnya.
Beberapa shelter, lanjut Sigit, sudah ada di gedung-gedung pemerintahan.
"Sudah, sudah kan. Baru di gedung pemerintahan.Tapi kan bicara presentasenya kan termasuk besar dari mereka makanya komunikasi dengan operator. Pengawasan, monitoring maupun sistem reward and punishment di mereka juga jadi concern kami. Karena utilitasasi dan perangkat digitalisasi akan lebih mudah pengawasan dan pemantauannya. Ini yang kami minta agar mereka tergerak untuk itu," urainya.
Pantauan SINDOnews di Jalan Daan Mogot Raya depan Hotel Ibis kawasan Pesing, Jakarta Barat, setiap pagi dan sore kemacetan cukup parah. Penyebabnya banyak ojek online dan angkutan umum yang mengetem menunggu penggunanya. Penumpang KRL yang turun di Stasiun Pesing tumpah ruah di titik tersebut. Alhasil kemacetan tak terelakkan.
(whb)