Uji Coba Sinyal Lancar, Proyek MRT Jakarta Fase I Tinggal Finishing
Minggu, 19 Agustus 2018 - 22:03 WIB
Uji Coba Sinyal Lancar, Proyek MRT Jakarta Fase I Tinggal Finishing
A
A
A
JAKARTA - Proyek kereta bawah tanah atau Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Fase I (Lebak bulus-Bundaran HI) terus mengalami progres yang baik. Proyek MRT Fase I saat ini tengah memasuki tahap finishing.
Direktur Kontruksi PT MRT Silvia Halim mengatakan, uji coba berkala masih terus dilakukan sebelum nantinya pertama kali beroperasi pada Maret 2019.
Silvia membeberkan proyek ini hingga akhir Juli 2018 sudah mencapai 95,33 persen. Dengan rincian 93,41 persen untuk pembanguna depo dan seksi elevated atau layang, dan 97,26 persen untuk bawah tanah. “Bisa dibilang ini tinggal finishing saja,” ujar Silvia, Minggu (19/8/2018).
Saat ini proyek MRT tengah memasuki uji coba di jalur utama hingga September 2018. Karena itu, apabila melihat di Depo MRT Lebak Bulus, hilir mudik kereta akan terlihat. Sebelum uji coba ini, pada bulan Juni- Juli 2018 lalu, rangkaian juga dilakukan uji coba signaling.
“Sedangkan untuk 12 November 2018 nanti, uji coba operasi sistem perkeretaapian secara terintegrasi oleh kontraktor,” kata Silvia.
Setelah itu barulah pada 8 Desember 2018 mulai dilakukan uji coba kereta ke 2-16 di jalur utama. Sedangkan untuk 15 Februari 2019 dilakukan uji coba sistem perkeretaapian secara penuh (full trial run) bakal dilakukan MRT Jakarta.
“Pada akhir Maret 2019 MRT Jakarta Fase I resmi beroperasi secara komersial,” pungkas Silvia.
Sementara itu, Sekertaris Perusahaan PT Mass Rapid Transit, Tubagus Hikmatullah, mengatakan,
pihaknya telah melakukan uji coba System Acceptance Test (SAT) menggunakan rangkaian kereta pertama MRT Jakarta. Area pengetesan yakni dari Depo Lebak Bulus menuju Stasiun Lebak Bulus, Stasiun Fatmawati, hingga Stasiun Cipete Raya.
Pengetesan dimulai dengan menjalankan kereta di jalur up-track (rel menuju Stasiun Bundaran Hotel Indonesia) lalu kereta berpindah ke jalur down-track (rel dari Stasiun Bundaran Hotel Indonesia ke Stasiun Lebak Bulus). “Uji coba SAT berlangsung sukses sesuai dengan harapan,” ungkapnya.
Terkait tarif, Hikmat belum mau menyebutkan lantaran masih masuk dalam pembahasan. Berdasarkan peraturan, besaran tarif harus sudah ada paling lambat tiga bulan sebelum operasi atau paling lambat sebelum Desember mendatang.
Sementara itu, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) bidang Perkeretaapian DKI Jakarta, Aditya Dwilaksana optimistis proyek MRT rampung sesuai target dan dapat dioperasikan sesuai dengan kemampuan SDM-nya. Sebab, meski kali pertama ada di Indonesia, namun MRT memiliki waktu yang cukup.
Adit berharap agar dalam pengoperasiannya nanti, MRT bukan hanya terintegrasi fisik dengan moda transportasi lain. Dari segi tarif, MRT harus dapat terintegrasi dengan moda transportasi lain.
Dengan demikian masyarakat benar benar dapat meninggalkan kendaraan pribadinya dan berpindah ke MRT.
“DKI harus persiapkan integrasi moda Transportasi baik fisik ataupun tiket. Jangan sampai semua disubsidi tetapi masyarakat kesulitan melakukan pembayaran,” tegasnya.
Direktur Kontruksi PT MRT Silvia Halim mengatakan, uji coba berkala masih terus dilakukan sebelum nantinya pertama kali beroperasi pada Maret 2019.
Silvia membeberkan proyek ini hingga akhir Juli 2018 sudah mencapai 95,33 persen. Dengan rincian 93,41 persen untuk pembanguna depo dan seksi elevated atau layang, dan 97,26 persen untuk bawah tanah. “Bisa dibilang ini tinggal finishing saja,” ujar Silvia, Minggu (19/8/2018).
Saat ini proyek MRT tengah memasuki uji coba di jalur utama hingga September 2018. Karena itu, apabila melihat di Depo MRT Lebak Bulus, hilir mudik kereta akan terlihat. Sebelum uji coba ini, pada bulan Juni- Juli 2018 lalu, rangkaian juga dilakukan uji coba signaling.
“Sedangkan untuk 12 November 2018 nanti, uji coba operasi sistem perkeretaapian secara terintegrasi oleh kontraktor,” kata Silvia.
Setelah itu barulah pada 8 Desember 2018 mulai dilakukan uji coba kereta ke 2-16 di jalur utama. Sedangkan untuk 15 Februari 2019 dilakukan uji coba sistem perkeretaapian secara penuh (full trial run) bakal dilakukan MRT Jakarta.
“Pada akhir Maret 2019 MRT Jakarta Fase I resmi beroperasi secara komersial,” pungkas Silvia.
Sementara itu, Sekertaris Perusahaan PT Mass Rapid Transit, Tubagus Hikmatullah, mengatakan,
pihaknya telah melakukan uji coba System Acceptance Test (SAT) menggunakan rangkaian kereta pertama MRT Jakarta. Area pengetesan yakni dari Depo Lebak Bulus menuju Stasiun Lebak Bulus, Stasiun Fatmawati, hingga Stasiun Cipete Raya.
Pengetesan dimulai dengan menjalankan kereta di jalur up-track (rel menuju Stasiun Bundaran Hotel Indonesia) lalu kereta berpindah ke jalur down-track (rel dari Stasiun Bundaran Hotel Indonesia ke Stasiun Lebak Bulus). “Uji coba SAT berlangsung sukses sesuai dengan harapan,” ungkapnya.
Terkait tarif, Hikmat belum mau menyebutkan lantaran masih masuk dalam pembahasan. Berdasarkan peraturan, besaran tarif harus sudah ada paling lambat tiga bulan sebelum operasi atau paling lambat sebelum Desember mendatang.
Sementara itu, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) bidang Perkeretaapian DKI Jakarta, Aditya Dwilaksana optimistis proyek MRT rampung sesuai target dan dapat dioperasikan sesuai dengan kemampuan SDM-nya. Sebab, meski kali pertama ada di Indonesia, namun MRT memiliki waktu yang cukup.
Adit berharap agar dalam pengoperasiannya nanti, MRT bukan hanya terintegrasi fisik dengan moda transportasi lain. Dari segi tarif, MRT harus dapat terintegrasi dengan moda transportasi lain.
Dengan demikian masyarakat benar benar dapat meninggalkan kendaraan pribadinya dan berpindah ke MRT.
“DKI harus persiapkan integrasi moda Transportasi baik fisik ataupun tiket. Jangan sampai semua disubsidi tetapi masyarakat kesulitan melakukan pembayaran,” tegasnya.
(thm)