Musim Angin Selatan, Nelayan di Bintan Alih Profesi Jadi Buruh Serabutan
Senin, 13 Agustus 2018 - 19:57 WIB
Musim Angin Selatan, Nelayan di Bintan Alih Profesi Jadi Buruh Serabutan
A
A
A
BINTAN - Sudah hampir sebulan, musim Angin Selatan terjadi di Perairan Bintan, Kepri. Angin musim selatan ini pun membuat para nelayan enggan melaut diakibatkan karena di musim ini, ombak di tengah laut cukup besar disertai angin kencang.
Seperti yang dialami oleh Haryani (42) salah seorang Nelayan Bintan yang kerap mengarungi beberapa perairan di Bintan diantaranya, Mangkil, Mapur, Marapas dan Sungai Kecil memilih tidak melaut selama musim Angin Selatan.
“Ombak besar dan angin kencang, musim selatan tak melaut, takut ombak dan angin kencang, apalagi pompong saya ukurannya kecil,” ujar pria yang akrab disapa Dondong ini, Senin (13/8/2018).
Untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya, Dondong menyampaikan selama musim Angin Selatan, dirinya pun beraktivitas di daratan, untuk mencari nafkah. Dia mengaku, menjadi buruh harian sebagai poter (pengangkut barang) di pelabuhan yang tidak jauh dari kediamannya.
“Kalau pagi sampai siang, kerja serabutan di pelabuhan, angkat-angkat barang, setidaknya ada dapat uang harian, tapi tidak besar jika dibandingkan pendapatan nangkap ikan, karena angkut barang tergantung jumlah kapal yang datang dan barang yang diangkut,” ujarnya.
Namun Dondong tidak kehabisan akal, disamping kegiatannya sebagai pekerja serabutan selama musim angin selatan. Dia terbilang salah satu nelayan kreatif. Dimana, sebelum musim Selatan tiba, dia sudah mengumpulkan uang untuk mendirikan tangkul udang, di sungai mangrove yang juga tidak jauh dari kediamannya.
Menurutnya, membangun tangkul bisa menambah penghasilan harian yang dia dapat, karena kerja serabutan sebagai buruh harian, tidak cukup untuk membiayai sekolah anak-anaknya.
“Didekat rumah ada sungai mangrove, disana saya buat tangkul udang, kalau saat sekarang memang udangnya belum begitu banyak, tapi adalah seons dua ons perhari, karena sekarang belum musim udang,” ujarnya.
Dia menyampaikan, musim Angin Selatan sudah berlangsung kurang lebih selama sebulan yang terjadi di Perairan Bintan. Dari kebiasaannya yang dia alami, musim Angin Selatan akan berakhir di penghujung bulan Agustus. Dan ombak di laut menurutnya sudah teduh di bulan September.
“Bulan September sudah bisa melaut lagi, karena udah sebulan musim Angin Selatan, jadi bulan September saya sudah bisa menangkap ikan di laut,” pungkasnya.
Harga Ikan Laut Melambung
Sementara, akibat musim Angin Selatan yang terjadi sebulan terakhir, berdampak pada melonjaknya harga jenis ikan laut yang dijual di pasaran. Hal ini diakibatkan, lantaran berkurannya pasokan ikan dari para nelayan tradisional yang kebanyakan mengandalkan pompong kecil untuk melaut.
“Harga naik karena nelayan banyak yang tidak melaut, akibat musim Angin Selatan karena ombak besar,” ujar Heri seorang pedagang ikan di salah satu pasar.
Dia mengungkapkan, lonjakan harga ikan saat ini pun terbilang tinggi dibandingkan di hari biasa, sebelum musim angin selatan.
Adapun beberapa harga ikan yang dihimpun diantaranya, Ikan selar yang biasnaya dibadrol Rp20 ribu per kilogram sekarang naik menjadi Rp45 ribu perkilogram, Ikan Kembung yang biasa Rp15 ribu menjadi Rp35 ribu, Ikan Sotong yang biasa Rp50 ribu per kilogram sekarang seharga Rp80 ribu perkilo.Selanjutnya Ikan Benggol yang biasa Rp15 ribu perkilogram sekarang seharga Rp30 ribu per kilogram, Ikan Mata Besar yang biasa berharga Rp25 ribu perkilogram sekarang seharga Rp35 ribu perkilogram, dan Ikan Tongkol yang biasa seharga Rp18 ribu perkilogram menjadi seharga Rp35 ribu.
Seperti yang dialami oleh Haryani (42) salah seorang Nelayan Bintan yang kerap mengarungi beberapa perairan di Bintan diantaranya, Mangkil, Mapur, Marapas dan Sungai Kecil memilih tidak melaut selama musim Angin Selatan.
“Ombak besar dan angin kencang, musim selatan tak melaut, takut ombak dan angin kencang, apalagi pompong saya ukurannya kecil,” ujar pria yang akrab disapa Dondong ini, Senin (13/8/2018).
Untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya, Dondong menyampaikan selama musim Angin Selatan, dirinya pun beraktivitas di daratan, untuk mencari nafkah. Dia mengaku, menjadi buruh harian sebagai poter (pengangkut barang) di pelabuhan yang tidak jauh dari kediamannya.
“Kalau pagi sampai siang, kerja serabutan di pelabuhan, angkat-angkat barang, setidaknya ada dapat uang harian, tapi tidak besar jika dibandingkan pendapatan nangkap ikan, karena angkut barang tergantung jumlah kapal yang datang dan barang yang diangkut,” ujarnya.
Namun Dondong tidak kehabisan akal, disamping kegiatannya sebagai pekerja serabutan selama musim angin selatan. Dia terbilang salah satu nelayan kreatif. Dimana, sebelum musim Selatan tiba, dia sudah mengumpulkan uang untuk mendirikan tangkul udang, di sungai mangrove yang juga tidak jauh dari kediamannya.
Menurutnya, membangun tangkul bisa menambah penghasilan harian yang dia dapat, karena kerja serabutan sebagai buruh harian, tidak cukup untuk membiayai sekolah anak-anaknya.
“Didekat rumah ada sungai mangrove, disana saya buat tangkul udang, kalau saat sekarang memang udangnya belum begitu banyak, tapi adalah seons dua ons perhari, karena sekarang belum musim udang,” ujarnya.
Dia menyampaikan, musim Angin Selatan sudah berlangsung kurang lebih selama sebulan yang terjadi di Perairan Bintan. Dari kebiasaannya yang dia alami, musim Angin Selatan akan berakhir di penghujung bulan Agustus. Dan ombak di laut menurutnya sudah teduh di bulan September.
“Bulan September sudah bisa melaut lagi, karena udah sebulan musim Angin Selatan, jadi bulan September saya sudah bisa menangkap ikan di laut,” pungkasnya.
Harga Ikan Laut Melambung
Sementara, akibat musim Angin Selatan yang terjadi sebulan terakhir, berdampak pada melonjaknya harga jenis ikan laut yang dijual di pasaran. Hal ini diakibatkan, lantaran berkurannya pasokan ikan dari para nelayan tradisional yang kebanyakan mengandalkan pompong kecil untuk melaut.
“Harga naik karena nelayan banyak yang tidak melaut, akibat musim Angin Selatan karena ombak besar,” ujar Heri seorang pedagang ikan di salah satu pasar.
Dia mengungkapkan, lonjakan harga ikan saat ini pun terbilang tinggi dibandingkan di hari biasa, sebelum musim angin selatan.
Adapun beberapa harga ikan yang dihimpun diantaranya, Ikan selar yang biasnaya dibadrol Rp20 ribu per kilogram sekarang naik menjadi Rp45 ribu perkilogram, Ikan Kembung yang biasa Rp15 ribu menjadi Rp35 ribu, Ikan Sotong yang biasa Rp50 ribu per kilogram sekarang seharga Rp80 ribu perkilo.Selanjutnya Ikan Benggol yang biasa Rp15 ribu perkilogram sekarang seharga Rp30 ribu per kilogram, Ikan Mata Besar yang biasa berharga Rp25 ribu perkilogram sekarang seharga Rp35 ribu perkilogram, dan Ikan Tongkol yang biasa seharga Rp18 ribu perkilogram menjadi seharga Rp35 ribu.
(sms)