Sejak Nenek Moyang, Kampung Ini Selalu Krisis Air Bersih

Rabu, 11 Juli 2018 - 14:28 WIB
Sejak Nenek Moyang,...
Sejak Nenek Moyang, Kampung Ini Selalu Krisis Air Bersih
A A A
MOJOKERTO - Warga Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jatim tak pernah lepas dari krisis kebutuhan air. Warga selalu kesulitan untuk mendapatkan.

Di kampung yang berada di lereng Gunung Penanggungan ini, air bersih bak barang mewah yang harus mereka beli dengan harga mahal. Lantaran susah mendapatkan air bersih, warga pun jarang mandi dengan alasan berhemat.

Bagi warga kampung yang dihuni 1.650 kepala keluarga ini, musim kemarau menjadi musim yang berat. Untuk mendapatkan air bersih dalam jumlah yang sedikit saja, mereka harus berjalan sekitar 3 kilometer menuju sumber air dengan medan yang terjal.

Pilihan lain, mereka harus membeli air dengan harga Rp15.000 per jeriken. Harga itu dianggap mahal menyusul kondisi ekonomi masyarakat yang terbilang rendah.

Setidaknya ada empat dusun yang mengalami krisis air bersih di kampung ini. Diantaranya Dusun Sumberan, Telaga, Kunjorowesi dan Kandangan. Di musim kemarau seperti saat ini, mereka tak lagi bisa mengharapkan air bersih yang dialirkan dengan pipa kecil ke salah satu dusun.

Jika pun ada, mereka harus antre mulai subuh hingga tengah hari untuk sekedar mendapatkan air sejeriken. ”Sumber dari pipa sudah mati. Hanya mengandalkan air beli atau antre dari bantuan pemerintah,” ujar Mukim, salah seorang warga setempat.

Di kampung ini, terdapat tiga tandon air yang dipasang di tiga dusun. Air bersih didapat dari bantuan BPBD Kabupaten Mojokerto. Namun jumlah itu tak bisa memenuhi kebutuhan minimum air bersih untuk keluarga.

Untuk mendapatkan bantuan air bersih ini, warga juga harus rela mengantre sejak pagi buta agar kebagian air. Tak sedikit warga yang pulang membawa jeriken kosong lantaran stok air bersih habis.

”Sejak subuh harus antre. Kalau sudah kehabisan, kami beli dengan harga mahal,” kata Akhmad Halim, warga Desa Kunjorowesi lainnya.

Ia mengatakan, setidaknya, satu keluarga membutuhkan dua jeriken air bersih. Selain untuk memasak, juga mencuci piring. Jumlah itu, terkadang terpaksa digunakan untuk mencuci baju atau mandi.

”Kalaupun mandi, tak lebih dari setengah jeriken yang dihabiskan. Karena memang air mahal. Ini terjadi sejak nenek moyang kami dahulu. Kami ingin lepas dari masalah ini. Tapi dari tahun ke tahun selalu saja seperti ini,” keluhnya.
(vhs)
Berita Terkait
Atasi Krisis Air Bersih,...
Atasi Krisis Air Bersih, Panglima Kodam Udayana Lakukan Ini
Pemprov DKI Jakarta...
Pemprov DKI Jakarta Larang Bangunan Bertingkat Sedot Air Tanah
Warga Bandengan Sudah...
Warga Bandengan Sudah 3 Bulan Sulit Dapat Air Bersih, Mandi Susah Cucian Menumpuk
Jaga Kebersihan Air,...
Jaga Kebersihan Air, UV Sterilization Teknologi Pembunuh Bakteri
Pipa HDPE ALVApipe Dukung...
Pipa HDPE ALVApipe Dukung Penyaluran Air Bersih di Indonesia
Masyarakat Dinilai Harus...
Masyarakat Dinilai Harus Diberikan Kemudahan Akses Air Bersih
Berita Terkini
Tsunami Tercatat di...
Tsunami Tercatat di 9 Wilayah Indonesia Pascagempa M7,7 di Filipina
15 menit yang lalu
Gempa M7,7 Filipina...
Gempa M7,7 Filipina Picu Tsunami di Indonesia, BMKG: Tidak Masuk Zona Megathrust
41 menit yang lalu
10 Sampel DNA Keluarga...
10 Sampel DNA Keluarga Korban Ledakan Bom Peninggalan PD II di Biak Dikirim ke Puslabfor
41 menit yang lalu
Tsunami Terjadi di 3...
Tsunami Terjadi di 3 Wilayah Indonesia Pascagempa 7,7 di Filipina, BMKG: Ketinggian 9-18 Cm
1 jam yang lalu
Bertemu PWNU dan PCNU...
Bertemu PWNU dan PCNU se-Bengkulu, Gus Salam: Soliditasnya Bisa Jadi Teladan PBNU
1 jam yang lalu
12 Wilayah Indonesia...
12 Wilayah Indonesia Siaga Tsunami Pascagempa M7,7 yang Berpusat di Filipina
3 jam yang lalu
Infografis
Virus Hanta Merebak!...
Virus Hanta Merebak! Ini 5 Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved