Pemprov DKI Akan Bangun Stadion Rp4,7 Triliun Tanpa Biaya APBD
Sabtu, 05 Mei 2018 - 07:03 WIB
Pemprov DKI Akan Bangun Stadion Rp4,7 Triliun Tanpa Biaya APBD
A
A
A
JAKARTA - Pemprov DKI Jakarta segera membangun stadion sepakbola bertaraf internasional pada Oktober 2018 mendatang di kawasan Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Pembangunan yang menghabiskan biaya Rp4,7 triliun itu berkonsep public private partnership (PPP).
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno mengatakan, proyek pembangunan stadion itu melibatkan para pemangku kepentingan dan seluruh lapisan masyarakat di DKI Jakarta, mulai dari perencanaan sampai pada tahap realisasinya Untuk itu, lanjut Sandi, pihaknya terlebih dahulu melaksanakan uji publik berupa forum diskusi interaktif Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) stadion sepak bola DKI Jakarta.
Menurut Sandi, kegiatan ini dilaksanakan untuk menawarkan serta memaparkan proyek pembangunan stadion DKI Jakarta kepada warga Jakarta guna merealisasikan stadion sepak bola bertaraf internasional. "Kita launching hari ini uji publik dari proses KPBU untuk menghadirkan stadion sepak bola DKI Jakarta, diharapkan Oktober 2018 sudah mulai dibangun. Ini konsepnya kemitraan pemerintah dan badan usaha, dan Pemprov DKI Jakarta adalah PJPK (Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama)," kata Sandi di Balai Kota DKI Jakarta pada Jumat, 4 Mei 2018 kemarin.
Sandi menjelaskan, pembangunan stadion yang nantinya akan diberi nama Jakarta Internasional Stadion (JIS) itu membutuhkan biaya sebesar Rp4,7 triliun. Namun, anggaranya bukan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan dari kerja sama yang dilakukan oleh pemerintah dengan badan usaha dan konsep public private partnership.
Nantinya, stadion yang dibangun diatas luas lahan 26,5 hektare itu akan dilengkapi dengan fasilitas komersial dan non-komersial, di antaranya masjid, ballroom, pusat perbelanjaan, hotel, hunian untuk masyarakat menengah ke bawah dan apartemen. Selain itu, masyarakat juga dapat menikmati Ruang Terbuka Publik di sekitar Danau Sunter serta Ruang Terbuka Hijau (RTH) di dalam kompleks stadion.
"Yang terpenting ada masjid dan juga rumah (hunian) dengan DP Nol Rupiah untuk masyarakat (sekitar). Fokus kami ingin hadirkan yang Pak Gubernur seringkali sampaikan, selalu keberadilan, bahwa kami harus berpihak kepada masyarakat yang sampai saat ini belum tersentuh dengn program pembangunan dan termarginalisasi," ungkapnya.
Selain itu, stadion ini dirancang dengan kapasitas penonton mencapai 50.000 penonton, dan akan dibangun dengan konsep multievent arena. Dengan demikian, stadion sepak bola DKI Jakarta tidak hanya dapat menampung kegiatan olahraga, namun juga kegiatan hiburan musik, event pernikahan dan lainnya dengan konsep kekinian.
Untuk memudahkan masyarakat atau penonton datang ke stadion, Sandi menyediakan 70-80% menggunakan moda transportasi publik yang terintegrasi. Dia menyebut sedikitnya akan ada empat pilihan moda transportasinya, selain Transjakarta.
"Jalan tolnya akan ditingkatkan, KRL-nya akan dibuka stasiun di sana kami lagi lobi PT KAI, dan LRT kami akan buka di sana," ujarnya.
Sementara itu, pengamat perkotaan Universitas Trisakti, Nirwono Joga meminta Pemprov DKI Jakarta untuk memastikan lahan yang dibangun harus clear and clean, tidak ada sengketa lahan dan kepastian peruntukan sebagai RTH yang tidak akan diubah seperti kasus penggusuran Stadion Menteng dan Stadion Lebak Bulus.
Kepada pihak ketiga yang akan membangun dan mengelola stadion, lanjut Nirwono, harus dapat mengembangkan stadion dan kompleks olahraga secara profesional sehingga operasional dan perawatan stadion dapat mandiri tidak membebani APBD. Baik masih dikelola pihak ketiga atau hingga sudah diserahkan kepada pemda.
"Pemda harus mendukung dengan perencanaan kawasan stadion dan kompleks olahraga. Sehingga ke depannya bisa seperti stadion Gelora Bung Karno. Jaringan transportasi massal (MRT/KA, LRT/kereta ringan, bus trans), pengendalian peruntukan kawasan fokus sebagai pendukung terkait kegiatanan olahraga seperti venue, wisma atau apartemen atlet," ujarnya.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno mengatakan, proyek pembangunan stadion itu melibatkan para pemangku kepentingan dan seluruh lapisan masyarakat di DKI Jakarta, mulai dari perencanaan sampai pada tahap realisasinya Untuk itu, lanjut Sandi, pihaknya terlebih dahulu melaksanakan uji publik berupa forum diskusi interaktif Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) stadion sepak bola DKI Jakarta.
Menurut Sandi, kegiatan ini dilaksanakan untuk menawarkan serta memaparkan proyek pembangunan stadion DKI Jakarta kepada warga Jakarta guna merealisasikan stadion sepak bola bertaraf internasional. "Kita launching hari ini uji publik dari proses KPBU untuk menghadirkan stadion sepak bola DKI Jakarta, diharapkan Oktober 2018 sudah mulai dibangun. Ini konsepnya kemitraan pemerintah dan badan usaha, dan Pemprov DKI Jakarta adalah PJPK (Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama)," kata Sandi di Balai Kota DKI Jakarta pada Jumat, 4 Mei 2018 kemarin.
Sandi menjelaskan, pembangunan stadion yang nantinya akan diberi nama Jakarta Internasional Stadion (JIS) itu membutuhkan biaya sebesar Rp4,7 triliun. Namun, anggaranya bukan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan dari kerja sama yang dilakukan oleh pemerintah dengan badan usaha dan konsep public private partnership.
Nantinya, stadion yang dibangun diatas luas lahan 26,5 hektare itu akan dilengkapi dengan fasilitas komersial dan non-komersial, di antaranya masjid, ballroom, pusat perbelanjaan, hotel, hunian untuk masyarakat menengah ke bawah dan apartemen. Selain itu, masyarakat juga dapat menikmati Ruang Terbuka Publik di sekitar Danau Sunter serta Ruang Terbuka Hijau (RTH) di dalam kompleks stadion.
"Yang terpenting ada masjid dan juga rumah (hunian) dengan DP Nol Rupiah untuk masyarakat (sekitar). Fokus kami ingin hadirkan yang Pak Gubernur seringkali sampaikan, selalu keberadilan, bahwa kami harus berpihak kepada masyarakat yang sampai saat ini belum tersentuh dengn program pembangunan dan termarginalisasi," ungkapnya.
Selain itu, stadion ini dirancang dengan kapasitas penonton mencapai 50.000 penonton, dan akan dibangun dengan konsep multievent arena. Dengan demikian, stadion sepak bola DKI Jakarta tidak hanya dapat menampung kegiatan olahraga, namun juga kegiatan hiburan musik, event pernikahan dan lainnya dengan konsep kekinian.
Untuk memudahkan masyarakat atau penonton datang ke stadion, Sandi menyediakan 70-80% menggunakan moda transportasi publik yang terintegrasi. Dia menyebut sedikitnya akan ada empat pilihan moda transportasinya, selain Transjakarta.
"Jalan tolnya akan ditingkatkan, KRL-nya akan dibuka stasiun di sana kami lagi lobi PT KAI, dan LRT kami akan buka di sana," ujarnya.
Sementara itu, pengamat perkotaan Universitas Trisakti, Nirwono Joga meminta Pemprov DKI Jakarta untuk memastikan lahan yang dibangun harus clear and clean, tidak ada sengketa lahan dan kepastian peruntukan sebagai RTH yang tidak akan diubah seperti kasus penggusuran Stadion Menteng dan Stadion Lebak Bulus.
Kepada pihak ketiga yang akan membangun dan mengelola stadion, lanjut Nirwono, harus dapat mengembangkan stadion dan kompleks olahraga secara profesional sehingga operasional dan perawatan stadion dapat mandiri tidak membebani APBD. Baik masih dikelola pihak ketiga atau hingga sudah diserahkan kepada pemda.
"Pemda harus mendukung dengan perencanaan kawasan stadion dan kompleks olahraga. Sehingga ke depannya bisa seperti stadion Gelora Bung Karno. Jaringan transportasi massal (MRT/KA, LRT/kereta ringan, bus trans), pengendalian peruntukan kawasan fokus sebagai pendukung terkait kegiatanan olahraga seperti venue, wisma atau apartemen atlet," ujarnya.
(whb)