Soal Banjir Citarum, Pemerintah Belum Miliki Sistem Warning

Kamis, 29 Maret 2018 - 07:00 WIB
Soal Banjir Citarum,...
Soal Banjir Citarum, Pemerintah Belum Miliki Sistem Warning
A A A
BANDUNG - Pemerintah belum memiliki sistem yang memungkinkan upaya penyelamatan pra bencana. Saat ini, penanganan bencana banjir Sungai Citarum dinilai masih sporadis.

“Penanganan bencana masih kepada bagi-bagi bantuan dan evakuasi saja, padahal Early Warning System (EWS) ini dapat menyelamatkan ribuan warga,” kata Penasihat Yayasan Jaga Balai, Denni Hamdani, di Bale Rancage, Rabu (28/3/2018).

Mestinya, pemerintah punya rencana kontijensi dan rencana operasi tanggap darurat. Masyarakat, lanjut dia, justru inisiatif membuat sendiri EWS yang disebar ke titik-titik bahaya. Dengan begitu, warga bisa mengetahui lebih dini potensi terjadinya bencana.

“Selama ini malah kita yang bikin secara swadaya ke titik-titik rawan,” kata dia.

Saat ini, Yayasan Rancage memiliki 18 alat pencegahan bencana berbentuk Automatic Weather Station (AWL) dan Automatic Water Level Recorder (AWLR). Kedua alat tersebut dipasang di titik-titik rawan untuk memantau awan dan tinggi muka air.

Peralatan dibuat hasil kerja sama antara ITB dan Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat. Alat-alat tersebut memberikan informasi berharga kepada pusat komando Jaga Balai, yang memberikan informasi tindakan apa yang harus dilakukan dalam rencana kontijensi dan rencana operasi tanggap daruratnya.

Calon Gubernur Jawa Barat nomor urut 1 Ridwan Kamil yang berkunjung ke Rancage, mengusulkan agar dibuat sistem peringatan dini melalui aplikasi yang bisa disebar ke seluruh masyarakat rawan terdampak bencana.

“Saya mengusulkan ada aplikasi yang memonitor tentang air di Cekungan Bandung. Setiap ada informasi kenaikan permukaan air dapat diinformasikan melalui HP-nya masing-masing. Sehingga warga bisa berinisiatif menyelamatkan diri dan harta bendanya lebih dini,” ujar Emil.

Untuk mengantisipasi bencana banjir harus dibangun danau resapan di daerah-daerah hulu agar air tidak langsung turun hilir atau daerah yang lebih rendah. “Danau-danau kecil harus dihidupkan lagi di desa-desa. Sehingga saat air mengalir bisa di parkir dulu,” tukasnya.

Apa yang sudah diupayakan oleh Jaga Balai di Majalaya, kata Kang Emil, tinggal disempurnakan dan diadaptasi di wilayah Cekungan Bandung lainnya di Jabar. “Cara ini nanti diduplikasi di seluruh wilayah cekungan Bandung. Ihtiar yang saya lakukan adalah memastikan Perpres pengelolaan cekungan Bandung harus turun sehingga bisa mengatur masalah kebencanaan secara taktis,” tandas Emil.
(rhs)
Berita Terkait
Kualitas Air Sungai...
Kualitas Air Sungai Citarum Meningkat
Diintai Banjir, Warga...
Diintai Banjir, Warga Pinggiran Sungai Citarum Diminta Pakai Aplikasi Bencana
Revitalisasi Sungai...
Revitalisasi Sungai Citarum Dikebut, Mulai Kalimalang hingga Penataan Situ Ciburuy
Limbah Ternak Masih...
Limbah Ternak Masih Jadi Problem Serius Penanganan Pencemaran Hulu Sungai Citarum
Perbaikan Tanggul Darurat...
Perbaikan Tanggul Darurat Sungai Citarum di Bekasi Gunakan Geobag
Citarum Lepas Predikat...
Citarum Lepas Predikat Sungai Terkotor di Dunia, Ini Penjelasannya
Berita Terkini
Pemerintah Serahkan...
Pemerintah Serahkan SK Hutan Adat Jambi hingga Bali Seluas 1.175 Hektare
1 jam yang lalu
Fasilitas Pengemasan...
Fasilitas Pengemasan Minyak Goreng di Surabaya Percepat Pasokan ke Indonesia Timur
1 jam yang lalu
Taruna Nusantara Cimahi-Redea...
Taruna Nusantara Cimahi-Redea Institute Kerja Sama Peningkatan Kualitas Akademik
3 jam yang lalu
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
4 jam yang lalu
Klive Beach Club Gandeng...
Klive Beach Club Gandeng Happiness Foundation Gelar CSR Kebahagiaan
4 jam yang lalu
Catat Ekspansi Signifikan,...
Catat Ekspansi Signifikan, Dyputu Studio Bekasi Jadi Subjek Penelitian Akademis
4 jam yang lalu
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved