Berburu Manuskrip Tionghoa Abad XVIII hingga ke Eropa

Selasa, 27 Februari 2018 - 13:30 WIB
Berburu Manuskrip Tionghoa...
Berburu Manuskrip Tionghoa Abad XVIII hingga ke Eropa
A A A
TANGERANG - Di tengah penurunan minat baca dan budaya literasi masyarakat Indonesia, Azmi Abubakar alias Daud,44, malah gencar melakukan perburuan manuskrip Tionghoa. Tidak tanggung-tanggung, perburuan manuskrip ini dilakukan di seluruh pelosok Indonesia dan mancanegara. Mulai dari Malaysia, Singapura, Belanda, Swiss, dan belahan negara bagian Eropa lainnya.

Saat ditemui di Museum Peranakan Tionghoa, Jalan Pahlawan Seribu, Kawasan ITC BSD, Ruko Golden Road C28/25, Kota Tangerang Selatan, Banten, Daud baru saja menerima tamu. Pria berjenggot tipis ini mengaku memiliki minat terhadap Tionghoa sudah sejak lama. Bersama sejumlah komunitas Tionghoa lainnya, dia membuat Museum Pustaka Peranakan Tionghoa. "Proses pencarian keliling daerah, karena suka jalan-jalan, di Jawa, Sumatera, dan kota-kota besar di Indonesia," kata Daud, di Ruko Golden Road C28/25, Serpong, Senin (26/2/2018).

Selama melakukan perjalanan tersebut, tidak terhitung berapa biaya yang harus dikeluarkan Daud. Hanya kepuasan dan kecintaannya terhadap literasi yang sanggup membayar semuanya. "Manuskrip Tionghoa yang terkumpul banyak berasal dari abad ke-18, terdiri atas buku-buku antik seperti cerita silat, komik, buku, koran, dokumen pribadi, dan yang lainnya," sebut Daud.

Daud mengatakan, semua barang itu merupakan harta yang sangat berharga bagi dirinya dan memiliki nilai sejarah sangat tinggi. Bahkan, warisan bagi generasi bangsa yang akan datang. "Di sini kami simpan buku-buku yang dibuat dari saudara kita, etnis Tionghoa, dan yang ingin disampaikan bahwa apa yang dihasilkan oleh mereka, itu adalah harta karun bangsa kita yang harus dijaga," tandasnya.

Adapun majalah penting itu adalah Koran Sinpo cetakan awal, Keng Po, Starwekly, majalah Panca Warna, buku-buku tentang pendidikan, buku medik, budaya, dokumen THHK dan koran, serta majalah lawas. Beberapa manuskrip itu adalah buku catatan kegiatan kelompok pandu dengan ilustrasi Goei Tek Tjiang pada 1946-1948, dan manuskrip beraksara Jawa karya Tjan Tjoen Hiang di Surakarta pada 1891.

Azmi mengatakan, Tjan menceritakan kembali kisah roman klasik Tiongkok Sie Djin Kwie. Dia bahkan masih menyimpan karya klasik Kwee Tek Hoay (1886-1951), penulis peranakan Tionghoa tersohor. Salah satu benda menarik dalam museum itu adalah papan nama bertuliskan timbul Tan Lian Tjhoen. Di balik papan nama itu terdapat nama Djoenaedy K. Papan nama ini merupakan dokumen sangat penting.

"Papan nama itu merupakan bagian dari ingatan negeri ini ketika kekuasaan berusaha memberangus budaya Tionghoa dengan aturan mengganti nama Tionghoa menjadi nama Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Asri, salah satu pengunjung museum, mengaku sangat kagum dengan koleksi yang dimiliki Daud. Dari museum itu, dia banyak belajar tentang budaya panjang Tionghoa di Indonesia. "Koleksinya sangat lengkap, ada buku, catatan-catatan pertemuan, papan nama, patung, dan lainnya. Foto-foto keluarga Tionghoa dan organisasinya juga ada. Museum ini sangat penting," ungkapnya.

Di juga tidak menyangka jika Daud bisa mengumpulkan semua manuskrip itu dan tidak pernah membayangkan berapa biaya yang harus dibayarnya. Dia berharap koleksi museum ini terus bertambah.
(amm)
Berita Terkait
Kembangkan Motorik Anak,...
Kembangkan Motorik Anak, Instalasi UMA di Museum MACAN Diperkenalkan
Kebakaran Museum Nasional,...
Kebakaran Museum Nasional, Ketua AMI Minta Pemerintah Lindungi 500 Museum di Indonesia
Kebakaran Museum Nasional,...
Kebakaran Museum Nasional, Kemendikbudristek: Koleksi Repatriasi dari Belanda Dipastikan Aman
6 Destinasi Museum Date...
6 Destinasi Museum Date di Jakarta, Bisa Kencan Sambil Tambah Value
Diperingati di Jogja,...
Diperingati di Jogja, Museum Bisa Mengubah Cara Berpikir dan Berperilaku
Hari Museum Indonesia...
Hari Museum Indonesia Diperingati 12 Oktober, Begini Sejarahnya
Berita Terkini
Pemprov DKI Bakal Bangun...
Pemprov DKI Bakal Bangun 11 Rusun Baru, Pramono: Baru Dua yang Sudah Ada Angggarannya
10 menit yang lalu
Perbaikan MBG Harus...
Perbaikan MBG Harus Dimulai dari Ketepatan Sasaran hingga Transparansi Tata Kelola
19 menit yang lalu
Polisi Sebut Kaca Gedung...
Polisi Sebut Kaca Gedung BGN Pecah Akibat Pemuaian, Bukan Penembakan
24 menit yang lalu
LRT Jakarta Fase 1B...
LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai Tersambung 100 Persen, Ditargetkan Beroperasi Agustus 2026
49 menit yang lalu
Gubernur Riau Nonaktif...
Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid Dituntut 8,5 Tahun Penjara dalam Kasus Pemerasan PUPR
1 jam yang lalu
SMP IL Kapten Fatubaa...
SMP IL Kapten Fatubaa NTT Raih Juara Utama di Kompetisi AIA Healthiest Schools 2026
2 jam yang lalu
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved