Aturan Seketat Apa Pun Tak Mampu Bendung Hoax di Pilkada
Kamis, 08 Februari 2018 - 13:28 WIB
Aturan Seketat Apa Pun Tak Mampu Bendung Hoax di Pilkada
A
A
A
JAKARTA - Sekjen Partai Perindo Ahmad Rofiq menilai hoax di pemilihan kepala daerah (pilkada) sulit dibendung. Bahkan, aturan ketat yang dibuat penyelenggara pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), diyakini tak mampu mengatasinya.
"Seketat apa pun aturan yang dibuat dan dijalankan oleh Bawaslu maupun KPU, tetap tidak bisa membendung," ujar Ahmad Rofiq dalam diskusi Weekly Forum bertema Pilkada Tanpa Hoax dan Launching Kanal Pilkada Serentak 2018 Sindonews.com di Gedung SINDO, Jakarta, Kamis (8/2/2018).
Pendapat tersebut disampaikannya bukan karena merasa pesimistis, melainkan realita yang terjadi selama ini. "Siapa sih yang bisa melokalisir hoax? Siapa sih yang bisa meminimalisir hoax? Enggak bisa."
Bahkan, upaya memperketat penggunaan akun media sosial pun dianggapnya tak bisa. "Bagi saya, satu akun atau 1.000 akun, tetap saja," katanya.
Lagipula, kata Rofiq, penyelenggara pemilu hanya bisa memantau akun media sosial yang resmi. Sementara para peserta terkadang menggunakan akun media sosial yang tidak resmi untuk menjatuhkan lawannya. "Akun para pendukung yang liar-liar ini itu kan tidak bisa dibatasi," ujarnya.
"Seketat apa pun aturan yang dibuat dan dijalankan oleh Bawaslu maupun KPU, tetap tidak bisa membendung," ujar Ahmad Rofiq dalam diskusi Weekly Forum bertema Pilkada Tanpa Hoax dan Launching Kanal Pilkada Serentak 2018 Sindonews.com di Gedung SINDO, Jakarta, Kamis (8/2/2018).
Pendapat tersebut disampaikannya bukan karena merasa pesimistis, melainkan realita yang terjadi selama ini. "Siapa sih yang bisa melokalisir hoax? Siapa sih yang bisa meminimalisir hoax? Enggak bisa."
Bahkan, upaya memperketat penggunaan akun media sosial pun dianggapnya tak bisa. "Bagi saya, satu akun atau 1.000 akun, tetap saja," katanya.
Lagipula, kata Rofiq, penyelenggara pemilu hanya bisa memantau akun media sosial yang resmi. Sementara para peserta terkadang menggunakan akun media sosial yang tidak resmi untuk menjatuhkan lawannya. "Akun para pendukung yang liar-liar ini itu kan tidak bisa dibatasi," ujarnya.
(zik)