Tanggul Jebol, 8.000 Hektare Sawah di Karawang Terancam Pasokan Air
Senin, 15 Januari 2018 - 16:29 WIB
Tanggul Jebol, 8.000 Hektare Sawah di Karawang Terancam Pasokan Air
A
A
A
KARAWANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang, Jawa Barat sedang menangani tanggul sungai Cikaranggelam di Desa Dawuan, Kecamatan Cikampek yang jebol, sejak Minggu (14/1/2018) sore. Jebolnya tanggul sepanjang 15 meter disebabkan tingginya debit air sungai. Akibatnya, dapat mengganggu tanaman padi seluas 8.000 hektare di 5 kecamatan Karawang dan Subang.
"Kami sudah menurunkan alat berat untuk menutup tanggul yang jebol karena debit air tinggi. Meski sudah kita tutup namun kondisinya belum bisa aman karena butuh perbaikan permanen karena sepanjang tanggul tersebut sudah retak-retak. Kalau tidak diperbaiki secara permanen kami khawatir akan jebol lagi di tempat yang lain ini. Soal perbaikan itu bukan ranah kami jadi sifatnya kami hanya menunggu," kata Kepala BPBD Karawang, Banuara Nadeak, Senin (15/1/2018).
Banuara mengatakan, dampak jebolnya tanggul sungai Cikaranggelam tersebut tidak mengakibatkan banjir seperti yang dikhawatirkan. Namun begitu jebolnya tanggul itu cukup mengganggu pendistribusian air untuk mengairi areal sawah di wilayah Karawang hingga Subang.
"Sungai ini mengairi sawah petani di Karawang dan Subang dengan jebolnya tanggul tentu sangat mengganggu distribusi air, apalagi sedang musim tanam. Tanggul yang ada sekarang ini sepertinya sudah tidak mampu menahan arus sungai." katanya.
Sungai Cikaranggelam merupakan sungai yang mengairi sekitar 8.000 hektare sawah di 5 kecamatan yang ada di Karawang dan Subang. Lima kecamatan itu yaitu Kecamatan Tirtamulya, Kecamatan Banyusari, KecamatanCilamaya Wetan di Kabupaten Karawang.
Sedangkan dua kecamatan lagi berada di Kabupaten Subang yaitu Kecamatan Ciasem dan Kecamatan Blanakan. Tanggul Cikaranggelam sudah cukup lama dikeluhkan oleh para petani setempat karena sudah retak-retak namun tidak kunjung diperbaiki. Pihak BBWS selaku pengelola sungai belum juga memperbaiki tanggul tersebut meski sudah dilaporkan.
"Kami sudah melaporkan kondisi tanggul yang seluruhnya retak-retak namun belum juga diperbaiki. Kalau tidak segera diperbaiki kita khawatir sepanjang tanggul ini akan jebol. Kalau sudah begitu bukan hanya sawah warga yang akan terganggu tapi juga pemukiman warga akan kebanjiran," kata Asep salah seorang tokoh masyarakat Desa Dawuan.
"Kami sudah menurunkan alat berat untuk menutup tanggul yang jebol karena debit air tinggi. Meski sudah kita tutup namun kondisinya belum bisa aman karena butuh perbaikan permanen karena sepanjang tanggul tersebut sudah retak-retak. Kalau tidak diperbaiki secara permanen kami khawatir akan jebol lagi di tempat yang lain ini. Soal perbaikan itu bukan ranah kami jadi sifatnya kami hanya menunggu," kata Kepala BPBD Karawang, Banuara Nadeak, Senin (15/1/2018).
Banuara mengatakan, dampak jebolnya tanggul sungai Cikaranggelam tersebut tidak mengakibatkan banjir seperti yang dikhawatirkan. Namun begitu jebolnya tanggul itu cukup mengganggu pendistribusian air untuk mengairi areal sawah di wilayah Karawang hingga Subang.
"Sungai ini mengairi sawah petani di Karawang dan Subang dengan jebolnya tanggul tentu sangat mengganggu distribusi air, apalagi sedang musim tanam. Tanggul yang ada sekarang ini sepertinya sudah tidak mampu menahan arus sungai." katanya.
Sungai Cikaranggelam merupakan sungai yang mengairi sekitar 8.000 hektare sawah di 5 kecamatan yang ada di Karawang dan Subang. Lima kecamatan itu yaitu Kecamatan Tirtamulya, Kecamatan Banyusari, KecamatanCilamaya Wetan di Kabupaten Karawang.
Sedangkan dua kecamatan lagi berada di Kabupaten Subang yaitu Kecamatan Ciasem dan Kecamatan Blanakan. Tanggul Cikaranggelam sudah cukup lama dikeluhkan oleh para petani setempat karena sudah retak-retak namun tidak kunjung diperbaiki. Pihak BBWS selaku pengelola sungai belum juga memperbaiki tanggul tersebut meski sudah dilaporkan.
"Kami sudah melaporkan kondisi tanggul yang seluruhnya retak-retak namun belum juga diperbaiki. Kalau tidak segera diperbaiki kita khawatir sepanjang tanggul ini akan jebol. Kalau sudah begitu bukan hanya sawah warga yang akan terganggu tapi juga pemukiman warga akan kebanjiran," kata Asep salah seorang tokoh masyarakat Desa Dawuan.
(rhs)