Soal Kemacetan Parah, Polisi: Sudah Diprediksi Sejak 1998 Lalu
Senin, 04 Desember 2017 - 15:54 WIB
Soal Kemacetan Parah, Polisi: Sudah Diprediksi Sejak 1998 Lalu
A
A
A
JAKARTA - Beberapa bulan belakangan ini, kemacetan yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya semakin parah. Polisi menyebut kalau kondisi tersebut terjadi karena pemerintah tidak memiliki blue print mengatasi kemacetan.
Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Halim Pagarra menuturkan, pada tahun 1998 sebenarnya sudah diramalkan dari berbagai pihak jalanan Jakarta akan mengalami grid lock atau macet total karena terus bertambahnya volume kendaraan namun tidak diimbangi dengan pertambahan jalan.
"Dari November, Desember hingga sekarang kemacetan parah sudah terjadi. Ini semua karena tidak blue print guna mengatasi kemacetan," katanya kepada wartawan, Senin (4/12/2017).
Menurutnya Blue Print ini sangat diperlukan yakni, upaya untuk mengurangi kemacetan atau bagaiman cara memperlebar jalan. Namun, kondisi tersebut dirasa sulit diwujudkan karena kondisi macet di Jakarta sudah terlalu rumit.
Selain masalah blue print, kemacetan di Jakarta juga dipicu karena kurang kordinasi yang terjadi antara pemerintah daerah dan pusat.
"Sejauh ini kebijakannya masih berjalan sendiri-sendiri. Jadi kebijakan yang diterapkan tidak berjalan mulus," ujarnya.
Kendati demikian, dia mengaku masih optimis permasalahan kemacetan bisa teratasi, melalui kebijakan makro dan Mikro yang ekstrim. Diantaranya, meninggikan harga kendaraan, tarif parkir dinaikan serta Pajak kendaraan ditinggikan. "Memang harus ada kebijakan ekstrim Bila tidak kondisinya makin parah.
Namun, kebijakan itu harus dibarengi dengan pembenahan moda transportasi masal yang aman nyaman, serta jumlahnya memadai. Dengan harapan masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum," ujarnya.
Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Halim Pagarra menuturkan, pada tahun 1998 sebenarnya sudah diramalkan dari berbagai pihak jalanan Jakarta akan mengalami grid lock atau macet total karena terus bertambahnya volume kendaraan namun tidak diimbangi dengan pertambahan jalan.
"Dari November, Desember hingga sekarang kemacetan parah sudah terjadi. Ini semua karena tidak blue print guna mengatasi kemacetan," katanya kepada wartawan, Senin (4/12/2017).
Menurutnya Blue Print ini sangat diperlukan yakni, upaya untuk mengurangi kemacetan atau bagaiman cara memperlebar jalan. Namun, kondisi tersebut dirasa sulit diwujudkan karena kondisi macet di Jakarta sudah terlalu rumit.
Selain masalah blue print, kemacetan di Jakarta juga dipicu karena kurang kordinasi yang terjadi antara pemerintah daerah dan pusat.
"Sejauh ini kebijakannya masih berjalan sendiri-sendiri. Jadi kebijakan yang diterapkan tidak berjalan mulus," ujarnya.
Kendati demikian, dia mengaku masih optimis permasalahan kemacetan bisa teratasi, melalui kebijakan makro dan Mikro yang ekstrim. Diantaranya, meninggikan harga kendaraan, tarif parkir dinaikan serta Pajak kendaraan ditinggikan. "Memang harus ada kebijakan ekstrim Bila tidak kondisinya makin parah.
Namun, kebijakan itu harus dibarengi dengan pembenahan moda transportasi masal yang aman nyaman, serta jumlahnya memadai. Dengan harapan masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum," ujarnya.
(ysw)