Pengendara di Jakarta Buang Waktu 22 Hari Pertahun untuk Cari Parkir
Rabu, 01 November 2017 - 18:14 WIB
Pengendara di Jakarta Buang Waktu 22 Hari Pertahun untuk Cari Parkir
A
A
A
JAKARTA - Uber merilis hasil survei sepanjang Juli hingga Agustus 2017, terhadap 9.000 responden, berumur antara 18 hingga 65 tahun di Singapura, Kuala Lumpur, Jakarta, Manila, Hong Kong, Taipe, Hanoi, Ho Chi Minh dan Bangkok. Berdasarkan survei tersebut, kemacetan paling parah terjadi di Jakarta.
Head of Public Policy and Government Affairs, Indonesia, Uber, John Colombo mengatakan, rata-rata, warga di seantero Asia-Pasfik terjebak kemacetan selama 52 menit setiap hari dan menghabiskan 26 menit untuk mencari lahan parkir. Ini setara dengan lebih dari 19 hari per tahun.
"Kondisi di Jakarta bahkan lebih buruk, pengemudi mobil membuang waktu rata-rata selama 90 menit setiap harinya karena kemacetan (68 menit) serta parkir (21 hingga 30 menit). Setara dengan lebih dari 22 hari per tahun," kata John saat konper di Jakarta Pusat, Rabu (1/11/2017).
Ia menambahkan, pemilik mobil menyatakan bahwa kerepotan terberat memiliki mobil antara lain terlalu banyak waktu terbuang karena terjebak macet sebanyak 84%. Kesulitan menemukan lahan parkir sebanyak 60%, dan biaya parkir yang tinggi sebesar 45%.
Warga kehilangan banyak kesempatan karena masalah parkir. 72% responden di Asia yang disurvei mengaku melewatkan atau terlambat untuk sebuah acara penting.
"74% responden di Jakarta juga melewatkan atau sangat terlambat menghadiri sebuah acara penting. Acara yang paling sering terlewatkan di Jakarta adalah pernikahan (53%), kontrol kesehatan dengan dokter (36%), wawancara kerja (27% di Jakarta), kedukaan (26% di Jakarta) dan konser musik (22%)," lanjut John.
Kondisi lalu lintas serta parkir telah menjadikan penggunaan dan kepemilikan mobil pribadi kehilangan daya tarik, khususnya di kalangan milenial di Asia Pasifik. John membeberkan, hampir 50% responden yang berumur 18 hingga 34 tahun menyatakan tidak tertarik untuk memiliki mobil.
Publik justru lebih terbuka terhadap solusi alternatif. Sebanyak 61% generasi muda di Asia menyukai skema berbagi tumpangan sebagai opsi untuk komutasi harian mereka.
Di Jakarta, meskipun respon publik terhadap kepemilikan mobil tetap positif (27%) tetap berkeinginan untuk memiliki mobil serta 71% yang belum memiliki sedang mempertimbangkan untuk membelinya, mereka juga tetap terbuka untuk tidak memiliki mobil. Sepertiga dari seluruh pemilik mobil (29%) mempertimbangkan untuk tidak lagi memiliki mobil.
Jumlah tersebut meningkat hingga 49%, jika kondisi terkait parkir tidak membaik. Untuk kebutuhan transportasi sehari-hari, pemilik mobil di Jakarta terbuka terhadap solusi alternatif seperti skema berbagi tumpangan 53% meyakini bahwa layanan berbagi tumpangan bisa menjadi alternatif dibanding memiliki mobil pribadi.
"Lima keuntungan utama dari berbagi tumpangan, pertama keterjangkauan biaya dibandingkan dengan pilihan lain yang tidak berbasis aplikasi. Kedua, tidak menghabiskan waktu untuk mencari tempat parkir. Ketiga, fleksibilitas atau kemudahan penggunaan. Keempat, menghemat waktu serta dan kelima lebih hemat dibandingkan memiliki sebuah mobil," katanya.
Head of Public Policy and Government Affairs, Indonesia, Uber, John Colombo mengatakan, rata-rata, warga di seantero Asia-Pasfik terjebak kemacetan selama 52 menit setiap hari dan menghabiskan 26 menit untuk mencari lahan parkir. Ini setara dengan lebih dari 19 hari per tahun.
"Kondisi di Jakarta bahkan lebih buruk, pengemudi mobil membuang waktu rata-rata selama 90 menit setiap harinya karena kemacetan (68 menit) serta parkir (21 hingga 30 menit). Setara dengan lebih dari 22 hari per tahun," kata John saat konper di Jakarta Pusat, Rabu (1/11/2017).
Ia menambahkan, pemilik mobil menyatakan bahwa kerepotan terberat memiliki mobil antara lain terlalu banyak waktu terbuang karena terjebak macet sebanyak 84%. Kesulitan menemukan lahan parkir sebanyak 60%, dan biaya parkir yang tinggi sebesar 45%.
Warga kehilangan banyak kesempatan karena masalah parkir. 72% responden di Asia yang disurvei mengaku melewatkan atau terlambat untuk sebuah acara penting.
"74% responden di Jakarta juga melewatkan atau sangat terlambat menghadiri sebuah acara penting. Acara yang paling sering terlewatkan di Jakarta adalah pernikahan (53%), kontrol kesehatan dengan dokter (36%), wawancara kerja (27% di Jakarta), kedukaan (26% di Jakarta) dan konser musik (22%)," lanjut John.
Kondisi lalu lintas serta parkir telah menjadikan penggunaan dan kepemilikan mobil pribadi kehilangan daya tarik, khususnya di kalangan milenial di Asia Pasifik. John membeberkan, hampir 50% responden yang berumur 18 hingga 34 tahun menyatakan tidak tertarik untuk memiliki mobil.
Publik justru lebih terbuka terhadap solusi alternatif. Sebanyak 61% generasi muda di Asia menyukai skema berbagi tumpangan sebagai opsi untuk komutasi harian mereka.
Di Jakarta, meskipun respon publik terhadap kepemilikan mobil tetap positif (27%) tetap berkeinginan untuk memiliki mobil serta 71% yang belum memiliki sedang mempertimbangkan untuk membelinya, mereka juga tetap terbuka untuk tidak memiliki mobil. Sepertiga dari seluruh pemilik mobil (29%) mempertimbangkan untuk tidak lagi memiliki mobil.
Jumlah tersebut meningkat hingga 49%, jika kondisi terkait parkir tidak membaik. Untuk kebutuhan transportasi sehari-hari, pemilik mobil di Jakarta terbuka terhadap solusi alternatif seperti skema berbagi tumpangan 53% meyakini bahwa layanan berbagi tumpangan bisa menjadi alternatif dibanding memiliki mobil pribadi.
"Lima keuntungan utama dari berbagi tumpangan, pertama keterjangkauan biaya dibandingkan dengan pilihan lain yang tidak berbasis aplikasi. Kedua, tidak menghabiskan waktu untuk mencari tempat parkir. Ketiga, fleksibilitas atau kemudahan penggunaan. Keempat, menghemat waktu serta dan kelima lebih hemat dibandingkan memiliki sebuah mobil," katanya.
(ysw)