12 Sastrawan, Individu, dan Komunitas Raih Hadiah Sastra Rancage

Sabtu, 09 September 2017 - 22:46 WIB
12 Sastrawan, Individu,...
12 Sastrawan, Individu, dan Komunitas Raih Hadiah Sastra Rancage
A A A
BANDUNG - Yayasan Kebudayaan Rancage menganugerahkan Hadiah Sastra Rancage 2017 kepada 12 sastrawan, penulis, individu, dan komunitas se-Indonesia yang dinilai berjasa melestarikan bahasa dan sastra daerah.

Penyerahan Hadiah Sastra Rancage 2017 yang tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-28 itu berlangsung di Gedung Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut Nomor 2, Kota Bandung, Sabtu (9/9/2017). Hadir dalam acara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar) Deddy Mizwar, Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajib Rosidi, Ketua Dewan Kebudayaan Jabar (DKJ) Ganjar Kurnia, dan seluruh penerima hadiah Rancage. Kepada masing-masing pemenang, Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan piagam dan uang sebesar Rp5 juta.

Ajib Rosidi mengatakan, untuk kategori karya sastra Sunda, hadiah diberikan kepada Aam Amalia dengan karya kumpulan cerpen berjudul Di antara Tilu Jaman (terbitan Adicikal Raharja Bandung 2016). Sementara Hadiah Sastra Sunda kategori jasa diraih Komunitas Ngejah dari Sukawangi, Singajaya, Kabupaten Garut.

Kategori sastra Jawa diberikan kepada Moh Syaiful dengan karya Agul-agul Belambangan (terbitan Sengker Kawung Belambangan, Banyuwangi 2016). Sementara kategori jasa dalam sastra Jawa diraih Abdullah Purwodarsono yang telah puluhan tahun terlibat proses penerbitan sastra Jawa yang dimuat di mingguan Djaka Lodang di Yogyakarta.

Selanjutnya, Hadiah Sastra Rancage 2017 untuk kategori sastra Bali diberikan kepada Dewa Ayu Carma Citrawati dengan karya kumpulan cerpen Kutang Sayang Gemel Madui terbitan Pustaka Ekspresi Denpasar 2016. Untuk kategori jasa sastra Bali diraih oleh I Putu Supartika. Sebab, sejak usia muda, I Putu Supartika telah memberikan sumbangan kepada pelestarian sastra Bali modern lewat dua jalur, yakni penciptaan dan penerbitan jurnal elektronik.

Hadiah untuk ketegori karya sastra Lampung diberikan kepada Udo Z Karzi dengan karya roman berjudul Negarabatin terbitan Pustaka LaBRAK Bandar Lampung (2016). Udo Z Karzi merupakan nama pena dari Zulkarnain Zubairi yang produktif menulis cerpen, artikel, sajak, puisi, dan roman dalam bahasa Lampung.

Untuk karya sastra Batak, Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan Hadiah Sastra Rancage kepada Tansiswo Palambok Pusupusu Siagian dengan karya kumpulan cerpen berjudul Sonduk Hela (terbitan SPT Jakarta 2016). Sementara kategori jasa dalam sastra Batak, hadiah diberikan kepada Grup Tortor Sangombas, lembaga kelompok penulis yang aktif berkarya dan berdiskusi di media sosial Facebook sejak 2012. Mereka dinilai berjasa menghidupkan kembali sastra dalam bahasa Batak.

“Tahun ini, Yayasan Kebudayaan Rancage juga memberikan hadiah khusus kepada penulis yang melahirkan karya dalam bahasa Batak walaupun bukan bahasa ibu bagi si penulis. Penghargaan ini diberikan kepada Bupati Serdangbedagai Soekirman Ompu Abimanyu dengan karya cerpen berjudul Parlombu-lombu (Si Gembala Sapi),” kata Ajip.

Yayasan Kebudayaan Rancage, ujar Ajip, memberikan hadiah untuk kategori sastra bahasa Banjar (Banjarmasin, Kalimantan Selatan) kepada Jamal T Suryanata dengan karya roman Pembatangan. “Hadiah juga diberikan untuk kategori bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda kepada Darpan dengan karya Nala,” ujar Ajip.

Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar mengatakan, Pemprov Jabar menaruh harapan sangat besar kepada para budayawan, sastrawan, dan komunitas masyarakat yang memiliki perhatian serta kepedulian terhadap pelestarian, eksistensi bahasa, dan sastra daerah. Karena itu, Pemprov Jabar sangat mengapresiasi konsistensi Yayasan Kebudayaan Rancage dalam menjaga bahasa dan sastra daerah di Indonesia.

“Seperti diketahui, gempuran budaya asing yang sangat deras. Sebagian bahasa daerah di Indonesia sudah punah. Bahkan generasi muda saat ini malu menggunakan bahasa ibu mereka. Untuk itu, butuh sinergitas seluruh elemen masyarakat, terutama budayawan dan sastrawan dalam melestarikan dan menjaga eksistensi agar bahasa daerah yang masih ada tidak punah,” kata Deddy.
(mcm)
Berita Terkait
350 Penyair Bakal Meriahkan...
350 Penyair Bakal Meriahkan Festival Sastra Internasional Gunung Bintan
Mendobrak Batasan dalam...
Mendobrak Batasan dalam Membaca Karya Sastra
Denny JA Hibahkan Dana...
Denny JA Hibahkan Dana Abadi untuk Penghargaan Tahunan bagi Penulis
Dua Sastrawan Dunia...
Dua Sastrawan Dunia Salwa Bakr dan Denny JA Raih BRICS Award 2025
Denny JA Masuk 10 Besar...
Denny JA Masuk 10 Besar Dunia Calon Penerima BRICS Literature Award 2025
Denny JA Dapat Penghargaan...
Denny JA Dapat Penghargaan Sastra Global untuk Pengembangan Puisi Esai
Berita Terkini
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
3 jam yang lalu
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
3 jam yang lalu
300 Siswa-Warga Dapatkan...
300 Siswa-Warga Dapatkan Pemeriksaan Mata dan Kacamata Gratis
3 jam yang lalu
Bongkar Gudang Penyimpanan...
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
4 jam yang lalu
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
5 jam yang lalu
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
7 jam yang lalu
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved