Pencemaran Udara di Jakarta Tergantung Arah Angin

Selasa, 29 Agustus 2017 - 06:29 WIB
Pencemaran Udara di...
Pencemaran Udara di Jakarta Tergantung Arah Angin
A A A
JAKARTA - Data WHO 2016 menempatkan Jakarta dan Bandung dalam sepuluh kota dengan pencemaran udara terburuk di Asia Tenggara. Namun Kepala UPT Laboratorium Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Diah Ratna Ambarwati, punya argumen soal pencemaran udara di Ibu Kota.

Menurut dia, pencemaran udara di Jakarta tergantung arah angin berhembus. Daerah yang ‎selama ini dikenal memiliki udara bersih sekalipun, seperti Jagakarsa, Jakarta Selatan, bisa tercemar.

"Pencemaran udara tergantung arah angin. Kita dulu nyatakan Jagakarsa dengan udara bersih karena daerah ini banyak tumbuhan dan pemukiman, namun kenyataannya daerah ini pernah tidak sehat karena disebabkan ozon," ujar Diah saat dihubungi SINDOnews, Senin (28/8/2017).

Diah menjelaskan, parameter udara disebut kritis ada dua yakni PM10 (debu) dan ozon.‎ "PM10 ini seperti kita ketahui debu, sedang pembangun di Jakarta meningkat, kemacetan meningkat, tumbuhan berkurang, sementara pembangunan butuh lapang," katanya.

Para ahli menyebut angin di Kota Jakarta berhembus dari Utara ke Selatan. Mengingat hal tersebut, kata Diah, pencemaran udara juga terjadi di wilayah Jagakarasa lantaran terbawa angin. (Baca:Polusi Udara di Jakarta Mengkhawatirkan)

"Itu (pencemaran) dibawa angin ke Jagakarsa yang berada di daerah Selatan, dan mungkin di sana (Utara) pas orang pulang kantor jadi macet dan itu berpengaruh. Kemacetan berpengaruh sekali dengan polusi udara," tandasnya.

Suhu udara yang tinggi di Kota Jakarta juga mempengaruhi parameter ozon. Sementara ozon sendiri di udara sudah ada secara alami. Tapi kenapa bisa meningkat? Hal itu disebabkan aktivitas manusia.

"Ozon bereaksi dengan gas dari kendaraan bermotor (NO2). Misalnya macet, itu (kendaraan) mengeluarkan ‎CO dan NO2, nah itu oksigen bereaksi dengan udara jadi O3 (ozon), makanya meningkat. Parameter (udara) kritis itu saya lihat di PM10 dan ozon," pungkasnya.
(whb)
Berita Terkait
Hasil Survei, Warga...
Hasil Survei, Warga Jabodetabek Masih Salah Kaprah Soal Kualitas Udara
Mengenal Apa Itu PM2.5...
Mengenal Apa Itu PM2.5 yang Dikaitkan dengan Masalah Polusi Udara
Paparan Polusi Udara...
Paparan Polusi Udara Bisa Menyebabkan Masalah Pencernaan, Salah Satunya GERD
Merdeka dari Polusi...
Merdeka dari Polusi Udara
Pimpinan MPR: Tanggulangi...
Pimpinan MPR: Tanggulangi Masalah Pencemaran Udara Butuh Kolaborasi Semua Pihak
Charles Honoris Ajak...
Charles Honoris Ajak Warga Terapkan Protokol 6M+1S Hadapi Polusi Udara
Berita Terkini
3 Warga Tewas dan 20...
3 Warga Tewas dan 20 Rumah Rusak Akibat Konflik di Flores Timur, Kemensos Turun Tangan
1 jam yang lalu
Peringatan BMKG: Gelombang...
Peringatan BMKG: Gelombang Tinggi Hantam Sejumlah Perairan Indonesia 20-23 Juli 2026, Ini Daftar Wilayahnya
1 jam yang lalu
Gunung Lewotobi Laki-laki...
Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Pagi Ini, Semburkan Abu Vulkanik 1.600 Meter
2 jam yang lalu
Kabar Duka, Ketua DPRD...
Kabar Duka, Ketua DPRD Kota Tangerang Rusdi Meninggal Dunia
3 jam yang lalu
Hujan Deras Guyur Bogor...
Hujan Deras Guyur Bogor saat Kemarau, BMKG: Dipicu Gangguan Atmosfer Regional
3 jam yang lalu
Rano Karno Jagokan Spanyol...
Rano Karno Jagokan Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Prediksi Unggul Tipis dari Argentina
11 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved