Curhat Perawat Kinara: Baru Kali Ini Aku Meneteskan Air Mata
Selasa, 11 April 2017 - 15:49 WIB
Curhat Perawat Kinara: Baru Kali Ini Aku Meneteskan Air Mata
A
A
A
MEDAN - Demi memulihkan kondisi Kinara (4), balita yang selamat dari pembunuhan satu keluarga di Medan, Sumatera Utara, petugas medis atau perawat RS Bhayangkara Medan melakukan sejumlah upaya. Tak jarang, perawat juga harus berperan menjadi mama bagi Kinara.
"Setiap saat dan setiap dia bangun dari tidurnya, kami harus memberikan perhatian khusus pada anak itu. Dari sekian banyak pasien yang saya tangani, baru kali ini aku meneteskan air mata pada pasien," kata salah seorang perawat Kinara yang enggan disebut namanya, Selasa (11/4/2017).
Perawat tersebut langsung teringat pada anaknya kala melihat Kinara menangis, merintih, dan memanggil mama dan papanya. "Ini soal perasaan, setiap ibu di dunia ini memiliki perasaan yang sama ketika melihat anaknya menangis. Siapa sih yang tega, sanggup melihat anaknya menangis? Itulah yang tak terbayangkan olehku," ujarnya.
Sehingga, saat Kinara menangis, para perawat tanpa dikomando langsung mengambil peran masing-masing agar balita itu tidak terlarut dalam tangisannya. "Kami berusaha yang terbaik agar anak itu tidak menangis. Sebab, jika dia larut dalam tangisannya akan memengaruhi mentalnya ke depan."
Menurutnya, bermain dan memberi mainan serta makanan yang disukai korban itu menjadi tugas dan tanggung jawab para perawat. "Apa pun demi memulihkan kondisi anak itu akan kami lakukan semampu kami. Kami juga merasa sedih, tetapi inilah yang bisa kami lakukan untuk anak itu," pungkasnya.
Sebelumnya, kedua orangtua Kinara yakni Riyanto dan Sri Aryani, kakaknya yaitu Naya dan Gilang, serta neneknya yakni Sumarni, tewas dibantai di rumahnya di Jalan Kayu Putih/Mangaan, Lingkungan XI, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli, Minggu (9/4/2017). Kondisi para korban sangat mengenaskan. (Baca juga: Jangan Sebar Foto Korban Pembunuhan Satu Keluarga dan Kinara ).
"Setiap saat dan setiap dia bangun dari tidurnya, kami harus memberikan perhatian khusus pada anak itu. Dari sekian banyak pasien yang saya tangani, baru kali ini aku meneteskan air mata pada pasien," kata salah seorang perawat Kinara yang enggan disebut namanya, Selasa (11/4/2017).
Perawat tersebut langsung teringat pada anaknya kala melihat Kinara menangis, merintih, dan memanggil mama dan papanya. "Ini soal perasaan, setiap ibu di dunia ini memiliki perasaan yang sama ketika melihat anaknya menangis. Siapa sih yang tega, sanggup melihat anaknya menangis? Itulah yang tak terbayangkan olehku," ujarnya.
Sehingga, saat Kinara menangis, para perawat tanpa dikomando langsung mengambil peran masing-masing agar balita itu tidak terlarut dalam tangisannya. "Kami berusaha yang terbaik agar anak itu tidak menangis. Sebab, jika dia larut dalam tangisannya akan memengaruhi mentalnya ke depan."
Menurutnya, bermain dan memberi mainan serta makanan yang disukai korban itu menjadi tugas dan tanggung jawab para perawat. "Apa pun demi memulihkan kondisi anak itu akan kami lakukan semampu kami. Kami juga merasa sedih, tetapi inilah yang bisa kami lakukan untuk anak itu," pungkasnya.
Sebelumnya, kedua orangtua Kinara yakni Riyanto dan Sri Aryani, kakaknya yaitu Naya dan Gilang, serta neneknya yakni Sumarni, tewas dibantai di rumahnya di Jalan Kayu Putih/Mangaan, Lingkungan XI, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli, Minggu (9/4/2017). Kondisi para korban sangat mengenaskan. (Baca juga: Jangan Sebar Foto Korban Pembunuhan Satu Keluarga dan Kinara ).
(zik)