Gugat SK KPU, Tim Anies-Sandi Sindir Petahana Cari Panggung Baru
Jum'at, 17 Maret 2017 - 14:02 WIB
Gugat SK KPU, Tim Anies-Sandi Sindir Petahana Cari Panggung Baru
A
A
A
JAKARTA - Sekretaris tim pemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, Syarif menyindir pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat, yang sengaja mencari banyak panggung dalam menghadapi kontestasi putaran kedua Pilgub DKI Jakarta.
Hal itu lantaran tim pemenangan Ahok-Djarot menggugat terbitnya Surat Keputusan KPU DKI Jakarta Nomor 49/Kpts/KPU-Prov-010/Tahun 2017 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Tahun 2017 putaran kedua.
"Menurut saya ini merupakan cara mereka dalam mencari panggung baru setelah mereka jenuh menghadapi penerimaan dari masyarakat DKI," kata Syarif saat berbincang kepada Okezone, Jumat (17/3/2017).
Syarif menuturkan, panggung pertama yang di-setting tim pemenangan Ahok-Djarot dengan mencari simpatik publik lantaran merasa dizalimi saat rapat pleno penetapan pasangan calon gubernur-wakil gubernur untuk Pilkada DKI putaran kedua, di Hotel Borobudur, Sabtu 4 Maret 2017 malam. Keduanya pun memilih "walk out" dari lokasi.
"Kemarin juga petahana merasa dizalimi dan merasa tidak dilayani. Kalau saya berkomentar mereka akan terus mencari ruang dan waktu yang tepat dengan cara apapun dalam rangka mencari simpatik publik," imbuhnya.
Ia menambahkan, bahwa tim pemenangan petahana juga sengaja membuat kegaduhan setelah menghadirkan Ketua KPU DKI Jakarta, Sumarno bersama dengan Ketua Bawaslu Jakarta Mimah Susanti dalam rapat internal tim pemenangan Ahok-Djarot di Hotel Novotel, Jakarta, Kamis 9 Maret 2017 malam.
"Ini kan membuat gaduh dengan pemberitaan KPU seakan tidak netral. Saya melihatnya biasa saja dan tidak menganggu tapi tetap di goreng saja di media," katanya.
Hal itu lantaran tim pemenangan Ahok-Djarot menggugat terbitnya Surat Keputusan KPU DKI Jakarta Nomor 49/Kpts/KPU-Prov-010/Tahun 2017 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Tahun 2017 putaran kedua.
"Menurut saya ini merupakan cara mereka dalam mencari panggung baru setelah mereka jenuh menghadapi penerimaan dari masyarakat DKI," kata Syarif saat berbincang kepada Okezone, Jumat (17/3/2017).
Syarif menuturkan, panggung pertama yang di-setting tim pemenangan Ahok-Djarot dengan mencari simpatik publik lantaran merasa dizalimi saat rapat pleno penetapan pasangan calon gubernur-wakil gubernur untuk Pilkada DKI putaran kedua, di Hotel Borobudur, Sabtu 4 Maret 2017 malam. Keduanya pun memilih "walk out" dari lokasi.
"Kemarin juga petahana merasa dizalimi dan merasa tidak dilayani. Kalau saya berkomentar mereka akan terus mencari ruang dan waktu yang tepat dengan cara apapun dalam rangka mencari simpatik publik," imbuhnya.
Ia menambahkan, bahwa tim pemenangan petahana juga sengaja membuat kegaduhan setelah menghadirkan Ketua KPU DKI Jakarta, Sumarno bersama dengan Ketua Bawaslu Jakarta Mimah Susanti dalam rapat internal tim pemenangan Ahok-Djarot di Hotel Novotel, Jakarta, Kamis 9 Maret 2017 malam.
"Ini kan membuat gaduh dengan pemberitaan KPU seakan tidak netral. Saya melihatnya biasa saja dan tidak menganggu tapi tetap di goreng saja di media," katanya.
(ysw)