Polisi Eksekusi Mati 1 dari 10 Pengedar Kiloan Narkoba Senilai Rp11 M
Senin, 30 Januari 2017 - 18:15 WIB
Polisi Eksekusi Mati 1 dari 10 Pengedar Kiloan Narkoba Senilai Rp11 M
A
A
A
JAKARTA - Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Barat mengeksekusi mati, BT, satu dari 10 pengedar narkoba yang berusaha melawan saat dilakukan penangkapan di kawasan Asahan, Sumatra Utara, Kamis (24/1/2017).
Selain BT, dua rekannya, AY dan AD juga terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas di bagian kaki sisi kiri. Dua pengedar narkoba ini mencoba melarikan diri pada saa dilakukan pemborgolan. "Keduanya kemudian kami terbangkan dengan luka tembak ke Jakarta," tutur Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Suhermanto, Senin (30/1/2017).
Dari jaringan ini, polisi sendiri berhasil mengamankan tujuh orang lainnya dua di antaranya wanita, yakni DC, LA, AV, FR, RA, ES, dan AS. Bersamaan dengan kesepuluh pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti, 1,8 kg tembakau gorila, sabu 7,2 kg, dan pil happy five 600 butir senilai Rp 11 miliar.
Demi meringkus jaringan ini, pihaknya melakukan patroli Cyber selama kurun waktu dua pekan. Berbagai media sosial seperti instagram dan facebook di telusuri untuk mendapatkan jaringan ini. Sebab, jaringan ini menjualkan barang jenis tembakau Gorila melalui medsos.
"Kami juga melakukan penyamaran seolah ingin melakukan pembelian," tutur Suhermanto, sembari menjelaskan tiga pelaku awal, FR, AV, dan LA diamankan di kawasan Cipinang, Jakarta Timur.
Di penggrebekan itu pula, petugas mengamankan 1,8 kg bubuk coklat mengandung AB - Fubicana yang digunakan untuk bahan pembuatan tembakau Gorila beserta beberapa paket siap edar. "Tembakau ini tersimpan rapih, dan siap di kirimkan ke kota kota besar melalui barang ekspedisi," tambahnya.
Melalui informasi yang berhasil dihimpun, polisi kemudian mengembangkan kasus ini. Termasuk berhasil mengindikasi akan adanya pengiriman paket narkoba sabu dari Ghuangzou - Malaysia untuk dikirimkan ke Jakarta melalui Tanjung Balai, Sumatra Utara.
Berbekal informasi itu, polisi kemudian memutuskan peredaran dengan terbang ke Sumatra Utara. Empat pelaku berhasil diamankan, satu di antara harus tertembak mati saat mencoba melawan petugas dengan menabrakan kendaraannya. "Kami juga saat ini tengah memburu tiga orang lain yang diduga menjadi bandar dan otak dari jaringan ini," ucap Suhermanto.
Selain BT, dua rekannya, AY dan AD juga terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas di bagian kaki sisi kiri. Dua pengedar narkoba ini mencoba melarikan diri pada saa dilakukan pemborgolan. "Keduanya kemudian kami terbangkan dengan luka tembak ke Jakarta," tutur Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Suhermanto, Senin (30/1/2017).
Dari jaringan ini, polisi sendiri berhasil mengamankan tujuh orang lainnya dua di antaranya wanita, yakni DC, LA, AV, FR, RA, ES, dan AS. Bersamaan dengan kesepuluh pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti, 1,8 kg tembakau gorila, sabu 7,2 kg, dan pil happy five 600 butir senilai Rp 11 miliar.
Demi meringkus jaringan ini, pihaknya melakukan patroli Cyber selama kurun waktu dua pekan. Berbagai media sosial seperti instagram dan facebook di telusuri untuk mendapatkan jaringan ini. Sebab, jaringan ini menjualkan barang jenis tembakau Gorila melalui medsos.
"Kami juga melakukan penyamaran seolah ingin melakukan pembelian," tutur Suhermanto, sembari menjelaskan tiga pelaku awal, FR, AV, dan LA diamankan di kawasan Cipinang, Jakarta Timur.
Di penggrebekan itu pula, petugas mengamankan 1,8 kg bubuk coklat mengandung AB - Fubicana yang digunakan untuk bahan pembuatan tembakau Gorila beserta beberapa paket siap edar. "Tembakau ini tersimpan rapih, dan siap di kirimkan ke kota kota besar melalui barang ekspedisi," tambahnya.
Melalui informasi yang berhasil dihimpun, polisi kemudian mengembangkan kasus ini. Termasuk berhasil mengindikasi akan adanya pengiriman paket narkoba sabu dari Ghuangzou - Malaysia untuk dikirimkan ke Jakarta melalui Tanjung Balai, Sumatra Utara.
Berbekal informasi itu, polisi kemudian memutuskan peredaran dengan terbang ke Sumatra Utara. Empat pelaku berhasil diamankan, satu di antara harus tertembak mati saat mencoba melawan petugas dengan menabrakan kendaraannya. "Kami juga saat ini tengah memburu tiga orang lain yang diduga menjadi bandar dan otak dari jaringan ini," ucap Suhermanto.
(pur)